tag:blogger.com,1999:blog-251170122009-05-10T16:26:23.670+07:00÷ cerita dakwah kampus ÷merapikan serpihan-serpihan cerita hikmah dalam perjalanan manusia di dakwah kampuscerita dakwah kampushttp://www.blogger.com/profile/10257354379333001642noreply@blogger.comBlogger59125tag:blogger.com,1999:blog-25117012.post-1155135698582732602008-01-31T21:57:00.000+07:002008-01-30T16:20:11.075+07:00Sepucuk Surat dari Sahabat Dakwah FSLDK (We Miss U)<p style="MARGIN-RIGHT: -36pt; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:georgia;" ><span style="font-size:100%;"><span lang="IN">Hujan semakin deras mengguyur Depok. Jaket hijauku kurapatkan ke tubuh. Masjid Ukhuwwah UI cukup sepi, hanya beberapa orang ikhwan terlihat asyik menekuri mushaf Al-Quran di lantai bawah. Aku tidak mungkin balik ke Surabaya hari ini, karena besok masih ada bahan proposal yang harus aku cari di perpustakaan. Alhamdulillah, ada adik ikhwan teman seperjuangan FSLDKN XII yang akan menjemput. <?xml:namespace prefix = o /><o:p></o:p></span></span></p><p style="MARGIN-RIGHT: -36pt; FONT-FAMILY: georgia; TEXT-ALIGN: justify"><span style="font-size:100%;"><span lang="IN">Sekedar mengusir sepi, kuayun langkah ke arah mading. ‘Info FSLDK’, tulisan itu segera menyita perhatianku. FSLDK kembali mengadakan aksi serentak penolakan terhadap pelarangan jilbab di sekolah negeri oleh pemerintah Perancis. Targetnya Kedubes Perancis untuk Indonesia ‘di-PHK’. Wonderfull! Ghirahku menggelora. Aku ingat semua kenangan setahun lalu, suka duka FSLDKN XII.<o:p></o:p></span></span></p><p style="MARGIN-RIGHT: -36pt; FONT-FAMILY: georgia; TEXT-ALIGN: justify"><span style="font-size:100%;"><span lang="IN">“Afwan Mas, ana telat”. Suara seorang ikhwan mengagetkanku. Beriringan kami menuju mobil di depan gerbang mesjid. Di sepanjang jalan, Ahmad dengan sedih bercerita tentang kondisi tim FSLDK sekarang yang kurang semangat, kurang solid dan sederet kondisi lainnya. “Untuk mengkoordinir aksi jilbab Perancis itu saja sulit”, katanya. <o:p></o:p></span></span></p><p style="MARGIN-RIGHT: -36pt; FONT-FAMILY: georgia; TEXT-ALIGN: justify"><span style="font-size:100%;"><span lang="IN">Rona sedih mulai membayang di wajahku. Teringat betapa ikhwah-ikhwah sebelumnya yang penuh ghirah mengemban amanah ini. Aku ingat, waktu itu juga kami sempat mengalami ‘kelemahan ghirah’, sampai seorang ukhti mempersembahkan sebuah rangkaian kata mutiara yang tersusun indah, sebuah taushiyah. Seorang ukhti yang selalu mengusung amanah dakwah dengan penuh ghiroh jihad, walaupun kanker tengah menggerogoti tubuhnya. Semoga Allah merahmatimu di FirdausNya, ukhti fillah!<o:p></o:p></span></span></p><p style="MARGIN-RIGHT: -36pt; FONT-FAMILY: georgia; TEXT-ALIGN: justify"><span style="font-size:100%;"><span lang="IN">Untuk antum yang sedang mengemban amanah di Lembaga Dakwah Kampus –bersama Forum Silaturrahminya- serta antum yang mengemban amanah di wajihah mana pun, kubuka kembali copy surat taushiyah yang masih kusimpan indah sampai hari ini. Semoga untaian hikmahnya menyalakan kembali ghiroh juang kita, di wajihah mana pun kita.<o:p></o:p></span></span></p><p style="MARGIN-RIGHT: -36pt; FONT-FAMILY: georgia; TEXT-ALIGN: justify"><span style="font-size:100%;"><span lang="IN">Bismillahirrahmanirrahim<span style="font-size:0;"> </span><o:p></o:p></span></span></p><p style="MARGIN-RIGHT: -36pt; FONT-FAMILY: georgia; TEXT-ALIGN: justify"><span style="font-size:100%;"><span lang="IN">Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh<o:p></o:p></span></span></p><p style="MARGIN-RIGHT: -36pt; FONT-FAMILY: georgia; TEXT-ALIGN: justify"><span style="font-size:100%;"><span lang="IN">Subhanallah, nahmaduhu wa nastaghfiruhu, Ash-sholatu wassalamu ‘ala rasuluhu, Muhammad SAW. <o:p></o:p></span></span></p><p style="MARGIN-RIGHT: -36pt; FONT-FAMILY: georgia; TEXT-ALIGN: justify"><span style="font-size:100%;"><span lang="IN">Ana awali tulisan ini dengan merangkai basmalah dan istighfar, semoga Allah menjaga untaian kata ini dari berbagai fitnah, dan menjadikannya semata untuk perbaikan dakwah. Sebab, pada Allah lah semuanya bermuara. Nur-Nya lah yang akan mampu menunjuki kita pada perbaikan kualitas dalam mengemban amanah mewarisi misi para Nabi ini, Insya Allah. <o:p></o:p></span></span></p><p style="MARGIN-RIGHT: -36pt; FONT-FAMILY: georgia; TEXT-ALIGN: justify"><span style="font-size:100%;"><span lang="IN">Bersama bait-bait nada ‘La Tas-aluni’ dari klub nasyid Tarbiyah, ana menekan tuts-tuts keyboard, mengajak kita semua merenungi kembali dan bertanya kembali tentang kehidupan kita ini. “La tas-aluni ‘an hayati, fahia asrorul hayat …” (Jangan kalian tanya tentang hidupku. Ia adalah kehidupan yang penuh misteri... )<o:p></o:p></span></span></p><p style="MARGIN-RIGHT: -36pt; FONT-FAMILY: georgia; TEXT-ALIGN: justify"><span style="font-size:100%;"><span lang="IN">Kesempurnaan adalah sebuah hal yang mustahil kita raih, dalam kapasitas apa pun. Namun, cukup lah ke-Maha Sempurna-an Allah menjadi motivasi bagi kita untuk terus meningkatkan kualitas amal kita. Karena, kita bergantung kepada zat yang Maha Sempurna, akan kah kita ‘merasa nyaman’ dengan berbagai kekerdilan diri kita tanpa upaya perbaikan yang kontinyu?<o:p></o:p></span></span></p><p style="MARGIN-RIGHT: -36pt; FONT-FAMILY: georgia; TEXT-ALIGN: justify"><span style="font-size:100%;"><span lang="IN">Ikhwah,<br />FSLDK adalah sebuah amanah besar yang ada di pundak kita saat ini, dan di sekeliling kita, begitu banyak ikhwah yang setia menanti karya-karya besar kita untuk akselarasi dan sinergisasi gerak dakwah lewat wajihah Lembaga Dakwah Kampus ini. Perjalanan amanah ini menuntut profesionalisme kerja dari kita semua. Amanah yang nantinya akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah.<o:p></o:p></span></span></p><p style="MARGIN-RIGHT: -36pt; FONT-FAMILY: georgia; TEXT-ALIGN: justify"><span style="font-size:100%;"><span lang="IN">Ikhwah,<br />Adalah layak untuk kita mengevaluasi perjalanan amanah kita sampai hari ini. Sudah optimalkah kita menjalankan amanah kita? Puluhan juta, bahkan ratusan juta dana yang kita habiskan tiap dwitahunan dalam washilah FSLDK, adakah itu sebanding dengan manfaat yang kita peroleh dalam penataan LDK se-Indonesia? Mari membuat daftar pertanyaan sebanyaknya!<o:p></o:p></span></span></p><p style="MARGIN-RIGHT: -36pt; FONT-FAMILY: georgia; TEXT-ALIGN: justify"><span style="font-size:100%;"><span lang="IN">Ikhwah,<br />Kalau jawabnya kita belum optimal, apa penyebabnya? Apakah pemahaman kita tentang washilah ini yang kurang, kemampuan kita kah yang terbatas, atau –naudzu billah- ruh dakwah kita kah yang mulai hambar? Kalau jawabnya tidak sebanding, apa yang harus kita lakukan? Manajemen kita kah yang harus diperbaiki, atau memang washilah ini kurang tepat guna?<o:p></o:p></span></span></p><p style="MARGIN-RIGHT: -36pt; FONT-FAMILY: georgia; TEXT-ALIGN: justify"><span style="font-size:100%;"><span lang="IN">Mari cari jawaban dari tiap pertanyaan itu!<o:p></o:p></span></span></p><p style="MARGIN-RIGHT: -36pt; FONT-FAMILY: georgia; TEXT-ALIGN: justify"><span style="font-size:100%;"><span lang="IN">Ikhwah,<br />Ana –dan ana yakin antum juga- punya sebuah ‘mimpi indah’. Mimpi yang membuat ana sedih, ketika di pagi hari ana dihadapkan pada kenyataan bahwa ana harus membuka jendela kamar. Kesedihan yang kemudian ana sadari semestinya menjadi bahan bakar ruh jihad dan nafas harokah islamiyyah. Antum tau, ketika itu aroma yang tertangkap oleh indera pembau adalah aroma kering … aroma kelelahan zaman menanti hadirnya sosok-sosok mujahid dakwah yang mengusung SEMANGAT BARU, menapaki jejak-jejak pemuda Ash-Habul Kahfi mencari ridho Ilahi. <o:p></o:p></span></span></p><p style="MARGIN-RIGHT: -36pt; FONT-FAMILY: georgia; TEXT-ALIGN: justify"><span style="font-size:100%;"><span lang="IN">‘Kegelisan zaman itu seakan berbisik lewat angin yang berhembus perlahan, bersama mentari yang mengintip malu di balik awan. Dia bergumam: kapan kah gerangan para warotsatul anbiya’ itu berteriak lantang untuk menebar semerbak harum syariat Islam di bumi ini?<o:p></o:p></span></span></p><p style="MARGIN-RIGHT: -36pt; FONT-FAMILY: georgia; TEXT-ALIGN: justify"><span style="font-size:100%;"><span lang="IN">SEMANGAT BARU JEJAK PEMUDA ASH-HABUL KAHFI MENCARI RIDHO ILAHI …………………….<o:p></o:p></span></span></p><p style="MARGIN-RIGHT: -36pt; FONT-FAMILY: georgia; TEXT-ALIGN: justify"><span style="font-size:100%;"><span lang="IN">Mimpi itu ikhwah, ana yakin bukan lah cerita negeri dongeng, atau lakon kartun yang utopi. Mimpi itu hanyalah sebuah harapan sederhana, yang berkisah tentang dakwah yang semerbak, bak bunga-bunga mekar di taman firdaus. <o:p></o:p></span></span></p><p style="MARGIN-RIGHT: -36pt; FONT-FAMILY: georgia; TEXT-ALIGN: justify"><span style="font-size:100%;"><span lang="IN">Bayangkan ……………..<o:p></o:p></span></span></p><p style="MARGIN-RIGHT: -36pt; FONT-FAMILY: georgia; TEXT-ALIGN: justify"><span style="font-size:100%;"><span lang="IN">Suatu hari antum terbangun di sepertiga akhir malam, sekitar jam 3 WIB. Setelah memanjatkan doa, antum bangkit dan beranjak ke kamar mandi. Air wudhu mengaliri anggota tubuhnya meninggalkan kesejukan yang lembut. Lalu pakaian sholat yang harum mulai antum rapikan di tubuh yang ringkih ini. Sesaat sebelum lafaz niat qiyamullail antum lantunkan, indera pendengar antum menangkap sayup-sayup suara tangis yang syahdu menyayat hati. Subhanallah, suara itu milik tetangga sebelah kanan rumah yang sedang qiyamul lail juga. Bukan suara tangis menahan malu karena aib yang tercoreng akibat pergaulan anak gadisnya, bukan pula korupsi yang dilakukan sang ayah atau sejenisnya. Antum pun tertegun sesaat, sembari menggeser posisi sajadah yang mulai ‘kumal’ di ujungnya, pertanda sering dipakai sujud. <o:p></o:p></span></span></p><p style="MARGIN-RIGHT: -36pt; FONT-FAMILY: georgia; TEXT-ALIGN: justify"><span style="font-size:100%;"><span lang="IN">Tarikan nafas perlahan berusaha menghadirkan segenap molekul tubuh, dalam ‘perjalanan cinta’ yang akan antum lakukan, menemui zat yang antum akui sebagai Ilah, zat yang padaNya, semua harap dan cinta bermuara. “Yaa ayyuhal-ladziina aamanuu, hal adullukum ‘alaa tijaarotin tunjiikum min ‘adzabin aliim? Tu’minuuna billaahi wa rosuulihii wa tujaahiduuna fi sabiilillah …” lamat-lamat lantunan kalam ilahi itu kembali menyita perhatian antum. Suara itu mengalun syahdu diiringi sesekali isak tangis, seirama dengan tiap kata yang terucap. Pemiliknya tak lain adalah pemuda tetangga sebelah kiri rumah antum.<o:p></o:p></span></span></p><p style="MARGIN-RIGHT: -36pt; FONT-FAMILY: georgia; TEXT-ALIGN: justify"><span style="font-size:100%;"><span lang="IN">Perniagaan yang menguntungkan … Rabb … indah nian ni’matMu pada kami yang hina ini. Takbiratul ihram pun antum lantunkan penuh kasyahdua., Kesyahduan yang membawa rindu membuncah, bertemu dengan Rabb sekalian alam.<br /></span></span></p><p style="MARGIN-RIGHT: -36pt; FONT-FAMILY: georgia; TEXT-ALIGN: justify"><span style="font-size:100%;"><span lang="IN">Suara adzan di masjid mengakhiri untaian do’a panjang antum. Sebuah doa yang berisi pengaduan akan begitu banyak kelemahan dan kesalahan diri, dalam mengemban amanah menjadi khalifah Allah di bumi, amanah yang sebelumnya ditolak oleh seluruh langit dan bumi. Do’a itu berharap pula akan pertolongan Allah untuk para mujahidun di berbagai belahan bumi. Mereka … para pahlawan sejati yang telah menukar Ridha Allah dengan harta, tenaga, dan jiwa mereka. <o:p></o:p></span></span></p><p style="MARGIN-RIGHT: -36pt; FONT-FAMILY: georgia; TEXT-ALIGN: justify"><span style="font-size:100%;"><span lang="IN">Mereka … para petarung yang tak pernah surut walau selangkah, dan tak pernah henti walau sejenak. Mereka yang dengan lantang selalu meneriakkan: ALLAHU AKBAR!!! Dalam tiap ritme perjuangannya.<o:p></o:p></span></span></p><p style="MARGIN-RIGHT: -36pt; FONT-FAMILY: georgia; TEXT-ALIGN: justify"><span style="font-size:100%;"><span lang="IN">Hampir saja antum tidak mendapat tempat dalam barisan jamaah shalat shubuh, karena antum tiba terlambat, tepat saat muadzzin membaca iqomat. Seluruh jamaah berdiri dalam shaf yang rapi. Pakaian rapi melengkapi wajah-wajah teduh yang selalu terbasuh air wudhu itu. Allah … serasa shalat bersama jamaah para shahabat, degan Rasulullah SAW menjadi sang imam. Kerinduan akan jannahNya semakin membuncah. <o:p></o:p></span></span></p><p style="MARGIN-RIGHT: -36pt; FONT-FAMILY: georgia; TEXT-ALIGN: justify"><span style="font-size:100%;"><span lang="IN">Jam menunjukkan pukul tujuh ketika antum membaca doa keluar rumah, dan mengawali langkah dengan kaki kanan. Antum akan menuju kampus hari ini. Di halte, bus kampus berhenti ‘menjemput’ antum. Dengan riang antum menyapa pak sopir lewat salam : “assalamu’alaikum pak, shobahal khoir …”. Tentu antum tak perlu berkelit kesana kemari menghindari bersentuhan dengan non-mahrom, karena bus hanya terisi kaum sejenis dengan antum; Tak Ada Ikhtilath! <o:p></o:p></span></span></p><p style="MARGIN-RIGHT: -36pt; FONT-FAMILY: georgia; TEXT-ALIGN: justify"><span style="font-size:100%;"><span lang="IN">Sampai di kampus, antum menikmati kuliah dengan tenang, tanpa harus khawatir akan terkena zina mata, zina hati de-el-el, karena semuanya berjalan dalam sebuah sistem qurani. Setiap bahasan akan mampu meningkatkan ruhiyah antum. Satu lagi … semua fasilitas dapat antum nikmati GRATIS!, karena zakat, infak dan shadaqah kaum muslimin lebih dari cukup untuk membiayai semuanya. SUBHANALLAH ….!!!<o:p></o:p></span></span></p><p style="MARGIN-RIGHT: -36pt; FONT-FAMILY: georgia; TEXT-ALIGN: justify"><span style="font-size:100%;"><span lang="IN">Innamal Mu’minuuna ikhwah … Hari itu antum lalui dengan aktivitas yang membangun ‘kesalihan pribadi dan ummat’. Antum saksikan pula bagaimana Allah memenangkan hambaNya lewat ukhuuwwah yang terangkai indah. ISLAM ADALAH RAHMATAN LIL ‘ALAMIN.<o:p></o:p></span></span></p><p style="MARGIN-RIGHT: -36pt; FONT-FAMILY: georgia; TEXT-ALIGN: justify"><span style="font-size:100%;"><span lang="IN">Sekarang … buka lah mata antum, lihat lah kembali realita! Ternyata, kita belum dalam dunia indah tadi! Kita masih di sini! Di Sumatera, di Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua … yang masih menanti perjuangan para mujahid. Kita masih berjuang di sini! Di FKI Rabbani, Salam, Gamais, JN UKMI, JMMI, Pusdima, Sentra Kerohanian Islam, UKM Birohmah, dan lainnya. Berjuang lewat wajihah LDK tuk sebuah tujuan mulia: TEGAKNYA IZZAH ISLAM WAL MUSLIMUN!<o:p></o:p></span></span></p><p style="MARGIN-RIGHT: -36pt; FONT-FAMILY: georgia; TEXT-ALIGN: justify"><span style="font-size:100%;"><span lang="IN">Dan … perjalanan perjuangan itu ikhwah. Masih jauh … hampir tak bertemu ujung. Penuh aral nan melintang, penuh onak dan duri. Karena Langkah ini adalah langkah-langkah abadi,<br />Menapak tegak laju tanpa henti. Tak pernah rasa rugi menapak jalan ini, Syurga Allah menanti<o:p></o:p></span></span></p><p style="MARGIN-RIGHT: -36pt; FONT-FAMILY: georgia; TEXT-ALIGN: justify"><span style="font-size:100%;"><span lang="IN">Sekali lagi ikhwah, kita masih di sini! Di jalan dakwah ini! Kita di sini untuk berjuang! Setia mengusung cita: HIDUP MULIA ATAU SYAHID MENGGAPAI SYURGA! <o:p></o:p></span></span></p><p style="MARGIN-RIGHT: -36pt; FONT-FAMILY: georgia; TEXT-ALIGN: justify"><span style="font-size:100%;"><span lang="IN">Karena itu ikhwah … Mari berkarya, dengan yang terbaik yang kita punya tentunya. Jangan pernah malas dan jemu berkorban untuk perniagaan ini! Berjuanglah ikhwah! Dan teruslah berjuang! Sampai Allah, RasulNya dan orang-orang mukmin menjadi saksi akan perjuangan itu. AllahuAkbar!!!</span></span></p><p style="MARGIN-RIGHT: -36pt; FONT-FAMILY: georgia; TEXT-ALIGN: justify"><span style="font-size:100%;"><span style="FONT-STYLE: italic">ukhti uni</span><br /><span style="FONT-STYLE: italic">Eramuslim, 19/02/2004</span><br /></span></p><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25117012-115513569858273260?l=ceritadk.blogspot.com'/></div>cerita dakwah kampushttp://www.blogger.com/profile/10257354379333001642noreply@blogger.com2tag:blogger.com,1999:blog-25117012.post-77184342998258153232008-01-11T15:51:00.000+07:002008-01-11T15:54:58.987+07:001429 HijriyahSelamat Tahun Baru Islam 1429 H.<br />Sejauh mana langkah yang sudah kita ayun di tahun-tahun yang berlalu?<br /><br />Seringkali perubahan adalah sesuatu yang begitu sulit dilakukan.<br />Ayyuhal ikhwah... mari kita saling mengingatkan...<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25117012-7718434299825815323?l=ceritadk.blogspot.com'/></div>Edwardsnoreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-25117012.post-1170384605636581142007-10-22T09:45:00.000+07:002007-10-21T17:19:43.253+07:00Kisah Ramadhan<span class="fullpost">"Ramadhan di kampus gimana,Mba?"aku memulai percakapan. </span><br /><span class="fullpost">Kulihat ia terdiam sebelum akhirnya memutuskan untuk menjawab pertanyaanku. "Ramadhan saya..."</span><br /><span class="fullpost">***</span><br /><span class="fullpost">Aku sudah melakukan antisipasi mengingat bahwa jadwal kuliahku tidak akan jadi lebih longgar walaupun sekarang bulan suci Ramadhan. Setiap waktu luang di sela-sela mata kuliah akan kuisi dengan tilawah,tahfidz. Toh, ritme tilawahku udah meningkat mulai Rajab kemarin.Tapi,tidak akan kuporsir terlalu banyak.Lagian aku tidak mau malah jadi menzhalimi diri sendiri, kalau aku memaksakan untuk melakukan hal yang 'dahsyat'.Aku sudah melihat jadwal perkuliahan, libur Ramadhan insyaAllah akan mulai seminggu sebelum Idul Fitri. Ya ,di minggu terakhir Ramadhan , yang di salah satu malamnya adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan, aku bertekad untuk beribadah semaksimal mungkin. </span><br /><span class="fullpost"></span><br /><span class="fullpost">Toh saat itu aku sudah tidak dipusingkan oleh jadwal UTS dan tugas-tugas kuliah yang menumpuk.Minggu pertama berlalu...Ibadahku alhamdulillah masih terjaga, ya itu tadi, karena targetannya tidak terlalu tinggi. Daripada menargetkan tinggi-tinggi,malah stress kalau tidak kesampaian.Minggu kedua juga lewat, aku baru menyelesaikan satu UTS. Ibadahku mulai keteteran, shalat tarawih terlewat gara-gara kecapean. Duh, baru satu UTS. Serem juga kalo begini terus. Aku memutar otak , gimana ya, supaya keteledoranku tidak berlanjut.Minggu ketiga, saat Allah memberiku jatah untuk istirahat. Sekalian introspeksi. </span><br /><span class="fullpost"></span><br /><span class="fullpost">Tapi tetap saja, aku malah disibukkan dengan titipan-titipan yang harus kubawakan untuk orang rumah. Insya Allah, besok aku harus lebih baik, tekadku kuat.Minggu keempat, di rumahKulihat jadwal i'tikaf yang diberikan masjid dekat rumahku. Masih terngiang suara temanku di telepon tadi, menanyakan kesedianku untuk i'tikaf bersamanya. Ah, andai aku bisa. Sudah dua hari ini perutku tidak bisa diajak kompromi, aku muntah-muntah. Badanku lemas sekali. Aku sempat memaksa ibuku agar mengizinkanku beri'tikaf malam ini, tapi beliau tidak setuju. </span><br /><span class="fullpost"></span><br /><span class="fullpost">Benar saja, malamnya perutku kambuh lagi. Tak terbayangkan kalau aku sedang beri'tikaf malam ini. Bukannya menambah kedekatan diri dengan Allah, bisa-bisa aku malah merepotkan jamaah lain yang sedang khusyu beri'tikaf.Aku sempat berpikir. Apa salahku, Ya Rabb. Sampai-sampai Engkau tidak mengizinkanku meraih pahala berlipat ganda di bulan penuh barokah ini.Ramadhanku yang ingin ku maksimalkan di akhirnya serasa kosong saja.Tapi,aku yakin , selalu ada hikmah dari tiap kejadian yang kualami. </span><br /><span class="fullpost">***</span><br /><span class="fullpost"></span><br /><span class="fullpost">Kulihat wajahnya jadi sedikit murung, tapi seketika berubah cerah. "Saya jadi tersadarkan, De.Sekalipun persiapan kita sudah optimal dari bulan Rajab, kita tetap saja tidak bisa melawan ke Mahakuasaannya Allah.Kalau semua yang kita rencanakan ternyata nggak sama dengan rencana Allah, kita bisa apa? Banyak orang merasa sudah siap menyambut Ramadhan, salah satunya saya. Tapi, nyatanya... Allah sangat baik, jadi Ia menegur saya lewat penyakit, alhamdulillah,saya bersyukur karena sakitnya saya saat itu. </span><br /><span class="fullpost"></span><br /><span class="fullpost">Makanya,De, jangan pernah menunda suatu hal saat kita bisa melakukan hal itu secepatnya. Sudah dulu ya, saya harus pergi."ujarnya sambil menyalamiku.Sosoknya mulai menjauh dari tempat dudukku. Tapi, kata-katanya masih dan akan selalu melekat dalam hatiku. Rajab baru saja usai, berarti Ramadhan kurang dari sebulan lagi. Allahumma ballighna fii Ramadhan, sampaikan aku pada Ramadhan kali ini Ya Rabb, karena seluruh upayaku tak akan ada artinya dibandingkan kekuasaan mutlak-Mu, Ya Qadiir. </span><br /><span class="fullpost"></span><br /><span class="fullpost"><em>(diubah cara penyampaiannya, dari seorang teman)</em><br /></span><span class="fullpost"></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25117012-117038460563658114?l=ceritadk.blogspot.com'/></div>cerita dakwah kampushttp://www.blogger.com/profile/10257354379333001642noreply@blogger.com2tag:blogger.com,1999:blog-25117012.post-51951347706159376212007-09-02T10:46:00.000+07:002007-09-02T10:47:39.548+07:00Dialog Kawan Seperjuangan, katanya<span style="font-family: trebuchet ms;font-family:Trebuchet MS, sans-serif;font-size:100%;" >Apa arti Mencintai-Nya? </span><p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;"> </p> <p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;"><span style="font-size:100%;">Dan mencintai manusia karena-Nya?</span></p> <p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;"><span style="font-size:100%;">Dengan mudah kau nyatakan cinta </span> </p> <p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;"><span style="font-size: 11pt;font-size:100%;" >Jelaskan padaku apa artiny</span><span style="font-size: 11pt;font-size:100%;" ><span lang="fi-FI">a!</span></span></p> <p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" lang="fi-FI"><span style="font-size:100%;"><br /></span></p> <p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" lang="fi-FI"><span style="font-size: 11pt;font-size:100%;" >Uhibukifillah, apa maksudnya? </span> </p> <p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" lang="fi-FI"><span style="font-size: 11pt;font-size:100%;" >Dimana engkau dan dimana diriNya </span> </p> <p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;"><span style="font-size: 11pt;font-size:100%;" ><span lang="pt-BR">Dalam mencintai dan dicinta</span></span><span style="font-size: 11pt;font-size:100%;" ><span lang="pt-BR">i</span></span></p> <p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" lang="pt-BR"><span style="font-size: 11pt;font-size:100%;" >Pun dimana aku saat berujar cinta </span> </p> <p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" lang="pt-BR"><span style="font-size:100%;"><br /></span></p> <p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" lang="fi-FI"><span style="font-size: 11pt;font-size:100%;" >Bukankah cinta itu..</span></p> <p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" lang="fi-FI"><span style="font-size: 11pt;font-size:100%;" ><i>Pengorbanan</i></span></p> <p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" lang="fi-FI"><span style="font-size: 11pt;font-size:100%;" ><i>Keikhlasan</i></span></p> <p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" lang="fi-FI"><span style="font-size: 11pt;font-size:100%;" ><i>Keberterimaan</i></span></p> <p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" lang="fi-FI"><span style="font-size: 11pt;font-size:100%;" ><i>Perjuangan </i></span> </p> <p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" lang="fi-FI"><span style="font-size: 11pt;font-size:100%;" ><i>Kesetiaan </i></span> </p> <p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" lang="fi-FI"><span style="font-size: 11pt;font-size:100%;" ><i>Kerinduan </i></span> </p> <p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" lang="fi-FI"><span style="font-size: 11pt;font-size:100%;" ><i>Dan ketulusan ? </i></span> </p> <p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" lang="fi-FI"><span style="font-size:100%;"><br /></span></p> <p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" lang="fi-FI"><span style="font-size: 11pt;font-size:100%;" >Tak ada sapu tangan saat kawan mengurai air mata </span> </p> <p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" lang="fi-FI"><span style="font-size: 11pt;font-size:100%;" >Tak ada ucapan selamat saat kawan berbahagia </span> </p> <p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" lang="fi-FI"><span style="font-size: 11pt;font-size:100%;" >Tak ada genggaman tangan saat kawan ketakutan </span> </p> <p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" lang="sv-SE"><span style="font-size: 11pt;font-size:100%;" >Tak ada perlindungan saat menerobos medan lawan </span> </p> <p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" lang="sv-SE"><span style="font-size: 11pt;font-size:100%;" >Tak ada nasehat saat dirundung awan ujian </span> </p> <p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" lang="sv-SE"><span style="font-size: 11pt;font-size:100%;" >Tak ada cermin untuk menampilkan bayangan </span> </p> <p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" lang="sv-SE"><span style="font-size:100%;"><br /></span></p> <p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" lang="sv-SE"><span style="font-size: 11pt;font-size:100%;" >Ah, maafkan aku kawan </span> </p> <p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" lang="sv-SE"><span style="font-size: 11pt;font-size:100%;" >Ternyata diri ini masih belum paham </span> </p> <p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" lang="sv-SE"><span style="font-size: 11pt;font-size:100%;" >Arti mencintaiNya dan mencintaimu karenaNya</span></p> <p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" lang="sv-SE"><span style="font-size: 11pt;font-size:100%;" >Karena nyatanya kau tak ada saat ku ada</span></p> <p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" lang="fi-FI"><span style="font-size: 11pt;font-size:100%;" >Dan aku tak ada saat kau ada</span></p> <p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" lang="fi-FI"><span style="font-size:100%;"><br /></span></p> <p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" lang="fi-FI"><span style="font-size: 11pt;font-size:100%;" ><i>-maafkan ukhti,,akhi,,</i></span></p> <span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" > </span> <p style="margin-bottom: 0in; font-family: trebuchet ms;" lang="fi-FI"> <span style="font-size: 11pt;font-size:100%;" > </span></p><span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" > </span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25117012-5195134770615937621?l=ceritadk.blogspot.com'/></div>Dikadika.amelia@gmail.com1tag:blogger.com,1999:blog-25117012.post-1170383494338523922007-07-20T14:51:00.000+07:002007-07-20T14:51:46.975+07:00Mereka Menunggu Kita….<div align="justify"><span class="fullpost"><em>” Sesungguhnya seorang da’i, dengan semata-mata menerima hidayah Allah dan lalu bergabung dalam barisan da’wah, telah memilih kepenatan dan menceraikan leha-leha, santai, serta main-main” </em>(Muhammad Ahmad Ar-Rasyid).<br /><br />Sebuah ironi, saat melihat ( baca:anak jalanan), bernyanyi dari pintu ke pintu angkot, tak kenal panas dan hujan. Bukankah seharusnya mereka saat itu duduk tenang dalam kelas atau bermain dengan ceria layaknya anak-anak sebaya mereka. Sementara hampir di seluruh mall besar yang ada di Jakarta dan Bandung tempat parkir yang bertingkat itu masih bisa dipenuhi mobil-mobil mewah. Anehnya lagi barang-barang yang dijual begitu mahalnya, bisa sampai jutaan untuk sebuah tas, food court-nya pun dipenuhi pengunjung, padahal harganya relatif tidak murah. Inikah wajah Indonesia??<br /><br /></span></div><div align="justify"><span class="fullpost">Lalu apakah yang ada di fikiran kita bila melihat data berikut?<br />· Skor IPA dan Matematika Indonesia (2 SMP) berada pada urutan 34 dan 32 di antara 38 negara ( Hasil studi The Third International Mathematics and Science Study 1999)<br />· Lebih dari sejuta pemuda terkena narkoba (Prof.Dadang H, 1998)<br />· Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index) yaitu komposisi peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per kepala, di antara 174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke 112 pada tahun 2002<br />· Data yang dilaporkan The World Economic Forum, Swedia (2000), Indonesia memiliki daya saing rendah, yaitu urutan ke 37 dari 57 negara<br />· Anggaran pendidikan tahun 2002 hanya 10 triliun, sementara untuk penghapusan hutang 30 triliun<br />· Indonesia terpuruk sebagai negeri yang terkorup ke enam di dunia dari 133 negara yang disurvey oleh International Transparency berdasarkan Indeks Persepsi Korupsi ( dengan nilai indeks 1,9) jauh di bawah Malaysia (5,2). Bandingkan dengan negeri yang mayoritas penduduknya non muslim yang relatif bersih seperti Firlandia, Denmark, Singapura, Belanda, yang semuanya dengan indeks di atas 8,8!<br />· Berdasarkan penelitian Yayasan Kita dan Buah Hati, 80 persen anak usia 9-12 tahun di kawasan Jabodetabek sudah pernah mengakses materi pornografi melalui internet, dan berdasarkan data BKKBN pada enam kota di Jawa Barat tahun 2002 sebanyak 39,65 persen remaja usia 15-24 tahun sudah pernah berhubungan seks sebelum menikah.<br /><br />Itulah cermin buruk kondisi negara kita, mungkin tidak hanya itu. Masalah sampah yang tidak ada habisnya (mirisnya lagi gunung sampah itu sempat berada di depan institut terbaik se-Indonesia), pengrusakan hutan, pemukiman kumuh, pro-kontra RUU anti pornografi dan pornoaksi ( bagaimana bisa sebagian kalangan menganggap itu menghalangi kebebasan berekspresi?), koruptor yang tidak terjerat hukum, pelecehan seksual yang bahkan dilakukan oleh anak di bawah umur, berbagai perbuatan kriminal yang selalu terjadi setiap hari (terbukti tayangan kriminal di TV tidak pernah kehabisan berita setiap harinya), konflik antar kampung, gizi buruk, dan sederet masalah lain yang menambah panjang daftar di atas. Pernahkah terfikir apa yang tersisa dari negara ini untuk anak cucu kita nanti? </span></div><span class="fullpost"><div align="justify"><br />Selain itu bencana di berbagai daerah (entah apa rahasia Allah di balik itu semua); Aceh yang belum sepenuhnya pulih pasca tsunami, gempa Yogya dan Jawa Tengah, lumpur panas di Surabaya (berdasarkan data di posko pengungsian Pasar Baru Porong, Sidoarjo, hingga 9 Juli tercatat jumlah pengungsi telah melewati 7.500 jiwa, dan sebagian besar terkena penyakit ISPA), tsunami di Pangandaran ( masih Jawa Barat, terhitung dekat dengan kita), dll menuntut kepedulian bangsa ini jika masih mempunyai hati untuk peduli atas nasib saudaranya..<br /><br />”<em>Barang siapa tidak peduli terhadap urusan kaum muslimin maka ia tidak termasuk golongan mereka”</em> (HR. Ath-Thabrani)<br /><br />Lalu dimana posisi kita? yang notabene mengakui dirinya sebagai da’i, tentu kita bukan sekedar mencari masalah atau mempermasalahkan keadaan, tapi apa yang dapat kita lakukan saat da’wah dihadapkan pada kenyataan seperti itu? Kenyataan bahwa bangsa kita yang mayoritas umat Islam memiliki segudang masalah..bahkan semakin parah menjelang usia kemerdekaannya yang ke- 62 tahun, bulan Agustus ini</div><div align="justify"><br />Bila menengok sejarah masa lampau sesungguhnya keterbelakangan dan keterpurukan bukanlah sifat umat Islam. Dahulu, umat ini menempati posisi terdepan di dunia hampir sepanjang sepuluh abad, lalu kini? Al Ghazali mengungkapkan bahwa kemunduran dan keterpurukan umat Islam antara lain disebabkan pemahaman yang salah terhadap Islam, bodohnya kaum muslimin terhadap dunia, dan kerusakan politik. Mungkin inilah yang perlu kita benahi..<br /><br />”<em>Sesungguhnya pembangunan umat, penempaan bangsa-bangsa, mewujudkan cita-cita, dan membela prinsip, itu semua menuntut adanya kekuatan jiwa yang besar dari umat yang sedang memperjuangkannya, atau paling tidak dari kelompok yang menyerukan hal itu. Kekuatan jiwa itu mewujud dalam bentuk: motivasi yang kuat yang tidak terjangkiti keloyoan; kesetiaan yang tangguh yang tidak dihinggapi kepura-puraan dan pengkhianatan; pengorbanan agung yang tidak terganjal oleh ketamakan dan kekikiran; memahami, meyakini, dan menghormati prinsip yang memeliharanya dari kesalahan, penyimpangan, tawar menawar, dan keterpedayaan</em>” (Hasan Al- Banna).<br /><br />Sekarang tinggal tentukan mimpi kita akan kebangkitan umat ini, melalui medan yang mana kita akan berjuang?? Karena perjuangan tidak berhenti di kampus, saudaraku. Setelah menjadi Aktivis Da’wah Kampus kita akan menjadi Aktivis Da’wah Kantor, Kampung, Keluarga, dll. Umat menunggu kita. Mereka menunggu amal nyata dari kita, tidak sekedar medan kata-kata. Jangan sampai kita tertinggal oleh pergerakan zionis dan kompetitor-kompetitor yang memusuhi islam.</div><div align="justify"><br />Jadi dua kata untuk menjawab tantangan da’wah ke depan: KOMPETENSI dan KONTRIBUSI. Di manapun kita berada setelah keluar dari kampus ini, baik sektor publik, privat, maupun <em>third </em>sector (<em>Non Government Organization</em>), mari azzamkan bahwa kita akan tetap berada di jalan ini, jalan yang menghantarkan kita pada kemuliaan, dan melakukan apapun yang bisa kita perjuangkan untuk perbaikan umat ini agar ilmu tidak hanya berakhir pada selembar transkrip nilai, ijazah, atau kebanggaan saat wisuda apalagi berlindung di balik nama besar.<br /></div><div align="justify">”<em>Jika seandainya ahli ilmu menjaga ilmunya dan mengamalkannya sesuai dengan keahliannya, maka ia akan menguasai orang-orang pada zamannya</em>” ( HR. Ibnu Majah).<br /><br />Sekedar autokritik, Ada di mana kita, sedang apa kita ketika semua bencana terjadi?? Jangan-jangan saat itu kita sedang bersantai, sedang lalai, sibuk dengan diri sendiri, bahkan lupa untuk sekedar mendoakan. Padahal kita adalah Da’i..!!<br /><br />So..”BERGERAKLAH, WAHAI TULANG-TULANG PERKASA..!!!!” (F3)</div><div align="justify"> </div></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25117012-117038349433852392?l=ceritadk.blogspot.com'/></div>cerita dakwah kampushttp://www.blogger.com/profile/10257354379333001642noreply@blogger.com3tag:blogger.com,1999:blog-25117012.post-74495401784680460152007-06-28T21:33:00.000+07:002007-06-28T21:55:25.605+07:00Illusions<span class="fullpost"><br /><br />What should I do first to save these full of illusions' world?<br /><br />Should I ask Chomsky to be my guru?<br />Should I climb the shoulder of Kilimanjaro?<br />Should I contemplate under the Bodh tree?<br />Should I yell to Marlyn Manson "<span style="font-style:italic;">Yaaah!! Stop singing</span>!!"<br />Should I learn kungfu then break Bush's tongue?<br /><br />or...I just need to keep the Faith<br />Then every way will lead me there,<br />a world without illusions of any other Faith<br /><br /><br /><br />*inspired by "Necessary Illusions",-Noam Chomsky<div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25117012-7449540178468046015?l=ceritadk.blogspot.com'/></div>Warastutinoreply@blogger.com2tag:blogger.com,1999:blog-25117012.post-17541641527320548762007-06-28T17:02:00.000+07:002007-06-28T17:05:04.204+07:00Ainun dan Pengajiannya<p class="MsoNormal"><span style="font-size:100%;"><span style="font-size: 10.5pt; font-family: Georgia;">Terkejutlah hari itu Ainun, mendapati apa yang sudah dilakukannya ternyata masih jauh dari apa yang sahabatnya sudah lakukan. Al-Ma’tsurat setiap hari satu kali, 1 juz setiap harinya [walau pun beberapa kali kurang 2-3 lembar] dan sekian amalan lainnya <i style="">bablas</i>…<br />Sahabatnya itu ternyata memiliki amalan yang super dahsyat, hafalan Al-Qur’an. Dan Ainun tak sempat pula berpikir sejauh itu.<o:p></o:p></span></span></p><p class="MsoNormal"><span style="font-size:100%;"><span style="font-size: 10.5pt; font-family: Georgia;"><o:p></o:p>Bukan hanya kali itu, dulu, sahabatnya yang lain pula, menunjukkan makna kesabaran dengan sangat gamblang. Begitu banyak pujian “sabar” disematkan kepada Ainun, namun semua itu rontok tak berbekas demi mendengar perkataan sahabatnya. “Mungkin saja dia terlambat karena kecapean. </span><span style="font-size: 10.5pt; font-family: Georgia;" lang="FI">Sudahlah… <i style="">Toh</i> walau acara kita gagal kali ini, minimal <i style="">ukhuwwah</i> kita tetap terjaga. Nanti kita <i style="">tabayyun</i> saja kepada yang bersangkutan.” Perkataan itu diucapkan dengan tenang, sementara 1 jam lagi acara yang telah dipersiapkan berminggu-minggu akan segera dimulai.<o:p></o:p></span></span></p><p class="MsoNormal"><span style="font-size:100%;"><span style="font-size: 10.5pt; font-family: Georgia;" lang="FI">Mempesona di setiap saat... Demikian kesimpulan Ainun atas sahabat-sahabat barunya itu. Seakan-akan dirinya dipacu untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Dan dengan kecepatan maksimum tentunya. Entah energi macam apa yang ada pada kelompok baru yang menjadi sahabatnya ini. Tersenyum di kala kerunyaman menggunung, bersabar di kala emosi sudah di ubun-ubun, dan tetap <i style="">istiqomah</i> dalam amalan harian yang seringkali dilupakannya dulu. Semenjak saat itulah, hatinya telah jatuh ke dalam persahabatan yang penuh cinta. Persahabatan yang mampu mengubah tutur katanya menjadi sangat santun, terutama kepada orang tuanya. Persahabatan yang tak hanya memupuk kesenangan, tapi juga menimbun sejuta cita tentang masa depan. Persahabatan yang memberikan rahasia sumber energi untuk mencapai citanya. Dan terkuak sudah sedikit jawaban atas pertanyaannya : ”Mau ke mana gerangan hidupmu, Nak?”<o:p></o:p></span></span></p> <p class="MsoNormal"><span style="font-size:100%;"><span style="font-size: 10.5pt; font-family: Georgia;" lang="FI">Dan kini, Ainun telah tumbuh besar. Bergabung dalam gelora perjuangan yang sama dengan sahabat-sahabatnya. Telah didapati pula pertentangan-pertentangan yang tidak sesuai dengan hati nuraninya. Namun ia bersabar... Sama seperti sabarnya gerakan ini mendidik dirinya dulu.<span style=""> </span>Sama seperti sabarnya sahabat-sahabatnya menerima dirinya apa adanya dulu. <o:p> </o:p></span></span></p> <p class="MsoNormal"><span style="font-size:100%;"><span style="font-size: 10.5pt; font-family: Georgia;" lang="FI">Angin terasa semakin besar... Itulah yang akan dirasakan pohon yang semakin tinggi. Sudah <i style="">sunnatullah</i>, tiada guna berkeluh kesah. Maka, seperti biasanya, sore itu dengan riang dia masih berjalan menuju tempat pengajiannya. Masih dengan perasaan rindu yang sama; seminggu sudah tidak bertemu sahabat-sahabatnya yang baru, di kota baru. Tak ia hiraukan hiruk-pikuk fitnah yang bertebaran. Karena ia yakin, patokan ukuran bukanlah insan, melainkan <i style="">manhaj</i>. Karena ia mengetahui pula, sia-sia lah mereka yang berharap pada <i style="">makhluq</i> sementara Yang Abadi menanti di ”ujung jalan”. ”Apalah yang aku risaukan?”, pikir Ainun.. ”Sama seperti yang pernah diungkapkan Hasan al-Bashri, aku pun tak pernah risau dengan amalan orang lain. Cukuplah kulakukan amalku dengan <i style="">itqon</i>, maka perubahan kuyakini akan terjadi.” <o:p></o:p></span></span></p> <p class="MsoNormal"><span style="font-size:100%;"><span style="font-size: 10.5pt; font-family: Georgia;" lang="FI">Langkahnya dipercepat, sudah terbayang candaan2 dengan sahabatnya dan agenda2 yang terumuskan dengan santainya, untuk perbaikan <i style="">ummat</i>; yang sungguh2 sedang ia coba cintai, lebih dari cintanya kepada dirinya... Meniru <i style="">qudwah</i>-nya : Muhammad SAW<o:p><br /></o:p></span></span></p> <p class="MsoNormal"><span style="font-size:100%;"><span style="font-size: 10.5pt; font-family: Georgia;" lang="FI">Catatan :<br />duhai ikhwah... begitu banyak Ainun-Ainun di sekitar kita<o:p></o:p><br />janganlah abaikan energi cintanya karena hanya masalah dunia...<o:p></o:p></span></span></p> <p class="MsoNormal"><span style="font-size:100%;"><i style=""><span style="font-size: 10.5pt; font-family: Georgia;" lang="FI">Astaghfirullah</span></i><span style="font-size: 10.5pt; font-family: Georgia;" lang="FI">...<o:p></o:p></span></span></p> <span style="font-size:100%;"><span style="font-size: 10.5pt; font-family: Georgia;" lang="FI">~ akhukum filLah, masih dengan cinta yang sama ~</span></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25117012-1754164152732054876?l=ceritadk.blogspot.com'/></div>agungnoreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-25117012.post-65317862705398524912007-06-25T10:19:00.000+07:002007-06-25T08:29:21.206+07:00Bercermin pada Ketidak-dewasaan<span lang="IN" style="font-size:100%;"><em>“Ya Rabb, jadikan futurku, bangkitku, tidurku,dan bangunku hikmah”</em></span><span style="font-size:100%;"><strong></strong></span> <p><span lang="IN" style="font-size:100%;"> </span></p> <p style="text-align: justify;"><span lang="IN" style="font-size:100%;">Kali ini saya ingin membahas kembali tentang masalah kedewasaan lagi. Bukan ingin protes atau menggerutu tapi mencoba berbagi hikmah tentang apa yang saya renungkan. Ini tentang keajaiban yang kita sebut “masa kecil”, dan tentang anugerah lainnya yaitu “dewasa”. Dua hal yang sering kita benturkan, seakan-akan sifat <em>childish</em> merupakan “musuh” dari kehidupan sebagai individu dewasa.</span></p> <p style="text-align: justify;"><span style="font-size:100%;"><strong><span lang="IN">Semua itu berawal dari kekuatan dahsyat imajinasi</span></strong></span></p> <p style="text-align: justify;"><span lang="IN" style="font-size:100%;">Pernah kebayang gak seandainya teknologi telekomunikasi gak pernah berkembang, mandeg alat komunikasi kita itu-itu aja. Bayangin gak pernah ada teknologi yang kita sebut GSM, CDMA, GPS, PDA, Wi-fi, atau yang lagi rada booming teknologi Handphone 3G. Bayangin juga seandainya tidak ada laptop atau PC di depan meja kerja kita. Bayangin juga seandainya sampe hari ini hanya ada telegram dan surat sebagai alat kita berkomunikasi antar daerah. Tentunya bagi kita yang sudah terlanjur dimanja dengan teknologi seperti sekarang hal itu serasa mustahil, kayak balik ke zaman batu katanya mah....!!<br /></span></p> <p style="text-align: justify;"><span lang="IN" style="font-size:100%;">Kemarin saya baru saja menonton film dokumenter di Metro TV yang keren abis!!! Film itu cerita tentang rahasia dibalik kemajuan teknologi telekomunikasi, yang secara khusus menyoroti Perusahaan Samsung. Film ini keren banget karena merangkum semua yang secara teoritik telah disampaikan pak Gde Raka di Maninov, Pak Joko Siswanto di Sistem MSDM, dan Pak Iwan di Psikologi Industri. Dengan kata lain, film ini isinya TI banget, tapi disini saya hanya akan membahas aspek rekayasa dan inovasinya aja.</span></p> <p style="text-align: justify;"><span lang="IN" style="font-size:100%;">Berterimakasihlah pada otak-otak kreatif yang membanjiri industri telekomunikasi dengan ide brilian yang tidak habisnya. Tanpa kita sadari dari “kepolosan” imajinasi mereka, kebebasan pikiran mereka dan terutama gejolak kreativitas yang tanpa batas, hal yang dulunya mustahil kini menjadi nyata dan biasa bagi generasi post-modern ini. Itu semua tanpa kita sadari sebenarnya muncul dari pola berpikir kekanak-kanakan mereka, para desainer produk itu. Contoh kecil itu, plus sederet ilmuwan sekelas Newton, Da Vinci, Ibnu Sina bahkan Einstein sekalipun cukup untuk menjadi suatu alasan bahwa imajinasi kekanak-kanakan bukan suatu pantangan untuk menjadi lebih dewasa.</span></p> <p style="text-align: justify;"><span style="font-size:100%;"><strong><span lang="IN">Harmonisasi sisi dewasa dan kanak-kanak kita</span></strong></span></p> <p style="text-align: justify;"><span lang="IN" style="font-size:100%;">Namun kemudian muncul suatu pertanyaan, lalu mengapa ketidakdewasaan menjadi suatu masalah besar bagi sebagian orang. Mengapa kemudian ia seakan menjadi suatu penyakit yang harus dijauhi. Apa dengan meninggalkan sifat kekanak-kanakan kita akan membantu kita untuk semakin berwatak dewasa? Apakah sifat kekanak-kanakan kita adalah aib yang harus dibuang agar kita dapat menjadi manusia seutuhnya. Atau justru orang yang alergi dengan ketidak dewasaan tadi hanyalah orang dungu berpikiran dangkal yang jauh dari kemauan berkembang.</span></p> <p style="text-align: justify;"><span lang="IN" style="font-size:100%;">Sekali lagi menghindar dari menggerutu, kemudian saya pikir justru malah ada hikmahnya Allah memnyisakan sifat ketidak dewasaan dalam pikiran dewasa kita. Justru sifat ketidak dewasaan kita adalah alat kita untuk bercermin menjadi lebih dewasa. Kadang kekakuan pikiran dewasa kita membuat pikiran kita menjadi terlalu rumit dan njelimet dalam melihat masalah. Masalah sekitar kehidupan kita yang ribet itu mungkin saja justru menemukan solusinya dalam imajinasi <em>childish</em> kita yang sederhana, polos dan naif. Terbukti dari studi kasus teknologi HP Samsung diatas.</span></p> <p style="text-align: justify;"><span lang="IN" style="font-size:100%;">Tentunya pendapat saya ini bukan suatu keberpihakan terhadap sifat kekanak-kanakan. Justru baik sisi kanak-kanak kita maupun sisi dewasa kita harus berjalan harmonis agar hidup kita menakjubkan. Keduanya sebaiknya kita lihat sebagai dua sisi mata uang yang saling menguatkan satu sama lain. Karena sisi kekanak-kanakan yang terlalu dominan pun membuat kita rapuh terhadap hantaman masalah hidup. Kita akan dengan mudah terombang-ambing dalam imajinasi kita, sehingga saat berbenturan dengan realita yang kontras kita mudah menyerah, stress, depresi.</span></p> <p style="text-align: justify;"><span lang="IN" style="font-size:100%;">Karena itulah saya berpikir untuk membahas sisi sebaliknya tentang ketidak dewasaan. Sisi gelap dari perilaku kekanak-kanakan yang dapat mengacaukan kehidupan kita, yaitu sikap reaktif. Suatu kelebihan dari pikiran dewasa kita adalah sistematis, runut dan teratur yang menghasilkan sikap proaktif. Hal ini sebenarnya tidak sepenuhnya berlawanan menurut saya, justru dapat berjalan sinergis dan konstruktif.</span></p> <p style="text-align: justify;"><span lang="IN" style="font-size:100%;">Gejolak reaktifitas dalam diri kita dapat kita manfaatkan untuk mensimulasikan perilaku kekanak-kanakan kita tanpa menunjukkannya didunia nyata. Hal tersebut mendorong kita untuk sigap berpikir, namun cermat bertindak. Dari simulasi tersebut kita dapat memunculkan pertanyaan bagi diri kita, “jika saya bereaksi begini, bagaimana <em>feedback</em>nya?”.</span></p> <p style="text-align: justify;"><span lang="IN" style="font-size:100%;">Mungkin kesalahan yang saya alami dapat menjadi contoh, yaitu bagaimana saya kurang dapat mengontrol sikap reaktif dalam menghadapi suatu masalah. Hal ini diperparah juga dengan sifat yang agak emosional dalam menyikapi masalah tersebut. Sikap saya tersebut tak jarang berakhir konyol dan memposisikan saya dalam akhir yang memalukan. Kemudian saya sadari bahwa hal tersebut tak perlu terjadi seandainya saja saya tidak menunjukkan sikap reaktif tersebut. Dengan mengeluarkan reaktivitas saya tadi dalam imajinasi saya, maka saya dapat memprediksikan apa dampak negatifnya tanpa harus mengalaminya langsung. Dengan begitu saya dapat lebih berhati-hati dalam bersikap dan dapat merespon dengan tepat atau dengan cara lebih baik (ahsan).</span></p> <p style="text-align: justify;"><span lang="IN" style="font-size:100%;">Itulah mengapa saya coba menggunakan kata bercermin dalam judul tulisan ini. Bercermin dapat kita tafsirkan sebagai usaha untuk melihat sisi-sisi diri kita yang kadang luput dari pandangan kita. Begitu pula dengan proses berpikir, khususnya problem solving. Kadang ada parameter/variabel dari masalah yang kita hadapi yang tidak terlihat oleh kakunya sisi kedewasaan kita. Hal tersebut mungkin saja dapat terdeteksi oleh imajinasi kanak-kanak kita.</span></p> <p style="text-align: justify;"><span lang="IN" style="font-size:100%;">Kita tidak perlu sampai berperilaku kekanak-kanakan untuk dapat menggunakan “cermin” tersebut. Cukup mensimulasikannya dalam pikiran kita, yang merupakan potensi utama kita sebagai manusia. Kita dapat memulainya dengan mempertanyakan “jika saya seorang bocah 5 atau 10 tahun, bagaimana saya melihat masalah ini?”. Atau misalnya dengan membiarkan imajinasi kita “bebas berkeliaran” sejenak, keluar dari kungkungan otak dewasa kita yang aus dan kolot. Atau apapun caranya agar kita dapat melihat sisi berbeda dari masalah tersebut yang tidak kita lihat sebelumnya.</span></p> <p style="text-align: justify;"><span style="font-size:100%;"><strong><span lang="IN">Jangan Pernah Berhenti Bermimpi</span></strong></span></p> <p style="text-align: justify;"><span lang="IN" style="font-size:100%;">Sebagai penutup, sebagai sebuah renungan saya ingin mengajak kita berpikir sejenak tentang betapa masa kecil merupakan sebuah anugerah yang tidak pantas kita lupakan. Mungkin pernah kita lihat film anak yang menggambarkan peri yang muncul saat masa kecil namun kemudian menghilang seiring usia yang beranjak dewasa. Begitu pula dengan imajinasi-imajinasi kita, yang bisa dikatakan hampir pasti berisi tentang keadaan dunia yang lebih baik. Jika itu kita miliki saat kecil, maka kita patut bersyukur, karena banyak anak-anak diluar sana tidak seberuntung kita, yang terhimpit trauma perang, bencana atau kemiskinan sehingga tidak lagi memiliki kesempatan punya mimpi.</span></p> <p style="text-align: justify;"><span lang="IN" style="font-size:100%;">Berbicara sedikit tentang “dunia yang hilang” saat kita beranjak dewasa. Tanpa kita sadari kedewasaan kadang membuat kita mengorbankan imajinasi kita waktu kecil. Hasilnya potensi besar yang dapat membuat kita merubah dunia jadi lebih baik tiba-tiba saja hilang. Berganti hal-hal rutin, teratur, terstruktur yang membuat kita berpikir linier tentang berbagai hal. Entah ada artinya bagi anda atau tidak, bagi saya berhenti punya mimpi gak berbeda dengan berhenti menjalani hidup. Karena tidak ada lagi sebuah “big deal” yang kita kejar saat itu. Kita berubah tak lebih sebagai mayat hidup yang terkungkung dalam sihir rutinitas keseharian kita. </span></p> <div style="text-align: justify;"><span lang="IN" style="font-size:100%;">Setelah kita miliki mimpi itu, selanjutnya adalah bagaimana menggunakan pikiran dan segala effort kita untuk mencapai mimpi itu, tentunya dengan tanpa meninggalkan prinsip hidup yang kita yakini. Karena hanya bermimpi sama saja dengan koma, tidak bergerak, terbuai biusan imajinasi kita sendiri. Mimpi harusnya membantu kita menjadi lebih teguh menghadapi realita hidup. Berani bangkit saat kita diuji dengan keterpurukan dan kegagalan. Semoga kita senantiasa dapat mengambil hikmah dari hidup yang kita jalani ini agar selalu menjadi hamba dan jundi-Nya yang lebih baik.</span></div><div> </div><p style="color: rgb(0, 0, 0); font-style: italic;"><span style="font-size:100%;"><strong>Ardian Perdana P.<br /><span style="font-size:85%;"><span style="font-weight: normal;">*diedit seperlunya</span></span><br /></strong></span></p><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25117012-6531786270539852491?l=ceritadk.blogspot.com'/></div>trian h.anoreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-25117012.post-29043335639894421052007-06-07T13:42:00.000+07:002007-06-07T13:44:10.363+07:00Sepucuk Surat dari Sahabat Dakwah FSLDK (We Miss U)<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="" lang="IN">Hujan semakin deras mengguyur Depok. Jaket hijauku kurapatkan ke tubuh. Masjid Ukhuwwah UI cukup sepi, hanya beberapa orang ikhwan terlihat asyik menekuri mushaf Al-Quran di lantai bawah. Aku tidak mungkin balik ke Surabaya hari ini, karena besok masih ada bahan proposal yang harus aku cari di perpustakaan.<br /><br />Alhamdulillah, ada adik ikhwan teman seperjuangan FSLDKN XII yang akan menjemput. Sekedar mengusir sepi, kuayun langkah ke arah mading. ‘Info FSLDK’, tulisan itu segera menyita perhatianku. FSLDK kembali mengadakan aksi serentak penolakan terhadap pelarangan jilbab di sekolah negeri oleh pemerintah Perancis. Targetnya Kedubes Perancis untuk Indonesia ‘di-PHK’. Wonderfull! Ghirahku menggelora. Aku ingat semua kenangan setahun lalu, suka duka FSLDKN XII.<o:p></o:p></span></p> <u1:p></u1:p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;" face="georgia"><span style="" lang="IN">“Afwan Mas, ana telat”. Suara seorang ikhwan mengagetkanku. Beriringan kami menuju mobil di depan gerbang mesjid. Di sepanjang jalan, Ahmad dengan sedih bercerita tentang kondisi tim FSLDK sekarang yang kurang semangat, kurang solid dan sederet kondisi lainnya. “Untuk mengkoordinir aksi jilbab Perancis itu saja sulit”, katanya. <o:p></o:p></span></p> <u1:p></u1:p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;" face="georgia"><span style="" lang="IN">Rona sedih mulai membayang di wajahku. Teringat betapa ikhwah-ikhwah sebelumnya yang penuh ghirah mengemban amanah ini. Aku ingat, waktu itu juga kami sempat mengalami ‘kelemahan ghirah’, sampai seorang ukhti mempersembahkan sebuah rangkaian kata mutiara yang tersusun indah, sebuah taushiyah. Seorang ukhti yang selalu mengusung amanah dakwah dengan penuh ghiroh jihad, walaupun kanker tengah menggerogoti tubuhnya. Semoga Allah merahmatimu di FirdausNya, ukhti fillah!<o:p></o:p></span></p> <u1:p></u1:p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;" face="georgia"><span style="" lang="IN">Untuk antum yang sedang mengemban amanah di Lembaga Dakwah Kampus –bersama Forum Silaturrahminya- serta antum yang mengemban amanah di wajihah mana pun, kubuka kembali copy surat taushiyah yang masih kusimpan indah sampai hari ini. Semoga untaian hikmahnya menyalakan kembali ghiroh juang kita, di wajihah mana pun kita.<o:p></o:p></span></p> <u1:p></u1:p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;" face="georgia"><span style="" lang="IN">Bismillahirrahmanirrahim <o:p></o:p></span></p> <u1:p></u1:p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;" face="georgia"><span style="" lang="IN">Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh<o:p></o:p></span></p> <u1:p></u1:p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;" face="georgia"><span style="" lang="IN">Subhanallah, nahmaduhu wa nastaghfiruhu, Ash-sholatu wassalamu ‘ala rasuluhu, Muhammad SAW. <o:p></o:p></span></p> <u1:p></u1:p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;" face="georgia"><span style="" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="" lang="IN">Ana awali tulisan ini dengan merangkai basmalah dan istighfar, semoga Allah menjaga untaian kata ini dari berbagai fitnah, dan menjadikannya semata untuk perbaikan dakwah. Sebab, pada Allah lah semuanya bermuara. Nur-Nya lah yang akan mampu menunjuki kita pada perbaikan kualitas dalam mengemban amanah mewarisi misi para Nabi ini, Insya Allah. <o:p></o:p></span></p> <u1:p></u1:p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;" face="georgia"><span style="" lang="IN">Bersama bait-bait nada ‘La Tas-aluni’ dari klub nasyid Tarbiyah, ana menekan tuts-tuts keyboard, mengajak kita semua merenungi kembali dan bertanya kembali tentang kehidupan kita ini. “La tas-aluni ‘an hayati, fahia asrorul hayat …” (Jangan kalian tanya tentang hidupku. Ia adalah kehidupan yang penuh misteri... )<o:p></o:p></span></p> <u1:p></u1:p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;" face="georgia"><span style="" lang="IN">Kesempurnaan adalah sebuah hal yang mustahil kita raih, dalam kapasitas apa pun. Namun, cukup lah ke-Maha Sempurna-an Allah menjadi motivasi bagi kita untuk terus meningkatkan kualitas amal kita. Karena, kita bergantung kepada zat yang Maha Sempurna, akan kah kita ‘merasa nyaman’ dengan berbagai kekerdilan diri kita tanpa upaya perbaikan yang kontinyu?<o:p></o:p></span></p> <u1:p></u1:p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;" face="georgia"><span style="" lang="IN">Ikhwah,<br />FSLDK adalah sebuah amanah besar yang ada di pundak kita saat ini, dan di sekeliling kita, begitu banyak ikhwah yang setia menanti karya-karya besar kita untuk akselarasi dan sinergisasi gerak dakwah lewat wajihah Lembaga Dakwah Kampus ini. Perjalanan amanah ini menuntut profesionalisme kerja dari kita semua. Amanah yang nantinya akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah.<o:p></o:p></span></p> <u1:p></u1:p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;" face="georgia"><span style="" lang="IN">Ikhwah,<br />Adalah layak untuk kita mengevaluasi perjalanan amanah kita sampai hari ini. Sudah optimalkah kita menjalankan amanah kita? Puluhan juta, bahkan ratusan juta dana yang kita habiskan tiap dwitahunan dalam washilah FSLDK, adakah itu sebanding dengan manfaat yang kita peroleh dalam penataan LDK se-Indonesia? Mari membuat daftar pertanyaan sebanyaknya!<o:p></o:p></span></p> <u1:p></u1:p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;" face="georgia"><span style="" lang="IN">Ikhwah,<br />Kalau jawabnya kita belum optimal, apa penyebabnya? Apakah pemahaman kita tentang washilah ini yang kurang, kemampuan kita kah yang terbatas, atau –naudzu billah- ruh dakwah kita kah yang mulai hambar? Kalau jawabnya tidak sebanding, apa yang harus kita lakukan? Manajemen kita kah yang harus diperbaiki, atau memang washilah ini kurang tepat guna?<o:p></o:p></span></p> <u1:p></u1:p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;" face="georgia"><span style="" lang="IN">Mari cari jawaban dari tiap pertanyaan itu!<o:p></o:p></span></p> <u1:p></u1:p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;" face="georgia"><span style="" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="" lang="IN">Ikhwah,<br />Ana –dan ana yakin antum juga- punya sebuah ‘mimpi indah’. Mimpi yang membuat ana sedih, ketika di pagi hari ana dihadapkan pada kenyataan bahwa ana harus membuka jendela kamar. Kesedihan yang kemudian ana sadari semestinya menjadi bahan bakar ruh jihad dan nafas harokah islamiyyah. Antum tau, ketika itu aroma yang tertangkap oleh indera pembau adalah aroma kering … aroma kelelahan zaman menanti hadirnya sosok-sosok mujahid dakwah yang mengusung SEMANGAT BARU, menapaki jejak-jejak pemuda Ash-Habul Kahfi mencari ridho Ilahi. <o:p></o:p></span></p> <u1:p></u1:p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;" face="georgia"><span style="" lang="IN">‘Kegelisan zaman itu seakan berbisik lewat angin yang berhembus perlahan, bersama mentari yang mengintip malu di balik awan. Dia bergumam: kapan kah gerangan para warotsatul anbiya’ itu berteriak lantang untuk menebar semerbak harum syariat Islam di bumi ini?<o:p></o:p></span></p> <u1:p></u1:p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;" face="georgia"><span style="" lang="IN">SEMANGAT BARU JEJAK PEMUDA ASH-HABUL KAHFI MENCARI RIDHO ILAHI …………………….<o:p></o:p></span></p> <u1:p></u1:p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;" face="georgia"><span style="" lang="IN">Mimpi itu ikhwah, ana yakin bukan lah cerita negeri dongeng, atau lakon kartun yang utopi. Mimpi itu hanyalah sebuah harapan sederhana, yang berkisah tentang dakwah yang semerbak, bak bunga-bunga mekar di taman firdaus. <o:p></o:p></span></p> <u1:p></u1:p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;" face="georgia"><span style="" lang="IN">Bayangkan ……………..<o:p></o:p></span></p> <u1:p></u1:p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;" face="georgia"><span style="" lang="IN">Suatu hari antum terbangun di sepertiga akhir malam, sekitar jam 3 WIB. Setelah memanjatkan doa, antum bangkit dan beranjak ke kamar mandi. Air wudhu mengaliri anggota tubuhnya meninggalkan kesejukan yang lembut. Lalu pakaian sholat yang harum mulai antum rapikan di tubuh yang ringkih ini. Sesaat sebelum lafaz niat qiyamullail antum lantunkan, indera pendengar antum menangkap sayup-sayup suara tangis yang syahdu menyayat hati. Subhanallah, suara itu milik tetangga sebelah kanan rumah yang sedang qiyamul lail juga. Bukan suara tangis menahan malu karena aib yang tercoreng akibat pergaulan anak gadisnya, bukan pula korupsi yang dilakukan sang ayah atau sejenisnya. Antum pun tertegun sesaat, sembari menggeser posisi sajadah yang mulai ‘kumal’ di ujungnya, pertanda sering dipakai sujud. <o:p></o:p></span></p> <u1:p></u1:p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;" face="georgia"><span style="" lang="IN">Tarikan nafas perlahan berusaha menghadirkan segenap molekul tubuh, dalam ‘perjalanan cinta’ yang akan antum lakukan, menemui zat yang antum akui sebagai Ilah, zat yang padaNya, semua harap dan cinta bermuara. “Yaa ayyuhal-ladziina aamanuu, hal adullukum ‘alaa tijaarotin tunjiikum min ‘adzabin aliim? Tu’minuuna billaahi wa rosuulihii wa tujaahiduuna fi sabiilillah …” lamat-lamat lantunan kalam ilahi itu kembali menyita perhatian antum. Suara itu mengalun syahdu diiringi sesekali isak tangis, seirama dengan tiap kata yang terucap. Pemiliknya tak lain adalah pemuda tetangga sebelah kiri rumah antum.<o:p></o:p></span></p> <u1:p></u1:p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;" face="georgia"><span style="" lang="IN">Perniagaan yang menguntungkan … Rabb … indah nian ni’matMu pada kami yang hina ini. Takbiratul ihram pun antum lantunkan penuh kasyahdua., Kesyahduan yang membawa rindu membuncah, bertemu dengan Rabb sekalian alam.<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;" face="georgia"><span style="" lang="IN">Suara adzan di masjid mengakhiri untaian do’a panjang antum. Sebuah doa yang berisi pengaduan akan begitu banyak kelemahan dan kesalahan diri, dalam mengemban amanah menjadi khalifah Allah di bumi, amanah yang sebelumnya ditolak oleh seluruh langit dan bumi. Do’a itu berharap pula akan pertolongan Allah untuk para mujahidun di berbagai belahan bumi. Mereka … para pahlawan sejati yang telah menukar Ridha Allah dengan harta, tenaga, dan jiwa mereka. <o:p></o:p></span></p> <u1:p></u1:p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;" face="georgia"><span style="" lang="IN">Mereka … para petarung yang tak pernah surut walau selangkah, dan tak pernah henti walau sejenak. Mereka yang dengan lantang selalu meneriakkan: ALLAHU AKBAR!!! Dalam tiap ritme perjuangannya.<o:p></o:p></span></p> <u1:p></u1:p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;" face="georgia"><span style="" lang="IN">Hampir saja antum tidak mendapat tempat dalam barisan jamaah shalat shubuh, karena antum tiba terlambat, tepat saat muadzzin membaca iqomat. Seluruh jamaah berdiri dalam shaf yang rapi. Pakaian rapi melengkapi wajah-wajah teduh yang selalu terbasuh air wudhu itu. Allah … serasa shalat bersama jamaah para shahabat, degan Rasulullah SAW menjadi sang imam. Kerinduan akan jannahNya semakin membuncah. <o:p></o:p></span></p> <u1:p></u1:p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;" face="georgia"><span style="" lang="IN">Jam menunjukkan pukul tujuh ketika antum membaca doa keluar rumah, dan mengawali langkah dengan kaki kanan. Antum akan menuju kampus hari ini. Di halte, bus kampus berhenti ‘menjemput’ antum. Dengan riang antum menyapa pak sopir lewat salam : “assalamu’alaikum pak, shobahal khoir …”. Tentu antum tak perlu berkelit kesana kemari menghindari bersentuhan dengan non-mahrom, karena bus hanya terisi kaum sejenis dengan antum; Tak Ada Ikhtilath! <o:p></o:p></span></p> <u1:p></u1:p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;" face="georgia"><span style="" lang="IN">Sampai di kampus, antum menikmati kuliah dengan tenang, tanpa harus khawatir akan terkena zina mata, zina hati de-el-el, karena semuanya berjalan dalam sebuah sistem qurani. Setiap bahasan akan mampu meningkatkan ruhiyah antum. Satu lagi … semua fasilitas dapat antum nikmati GRATIS!, karena zakat, infak dan shadaqah kaum muslimin lebih dari cukup untuk membiayai semuanya. SUBHANALLAH ….!!!<o:p></o:p></span></p> <u1:p></u1:p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;" face="georgia"><span style="" lang="IN">Innamal Mu’minuuna ikhwah … Hari itu antum lalui dengan aktivitas yang membangun ‘kesalihan pribadi dan ummat’. Antum saksikan pula bagaimana Allah memenangkan hambaNya lewat ukhuuwwah yang terangkai indah. ISLAM ADALAH RAHMATAN LIL ‘ALAMIN.<o:p></o:p></span></p> <u1:p></u1:p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;" face="georgia"><span style="" lang="IN">Sekarang … buka lah mata antum, lihat lah kembali realita! Ternyata, kita belum dalam dunia indah tadi! Kita masih di sini! Di Sumatera, di Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua … yang masih menanti perjuangan para mujahid. Kita masih berjuang di sini! Di FKI Rabbani, Salam, Gamais, JN UKMI, JMMI, Pusdima, Sentra Kerohanian Islam, UKM Birohmah, dan lainnya. Berjuang lewat wajihah LDK tuk sebuah tujuan mulia: TEGAKNYA IZZAH ISLAM WAL MUSLIMUN!<o:p></o:p></span></p> <u1:p></u1:p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;" face="georgia"><span style="" lang="IN">Dan … perjalanan perjuangan itu ikhwah. Masih jauh … hampir tak bertemu ujung. Penuh aral nan melintang, penuh onak dan duri. Karena Langkah ini adalah langkah-langkah abadi. Menapak tegak laju tanpa henti. Tak pernah rasa rugi menapak jalan ini, Syurga Allah menanti<o:p></o:p></span></p> <u1:p></u1:p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;" face="georgia"><span style="" lang="IN">Sekali lagi ikhwah, kita masih di sini! Di jalan dakwah ini! Kita di sini untuk berjuang! Setia mengusung cita: HIDUP MULIA ATAU SYAHID MENGGAPAI SYURGA! <o:p></o:p></span></p> <u1:p></u1:p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;" face="georgia"><span style="" lang="IN">Karena itu ikhwah … Mari berkarya, dengan yang terbaik yang kita punya tentunya. Jangan pernah malas dan jemu berkorban untuk perniagaan ini! Berjuanglah ikhwah! Dan teruslah berjuang! Sampai Allah, RasulNya dan orang-orang mukmin menjadi saksi akan perjuangan itu. AllahuAkbar!!!<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="" lang="IN"><o:p> </o:p></span></p> <p class="MsoNormal" face="georgia"><span style="" lang="IN"><span style="font-style: italic;">ukhti uni</span><br /><span style="font-style: italic;"> Eramuslim, 19/02/2004</span><o:p></o:p></span></p><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25117012-2904333563989442105?l=ceritadk.blogspot.com'/></div>trian h.anoreply@blogger.com5tag:blogger.com,1999:blog-25117012.post-1170385132165787332007-05-25T09:56:00.000+07:002007-05-24T07:59:29.972+07:00Membina Diri Menjadi Murabbi<div style="font-family: georgia;" align="justify"><span class="fullpost">Menjadi orang yang shalih dan mushlih adalah buah yang kita harapkan dari proses pembinaan yang kita jalani. Shalih secara pribadi dan mengupayakan tumbuh kembangnya keshalihan pada orang lain merupakan teladan dari Rasulullah SAW dan para salafushshalih yang sepatutnya kita ikuti. Alhamdulillah, saat ini sangat banyak di antara kita yang mendapatkan kesempatan menjadi mentor atau murabbi baik di kampus maupun sekolah. Sesungguhnya yang kita inginkan bukanlah semata banyaknya jumlah adik mentor atau mutarabbi kita.<br /><br /></span></div><div style="font-family: georgia;" align="justify"> </div><div style="font-family: georgia;" align="justify"><span class="fullpost"></span></div><div style="font-family: georgia;" align="justify"><span class="fullpost">Akan tetapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana agar kuantitas dan kualitas selalu merupakan fungsi yang bergradien positif. Atau menurut slogan seorang ikhwah,”Daripada berjuang bersama 20 orang tapi tidak berkualitas, lebih baik berjuang bersama 2000 orang yang berkualitas.”</span></div><span style="font-family: georgia;" class="fullpost"><div align="justify"><br />Kunci utama peningkatan kualitas umat ini terletak di tangan para penyeru seruan Islam itu sendiri. Atau dalam konteks ini berarti penentu penjagaan dan peningkatan kualitas keshalihan para adik mentor/mutarabbi adalah para mentor/murabbi itu sendiri.</div><div align="justify"><br />Berikut ini adalah beberapa karakteristik yang mesti kita usahakan agar melekat pada diri para mentor/murabbi :<br />1. <em>Al-Fahmu As-syamil al-kamil</em>, yaitu pemahaman yang sempurna dan menyeluruh terhadap dasar-dasar keislaman dan rambu-rambu petunjuknya, juga terhadap apa yaang akan didakwahkannya, karena seorang mentor/murabbi akan mentarbiyah seseorang yang memiliki akal, perasaan dan pemahaman, dan orang tersebut akan merefleksikan apa yang didengar dan diperhatikan dari sang mentor/murabbi, maka apabila seorang mentor/murabbi tidak memiliki level pengetahuan yang memadai dan wawasan pemahaman yang menyeluruh tentang dasar-dasar keislaman, maka hal itu akan memindahkan sebuah kebodohan kepada adik mentor/mutarabbinya, yang pada gilirannya akan menimbulkan masalah dalam pembentukan kepribadian muslim sang adik mentor/mutarabbi itu sendiri.</div><div align="justify"><br />2. <em>Waqi’ ‘Amaly</em>, yaitu keteladanan sang mentor/murabbi dengan amal perbuatannya yang secara real tampak jelas pada perilakunya, seperti geraknya, diamnya, bicaranya, atributnya, pandangannya dan ibrohnya, seluruh keteladanan itu adalah buah refleksi dari pengaruh keimanan dan pemahaman dalam kehidupan sang mentor/murabbi, dalam rangka memberikan pengaruh keteladanan yang baik (Qudwah shalihah) pada saat kemunculannya di tengah-tengah masyarakat.<br /><br /></div><div align="justify"> </div><div align="justify">Seorang ulama, Hasan Al-Banna mensifati murabbi dengan sebutan da’i mujahid, lebih jelasnya beliau menyebutkan bahwa da’i mujahid adalah : “Sosok seorang da’i yang telah mempersiapkan segala sesuatunya, yang terus menerus berfikir, besar perhatiannya dan siap siaga selalu”. Begitulah seharusnya seorang mentor/murabbi, tercermin iman dan keyakinannya pada perilaku dan amalnya. Berdasarkan penelitian pada perjalanan kehidupan sang mentor/murabbi, bahwa pengaruh mereka terhadap banyak orang lebih banyak berasal dari perilaku dan akhlaknya yang istiqomah di setiap keadaan. Sudah menjadi pemahaman umum bahwa “Manthiqal Af’al aqwa min manthiqil aqwal” ( Logika amal / perbuatan lebih kuat dari logika kata-kata). Dikatakan pula oleh ulama salafushashalih : “Man lam tuhadzdzibka ru’yatuhu fa’lam annahu ghairu Muhaadzdzab” (Barang siapa yang tidak mendidikmu ketika engkau melihatnya maka ketahuilah bahwa orang itu juga tidak terdidik).<br /><br /></div><div align="justify"> </div><div align="justify">Al-imam Syafi’i rahimahullohu berkata : “Man wa’adzho akhohu bifi’lihi kaana Haadiyan” (Barang siapa yang menasehati seudaranya dengan amal perbuatannya maka berarti ia telah menunjukinya”. Oleh karena itu keteladanan adalah fokus yang sangat sensitif dan halus, karena apa yang tampak pada dirinya jauh lebih besar pengaruhnya dari apa yang diucapkannya (Al-Mandzhor a’dzhomu ta’tsiran minal qoul).</div><div align="justify"><br />3. Al-khibroh binnufus, yaitu berpengalaman dalam memahami aspek kejiwaan, karena sesungguhnya lapangan kerja seorang mentor/murabbi tidak lain adalah kejiwaan, bergumul dengannya dan menjadikannya sasaran yang pertama dan terakhir dalam proses tarbiyah, sedangkan jiwa tidak seperti gigi sisir, akan tetapi jiwa orang berbeda satu dengan yang lainnya, ada yang lemah, ada yang kuat, ada yang peka dan over sensitif. Ada yang lembut , ada yang keras,bebal dan sebagainya.<br /><br /></div><div align="justify"> </div><div align="justify">Oleh karena itu seorang mentor/murabbi hendaknya menyikapi seseorang sesuai dengan kejiwaannya dan berhati-hati dalam berinteraksi dengannya, maka jangan bersikap terlalu tegas dan keras kepada orang yang jiwanya halus dan peka, melainkan harus dihadapi dengan lemah lembut , sebaliknya orang yang jiwanya keras harus dihadapi dengan ketegasan jika ia lalai dan menyimpang. Adalah Rosululloh SAW sosok murabbi pertama yang berpengalaman dalam ilmu jiwa, beliau tidak mempergauli para sahabatnya dengan sikap yang sama antara yang satu dan lainnya, karena beliau sangat tahu akan tabiat manusia dan kejiwaan mereka. Dalam hadits riwayat Bukhari dari Abdulloh ibnu mas’ud RA. Beliau bersabda : “Adalah Rosululloh SAW pernah beberapa hari lamanya tidak memberikan nasehat dan wejangan kepada kami, karena beliau takut kami menjadi bosan” (Al-Hadits)<br /><br /></div><div align="justify"> </div><div align="justify">Berkaitan dengan Al-khibroh binnufus, banyak contoh keteladanan dari murabbi zaman ini, diantara mereka adalah Hasan al-Banna, di mana telah terjadi dialog antara beliau dengan salah seorang ikhwah, Ikhwah tersebut berkata : “Sesungguhnya ana lagi banyak muskilah dan banyak yang ingin ana adukan kepada Antum, masalah yang ana hadapi ada yang bersifat umum dan ada yang khusus”, maka kata Hasan Al-Banna : “Sudahlah jangan bebani diri Antum dengan masalah itu, serahkan urusan Antum kepada Alloh”, “Tapi, ana ingin Antum tahu”, sergah Akh tersebut, “Sesungguhnya ana sudah tahu” kata Al Banna seraya meyakinkan Akh tersebut, “Jadi ana bahagia kalau antum mau tahu” balas akh tersebut.<br /><br /></div><div align="justify"> </div><div align="justify">Akan tetapi belum sempat ana memulai curhat, beliau sudah mendahuluiku dengan rentetan musykilah dan keluhan yang dialaminya sendiri, bahkan yang mengherankan apa yang diutarakannya sama dengan apa yang ana rasakan . setelah beliau selesai berbicara, maka ana pun berkata kepadanya : “Ya ustadz….. demi Alloh sungguh ana sangat bahagia, dan ana tidak akan mengeluh lagi”, ana mengatakan semua itu sambil terisak dan bercucuran air mata”.<br /><br /><span style="font-style: italic;">(Tawazun)<br /><br /></span></div><div align="justify"> </div></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25117012-117038513216578733?l=ceritadk.blogspot.com'/></div>cerita dakwah kampushttp://www.blogger.com/profile/10257354379333001642noreply@blogger.com3tag:blogger.com,1999:blog-25117012.post-1170384327209406862007-05-18T09:40:00.000+07:002007-05-17T15:48:36.298+07:00Memahami akademik dan keprofesian<div align="justify"><span class="fullpost">Entah sejak kapan, kata ‘keprofesian’ mulai banyak didengang-dengungkan di kalangan penggiat dakwah kampus. Kadang-kadang kata itu disandingkan dengan ‘akademik’, menjadi dua kata sakti, yang kadang dijadikan pembenaran atau malah dipakai untuk menyalahkan (bagi yang tidak ‘tawazun’): keprofesian dan akademik. Apa sejak disadari bahwa para ADK itu ahli, kecuali di bidang profesinya? Dinilai bagus oleh semua orang, kecuali oleh dosennya? Atau sejak dakwah ini konon memasuki fase selanjutnya, menjelang fase dauliy katanya, sehingga dibutuhkan para ahli yang kompeten? Atau malahan sejak peraturan batas menjadi mahasiswa maksimal 7 (lalu 6) tahun, dan lebih dari 5 tahun membayar SPP (yang sudah cukup mahal itu) 2 kali?</span></div><span class="fullpost"><div align="justify"><br />Entahlah. Yang jelas dua kata itu sudah mewabah,yang sering kita dengar, masuk ke telinga kita, diserapi nalar kita, dikeluarkan mulut-mulut kita, dan bahkan menjadi paradigma(?). Kita pernah mendengar: syuro akademis dan profesi, mas’ul akademis-profesi, organisasi keprofesian, visi keprofesian. Tapi, sebenarnya apakah ‘akademis dan keprofesian’ itu? Apakah ia: Keahlian? Kompetensi? Belajar yang rajin? IPK tinggi? Riset? Lomba-lomba keilmuan? Lalu kenapa, ia seolah sangat berbeda, bahkan beberapa bilang agak ‘bertentangan’ dengan dunia aktivitas, ‘dunia gerakan’?</div><span class="fullpost"><div align="justify"><br />Tulisan ini merupakan ikhtiar sederhana penulisnya untuk memahami tentang ‘akademis dan keprofesian’ (selanjutnya akan disingkat ‘akpro’) ini. Beberapa mungkin heran, kenapa tema akpro ini koq di kolom Muharik, yang menurut TOR-nya: mengarahkan momentum apapun menjadi ide pergerakan. Bukannya beda banget ya, antara akpro dan ‘gerakan’? Mari kita pahami bersama.</div><span class="fullpost"><div align="justify"><br />Zaman Yunani dulu, di Athena terdapat bangunan khusus tempat Plato mengajarkan ajaran-ajaran filosofisnya. Akademeia, nama bangunan itu, kemudian dipinjam oleh peradaban Barat yang merupakan penerus Yunani-Romawi itu menjadi academy dalam bahasa Inggris, yang para anggotanya disebut academicien dalam bahasa Prancis, dan di Indonesia secara memalukan kata akademia malah dipakai untuk menyebut para calon bintang AFI. Dalam Oxford dictionary, academic artinya 1. scholarly, of learning. 2. of no practical relevance; theoretical. </div><div align="justify"></div><div align="justify">Dari sini, kita dapat menyimpulkan apa sih yang dimaksud dengan akademik secara bahasa, yaitu yang berhubungan dengan teori, persekolahan, perkuliahan, belajar (di sekolah dan sejenisnya), dll. Lalu apa arti keprofesian? Konon kata profesi berasal dari proficio (bahasa Latin) yang artinya advance, “maju”, atau “ahli”. Profesi sendiri bisa diartikan secara sederhana sebagai pekerjaan, hal yang paling ahli dilakukan oleh seseorang, atau malah sebuah calling, panggilan. Kita sering dengar, “lakukan secara profesional!”, artinya ya lakukan “seahli-ahlinya, sebaik-baiknya”. Ada yang pernah bilang, apapun dia jadinya nanti, profesinya tetap da’I, karena ia merasa itulah panggilannya. </div><span class="fullpost"><div align="justify"><br />Seorang sahabat pernah mengeluh dengan yang dia sebut ‘fokus kepada akademis dan keprofesian’, yang dalam persepsi beliau (atau malah semua kita?) adalah belajar kuliah dengan rajin, sehingga mendapat nilai baik (minimal IP diatas 3.5 lah…), dan menjadi kompeten di bidang profesinya. Katanya lebih lanjut, “ya emang itu semangat yang terasa sekarang…”. Ia, seperti juga beberapa teman yang lain, khawatir dengan menanjaknya wacana akpro ini mengancam dunia aktivitas, dunia ‘gerakan’. Atau malah menyempitkan sudut pandang ADK, sehingga menjadi sangat mengutamakan nilai-nilainya dan IPK-nya dulu.</div><span class="fullpost"><div align="justify"><br />Waduh, kalaulah memang seperti itu, gawatlah nasib Dakwah Kampus kita!</div><span class="fullpost"><div align="justify"><br />Namun, sebenarnya tidak. Bukan seperti itu maksudnya. Ketika akademik diartikan sebagai yang berhubungan dengan persekolahan, perkuliahan, atau belajar di insitusi pendidikan, maka pertanyaan selanjutnya ialah apa sebenarnya tujuan adanya institusi pendidikan ini? Menggapai rata-rata nilai yang tinggi untuk mahasiswanya kah? Jumlah doktor yang banyak kah? </div><div align="justify"><br />Menurut Naquib al-Attas, tokoh terkemuka pendidikan Islam, tujuan pendidikan Islam itu personal, mendidik manusia. Pendidikan Islam tidak ditujukan untuk masyarakat, berbeda dengan pendidikan liberal barat, juga berbeda dengan pendidikan liberasionis ala Freire yang orientasinya ke masyarakat. Yang pertama untuk mengisi pos-pos yang ada di masyarakat, yang kedua untuk menyadarkan struktur penindasan (fisik, ataupun mental) yang terjadi di masyarakat. Tujuan pendidikan Islam ialah mendidik manusia, yang ia merupakan bagian dari masyarakatnya (karenanya kita dapat menarik kesimpulan masyarakat pun secara inheren telah masuk dalam pendidikan Islam), dan juga ia adalah makhluk 4JJI yang akan mempertanggungjawabkan segala perbuatannya secara personal sebagai manusia di hari akhir kelak. Karenanya, Nabi pun diutus untuk menyempurnakan akhlak. Membentuk karakter kita. Menekuni hal-hal akademis dalam institusi pendidikan, pada esensinya, ya berarti berusaha mendidik akhlak kita, membentuk karakter kita. Bukan nilai tinggi, bukan lulus cum laude (meskipun itu juga sangat bagus!).</div><span class="fullpost"><div align="justify"><br />Lalu bagaimana dengan keprofesian? Ingat, dalam pengertiannya, profesi tak sekedar keahlian atau kompetensi belaka. Profesi juga sebuah calling, panggilan jiwa. Dari dalam. Karenanya jangan heran, karena profesi adalah panggilan dari dalam, ada atribut-atribut sifat-sifat mulia dalam tiap profesi, yang dinyatakan secara formal ataupun yang tersirat. Seorang dokter mengucapkan sumpah Hippocrates, janji ia untuk jujur dan ikhlas menjalankan profesinya. Pengacara punya kode etik pengacara, yang amanah menjaga rahasia klien. Engineer mungkin tak punya sumpah insinyur, tapi ya secara tersirat seharusnya seorang insinyur berkarakter sebagai problem solver. Lagi-lagi kita menjumpai serangkaian kata sifat, yang merupakan karakter juga. Akhlak juga.</div><div align="justify"><br />Sama saja tho dengan yang biasa kita pahami saat beraktivitas? Dimana pun kita beraktivitas, semuanya jadi sarana kita untuk tadhrib amal. Dengan beraktivitas kita berlatih meningkatkan kepekaan kita, berlatih memahami orang lain dan diri sendiri, berlatih mengenali lingkungan, berlatih bersabar, berlatih berempati, berlatih…membentuk karakter kita!</div><div align="justify"><br />Semuanya terangkum dalam harakah, dalam gerakan. Kenapa? Sederhana, karena semuanya hal di atas tak ada yang bisa dilakukan tanpa gerakan. Tanpa gerakan sel-sel kelabu kita untuk berpikir, otot kita untuk berjalan, mulut kita untuk berteriak menentang kezaliman. </div><div align="justify"><br />Yang gawat adalah ketika kita memahami secara terpisah, dan melupakan tujuan pendidikan Islam, juga alasan syiar Nabi: menyempurnakan akhlak. Karenanya Muharik pun bukanlah ‘kolom kemahasiswaan’, tapi jelas kolom gerakan. Gerakan bukan menjadi monopoli yang beraktivitas saja, seperti juga akpro yang tidak berarti pencapaian kompetensi belaka. Semuanya dalam rangka mentarbiyah diri kita. </div><div align="justify"> </div><div align="justify"></div><div align="justify"><em>Wallahu a’lam bis showaab, </em></div><div align="justify"><em>Dan Hanya ALLAH Yang Maha Mengetahui.</em> </div><div align="justify"></div><div align="justify"><em>(lucky luqman)</em></div></span></span></span></span></span></span></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25117012-117038432720940686?l=ceritadk.blogspot.com'/></div>cerita dakwah kampushttp://www.blogger.com/profile/10257354379333001642noreply@blogger.com3tag:blogger.com,1999:blog-25117012.post-87240365228169534522007-04-19T08:23:00.000+07:002007-04-19T10:26:47.381+07:00Mencari sahabat<span style=";font-family:georgia;font-size:100%;" lang="DE" ><o:p></o:p>Aku mencari sahabat,<br />Dalam cerah dan gundah<br />Dalam tawa dan air mata<br />Dalam asa dan hampa<o:p></o:p></span> <p class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"><span lang="DE" style="font-size:100%;">Aku mencari sahabat,<br />yang menhampiri saat aku menjauh<br />yang menanyai sebelum menghakimi<br />yang tetap memegang ketika semua terlepas<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"><span lang="DE" style="font-size:100%;">Aku mencari sahabat,<br />Sebuah </span><span style="font-size:100%;">tempat bersahaja<br />Berbagi cita dan cinta<o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"><span lang="DE" style="font-size:100%;">Aku mencari sahabat<br /><o:p></o:p></span></p> <p class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"><span lang="DE" style="font-size:100%;">Jika kalian tahu,<br />Cepat beritahu aku<br />Dimana sahabat itu berada</span></p><p style="text-align: right;font-family:georgia;" class="MsoNormal" ><span lang="DE" style="font-size:100%;"><span style="font-style: italic;">i am 23 for this moment..</span><br /></span></p><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25117012-8724036522816953452?l=ceritadk.blogspot.com'/></div>trian h.anoreply@blogger.com3tag:blogger.com,1999:blog-25117012.post-1170384632347620112007-04-04T09:43:00.000+07:002007-04-02T11:23:32.338+07:00membaca, aktivitas serius yang menyenangkan<div align="justify"><em>”MEMBACALAH bila ingin berpengetahuan!”</em><br /><br />Demikian kalimat yang terpampang dan sempat saya baca di salah satu sudut sebuah perpustakaan. Kalimat tersebut, saya pikir merupakan sebuah bentuk nasihat mulia. Ya, kita memang mempunyai amanat untuk rajin membaca. ”Bacalah!” Begitu bunyi sebuah ayat dalam Alquran.Banyak orang berpendirian, dengan membaca kita akan lebih berpengetahuan, lebih berwawasan, serta akan lebih bijak dalam menilai sesuatu.<br /><br />Terkait dengan aktivitas membaca, terdapat paling tidak dua jenis motivasi yang memicu seseorang itu untuk membaca.Pertama, motivasi internal. Seseorang membaca karena didorong oleh keinginan, hasrat untuk mengetahui, —dan mungkin juga— menguasai sesuatu hal. Jelas, dorongan untuk membaca ini timbul dari dalam diri pembaca itu sendiri. Ia membaca atas kesadaran diri sendiri, bukan karena pengaruh atau paksaan dari luar.<br /><br />Kedua, motivasi eksternal. Dalam hal ini, seseorang melakukan kegiatan membaca supaya dirinya mendapatkan suatu reward. Misalkan, seorang mahasiswa yang membaca buku semalam suntuk demi bisa mendapatkan nilai yang baik pada ujian esok harinya. Pada konteks ini, dorongan untuk membaca muncul karena pengaruh dari luar diri yang bersangkutan.<br /><br />Terlepas dari motivasi apa yang dimiliki seseorang untuk membaca, idealnya kegiatan membaca memang harus senantiasa dilakukan di mana pun dan kapan pun. Namun demikian, motivasi saja masih belum cukup untuk menjamin agar kita bisa benar-benar mengerti dan memahami apa yang kita baca. Untuk itu, selain motivasi yang kuat untuk membaca, kita pun perlu mengetahui teknik-teknik membaca yang baik dan efektif.<br /><br />Dalam karyanya yang bertajuk ”The Brain Worker’s Handbook” (yang telah diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia menjadi ”Cara Mudah Menjadi Pemikir Kreatif”), Dr. Kurt Kauffmann mengemukakan, sejumlah teknik yang perlu dipraktikkan saat melakukan aktivitas membaca. Pertama, membacalah untuk memperoleh informasi, bukan untuk memperoleh aneka pendapat. Bersikaplah kritis. Mengapa? Karena Anda, sudah tentu tidak ingin menjadi orang yang cuma membeo. Sangat banyak orang yang membaca sesuatu dan lantas mempercayai begitu saja apa yang dia baca.<br /><br />Tidak sedikit orang yang membaca demi hanya mendukung pendapat yang telah dianutnya. Pembaca yang demikian tidak mau berpikir lagi dan percaya pada apa yang dibacanya begitu saja. Kedua, hendaknya Anda membolak-balik terlebih dahulu buku yang akan Anda baca sebelum Anda memutuskan membaca buku tersebut hingga tuntas.<br /><br />Pertimbangkan apakah buku itu bermanfaat atau tidak bagi Anda. Cermatilah apakah makna buku tersebut bagi Anda. Lakukan hal yang sama pula saat Anda akan membaca koran atau majalah. Ketiga, jika Anda membaca buku ilmiah, Anda harus membacanya dengan pikiran yang objektif. Akan tetapi, jika Anda membaca buku yang mengemukakan suatu pendapat atau propaganda, Anda harus membaca buku itu dengan kritis.<br /><br />Dalam konteks ini, Anda harus menempatkan diri Anda laksana seorang hakim. Dengan demikian, Anda harus menjadi orang yang tidak gampang percaya begitu saja. Keempat, buatlah tanda-tanda khusus pada bagian-bagian penting dalam setiap bahan bacaan yang Anda baca. Tanda-tanda khusus itu bisa berupa tanda silang yang mencolok pada tepi kiri bagian yang Anda baca, bisa juga berupa garis bawah pada bagian-bagian penting bahan yang Anda baca.<br /><br />Kelima, buatlah ringkasan atau ikhtisar dari setiap pokok persoalan yang Anda baca. Ringkasan atau ikhtisar itu bisa Anda tulis dalam sehelaikartu atau dalam buku catatan khusus. Bila kelima teknik yang disodorkan oleh Dr. Kurt Kauffmann tersebut berhasil Anda praktikkan pada saat membaca, insya Allah Anda akan mampu membaca dengan baik. Banyak atau sedikit? Dimuka telah disebutkan bahwa idealnya kegiatan membaca itu sebaiknya dilakukan di mana pun dan kapan pun.<br /><br />Persoalannya, seberapa banyak kita harus membaca? Banyak atau sedikit bukan merupakan hal yang terpenting dalam soal ini. Hal yang utama dalam membaca adalah yang menyangkut keefektifan dan keefisienan. Membaca sedikit tetapi efektif dan efisien jauh lebih baik dibandingkan dengan membaca banyak tetapi justru tidak efektif dan efisien.Sementara kalangan menilai, kegiatan membaca sendiri merupakan sebuah pekerjaan mental yang melelahkan otak.<br /><br />Karenanya, kegiatan membaca seyogyanya dianggap sebagai sebuah pekerjaan serius dalam arti yang sesungguhnya dan bukannya sebagai sebuah kegiatan rekreatif yang bisa dilakukan sambil lalu dan asal-asalan.Nah, sebagai sebuah pekerjaan serius, sudah barang tentu, kegiatan membaca ini memerlukan konsentrasi penuh serta menuntut kesiapan mental dan fisik dari mereka yang melakukannya. Jadi, senantiasalah menyiapkan mental dan fisik Anda sebelum membaca sehingga Anda mampu memahami apa yang Anda baca dengan baik.<br /><br />*** diambil dari: percikan-iman.com.<br />Penulis:DJOKO SUBINARTO<br /> </div><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25117012-117038463234762011?l=ceritadk.blogspot.com'/></div>cerita dakwah kampushttp://www.blogger.com/profile/10257354379333001642noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-25117012.post-1170384133165278572007-03-17T09:40:00.000+07:002007-05-24T08:01:31.003+07:00Melihat Ukhuwah Kita<div style="font-family: georgia;" align="justify"><span class="fullpost">Ukhuwah, kita sudah biasa mendengar, membicarakan dan mencoba melakukannya. Kita mengenal kisah tiga mujahid yang masih mendahulukan saudaranya di saat-saat akhir regangan nyawa sebagai salah satu hikmah terbaik ukhuwah. Kita juga mengetahui kelapangan hati Kaum Anshar untuk membagi semua yang dimilki setelah kedatangan saudaranya, Muhajirin. Di masa kini, kita bisa ikut berpastisipasi dengan memberikan setidaknya satu dolar kepada saudara seiman di Palestina.<br /><br />Lalu apa lagi tentang ukhuwah? Ukhuwah, adalah bentuk persaudaraan atas dasar keimanan dan keislaman, bukan atas dasar wilayah, suku atau batasan-batasan lain. Seperti yang Allah firmankan dalam Q.S Al-Hujurat [49] : 10, ” <em>Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu ...</em>”<br /><br />Seorang saudara mengatakan, ukhuwah tak perlu banyak dibicarakan, kita hanya perlu melakukannya. Tapi, untuk melakukan dengan yang lebih baik, pembicaraan mungkin ada kalanya diperlukan.<br /><br />Ukhuwah itu sederhana, mudah, simpel, tidak ribet dan praktis. Tidak harus benar-benar meniatkan ”ini ukhuwah” untuk melakukan bentuk ukhuwah. Tidak harus pula bentuk-bentuk yang kita melihatnya luar biasa, penuh Tadhiyyah, layaknya kisah sahabat Rasul diatas.<br /><br />Dengan memulai lingkungan terdekat kita, ukhuwah itu terejawantah. Muslim sekelas kita, se-prodi, se-wajihah, se-angkatan dan yang pasti saudara liqoat kita. Barangkali kita tidak perlu berbagi sebagaimana Anshar-Muhajirin. Tapi kita cukup menanyakan gimana kabarnya, kuliahnya, amanahnya, atau keuangannya. Simpelnya, kita hanya butuh ber-empati.<br /><br />Pernahkah kita benar-benar mengecek, siapa-siapa ADK yang bermasalah karena belum melunasi SPP-nya? Mungkin saja saudara kita tidak bisa hadir pertemuan ADK karena tidak ada ongkos naik angkot. Atau terdapat ADK yang ”tergelincir” dalam maksiat, dan kita hanya bisa tidak habis pikir. Yang menyesakkan, saudara itu bisa jadi saudara se-prodi, se-angkatan, se-wajihah atau bahkan, se-liqo kita!<br /><br />Alangkah sia-sia, Rabithah yang panjatkan setiap pagi. Padahal kita berjanji untuk mencintai dan bersama-sama membela syari’at-NYA. Betapa bohongnya, tangis-tangis kita di akhir daurah. Dan betapa tidak sejati, do’a kita untuk menjawab salam saudara saat kita bertemu dengannya. Apa bedanya, dengan yang diberitakan Allah, "<em>Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti.</em>" (Al-Hasyr [59] : 14)<br /><br />Jangan sampai karena banyaknya jumlah ADK di kampus atau masyarakat, lalu perhatian kita tercerai. Karena tugas dan taklif dakwah atau aktivitas lain, kita menjadi sholeh pribadi. Padahal, seberapa sholehnya kita, dosa kita masih sangat banyak. Sangat mungkin surga kita terdefinisi dalam pita-pita ukhuwah. Seperti halnya Saad bin Abi Waqqash yang mengikhlaskan kesalahan saudara-saudaranya hari tersebut di setiap malamnya. Dan dialah penghuni surga, itu yang dikatakan Rasulullah.<br /><br />Semoga bukan karena kita sudah yakin tidak bisa membantu memecahkan masalahnya, lalu kita berdiam diri? Sungguh sebuah ukhuwah semu, yang hanya bertemu dalam kecerahan dan menjauh ketika keterpurukan. Menghindarnya kita, justru membuat saudara kita makin menjauh. Na’udzubillah, bila itu memicu ”kendornya” aktivitas dakwah yang digeluti. Dan itu, sedikit banyak karena kita!<br /><br />Bahkan ketika saudara kita sengaja atau tidak, lama atau sebentar, memutuskan ”menepi” dari gerbong dakwah ini. Apakah kita akan menjauhinya secara berjama’ah? Lalu, dengan tenang kita berkata, ”dia kan harusnya sudah paham”. Hujjah kita pun mantap, kisah Kaab Bin Malik yang didiamkan oleh Rasulullah karena urung berjihad.<br /><br />Wahai saudaraku, dakwah ini tidak hanya dibangun oleh orang-orang saat ini. Dakwah ini adalah hasil usaha, do’a dan tawakal orang-orang terdahulu. Jika sekarang, kita sedang ”dalam gerbong” dan orang-orang terdahulu yang memegang amanah kunci, sekarang di ”luar gerbong”, apakah itu akan menghapuskan segala kontribusinya di masa lalu? Karena dakwah saat ini dibangun oleh banyak orang, bukan hanya orang-orang yang masih terlibat sekarang.<br /><br />Harusnya masih ada keyakinan bahwa hati-hati mereka masih tertambat dalam dakwah ini. Jikalau diminta bantuan, besar kemungkinan mereka melakukannya. Ingat, dia bukanlah murtad atau lari dari medan perang. Dia tetaplah muslim, dan berarti punya hak ukhuwah. Kedekatan yang pernah kita jalin sebelumnya, seharusnya menjadikan kita untuk mengetahui alasan di balik itu. Dan semua penilaian bukan oleh manusia, Allah-lah yang Maha Tahu dan Adil.<br /><br />Sama halnya dengan kita sekarang, seharusnya menjadikan kita menjadi orang yang bisa memahami keadaan satu angkatan, satu kampus, satu wajihah, atau yang sangat penting (setidaknya), saudara satu halaqoh kita. Sehingga bila ada masalah atau ketergelinciran, maka seharusnya kita lah yang menjadi salah satu orang yang merasa paling bertanggung jawab pertama kalinya.<br /><br /><em>hidup selalu punya cerita,<br />tidak perlu lagi berpura.<br />jika ukhuwah menjadi prasayarat hidup,<br />aku butuh hidup macam ini.<br />dalam kesendirian,<br />bisa saja terjadi hujan emas.<br />dan akan kukatakan pada langit,<br />hujan ini tak dibutuhkan...</em></span></div><span style="font-family: georgia;" class="fullpost"><div align="justify"><br /><em>[the_as]</em></div></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25117012-117038413316527857?l=ceritadk.blogspot.com'/></div>cerita dakwah kampushttp://www.blogger.com/profile/10257354379333001642noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-25117012.post-1168584277683464662007-03-09T13:42:00.000+07:002007-03-08T09:33:45.370+07:00Ode untuk teman<div align="center"><span class="fullpost" style="font-family:lucida grande;">Aku ingin mengutip sebuah puisi untukmu tanpa aku tau benar apa yang membuat aku ingin mengutipnya… Sekali lagi, aku mengutipnya tanpa tau benar kenapa aku mengutipnya, aku hanya mengira ada yang benar dalam deretan kata ini tanpa tau yang mana. Terima kasih untuk mau menemaniku..<br /><br />ODE UNTUK TEMAN<br /><br />Pertemuan denganmu<br />sebuah kebetulan<br />-tentu saja bukan kecelakaan-<br />Kau di luar rencanaku<br />menggembirakan diri<br />tampil saja di sela-sela kemanjaanmu<br />Beginikah rasanya punya teman?<br />Hiruk pikuk hari-hari<br />lewat saja,ringan saja<br />dan kau memenuhi kekosongan<br />Kita berteman saja,<br />aku tak punya niat terlalu jauh<br />Hanya kurasakan kesegaran<br />yang penuh bersamamu<br />Kurasakan kelancaran nafas hidup<br />Kurasakan detail dunia dalam matamu<br />Kurasakan sukacita waktu dalam gerakmu<br />Aku jadi temanmu saja<br />menyediakan detik-detik untukmu,<br />rauplah sesukamu,<br />datanglah mengeluh,<br />hiruplah kebaikan<br />sejauh ada padaku<br />Kita berteman saja:<br />sebuah kenyataan<br />yang sangat mungkin abadi,<br />menjelma kupu-kupu indah di suatu pagi,<br />dengan bunga-bunga dan suara burung<br />Meski kau akan berlayar jauh dengan kekasih<br />aku adalah pelabuhan kala kau sendiri<br />Kita berdua memecah kesunyian,<br />membikin dunia terjaga<br />dan bersama bergembira<br />Kita berteman saja<br />Sambil tetap berdoa<br />demi ketulusan hati<br />yang kuingin tetap begitu<br />Ya kita berteman saja<br />dalam hidup ini<br />dan nanti</span></div><div align="right"><span class="fullpost" style="font-family:lucida grande;"><br />Taken from :<br />“Bermain-main dengan cinta..” - Bagus Takwin</span></div><span style="font-family:lucida grande;"><span class="fullpost"><br /></span></span><span style="font-family:lucida grande;"><span class="fullpost"></span></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25117012-116858427768346466?l=ceritadk.blogspot.com'/></div>cerita dakwah kampushttp://www.blogger.com/profile/10257354379333001642noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-25117012.post-1170383992202939322007-02-28T09:31:00.000+07:002007-02-28T10:31:50.542+07:00Nahnu Kaum Amaliyun<div align="justify"><span class="fullpost"><span style="font-family:lucida grande;">Amal merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari iman. Imam Hasan Albashri menegaskan bahwa iman bukanlah angan-angan dan harapan hampa, akan tetapi ia adalah keyakinan yang mantap dalam hati dan dibuktikan dengan amal yang nyata. Bagi para aktivis da’wah amal Islami adalah bukti intima (komitmen) pada da’wah, jama’ah dan harokah. Tidak ada tempat di dalam jama’ah da’wah ini bagi orang-orang yang hanya ingin diakui sebagai anggota secara legal formal, apatah lagi bagi mereka yang sepi beraktivitas (baca: menganggur) bahkan hanya membebani jama’ah.<br /><br />Kita seharusnya datang ke jama’ah ini untuk memberi dan bukan untuk meminta, sudah semestinya kita mengurangi beban dan bukan menjadi beban dan bahkan menjadi kewajiban kita memberikan seluruh potensi yang kita miliki untuk da’wah dan bukan mencari keuntungan dari da’wah. Ingatlah, sesungguhnya orientasi kita dalam jama’ah ini adalah orientasi amal dan hanya amallah yang dapat mengangkat derajat kita serta membuat Allah mengakui kita sebagai aktivis da’wah. Allah berfirman: “<em>Dan berbuatlah kamu, maka Allah, Rasul dan orang-orang yang beriman akan melihat amal kalian, dan kalian akan dikembalikan kepada Allah yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata.</em> “ (At-taubah :105)<br /><br />Ketahuilah, kewajiban dan tanggung jawab yang harus kita emban ternyata lebih banyak dari waktu yang tersedia dan lebih besar dari potensi yang kita miliki, oleh karenanya jangan sampai ada di antara kita yang hanya duduk, terpaku, dan berdiam diri di dalam gerakan dakwah ini karena gerakan dakwah ini bukanlah gerakan dakwah tanpa kerja (baca: pengangguran). Bila hal itu terjadi, maka ia akan membawa dampak negatif kepada jama’ah, sebagai contoh munculnya suasana dan iklim yang tidak sehat yaitu iklim ghibah dan namimah di antara para da’i yang dapat menghambat perjalanan harokah dan meruntuhkan bangunan jama’ah. Tidakkah kita menyadari bahwa Rasul melarang kita dari dua hal, yaitu membicarakan sesuatu yang tidak ada manfaatnya (qiila wa qoola = katanya…dan katanya…) dan menyia-nyiakan harta (idlo’atul maal ). Termasuk prinsip sembilan dari Ushul Isyrin yang menegaskan bahwa setiap masalah yang tidak berorientasi pada amal,maka membicarakannya adalah sesuatu yang memberatkan diri dan dilarang oleh syari’at.<br /><br />Sekaranglah saatnya kita memperbanyak aktivitas dan meningkatkan produktivitas dan tidak ada waktu bagi kita untuk banyak berbicara terlebih berbicara tentang sesuatu yang tidak berguna mengingat masih banyak lahan da’wah yang belum tergarap. Betapa banyak lahan da’wah yang menjadi tanggung jawab kita di kalangan buruh, pekerja, pedagang, petani, nelayan, professional, ibu rumah tangga, remaja, anak jalanan, dll. Sungguh naïf jika ada di antara kita yang tidak memiliki aktivitas, kesibukan atau “pekerjaan” di dalam dakwah ini. Sungguh, Ustadz Hasan Al-Banna pada masa hidupnya pernah berkata bahwa kita harus bekerja lebih banyak untuk umat dari pada untuk diri kita sendiri.<br /><br />Ladang da’wah begitu banyak terbuka luas di depan kita. Siapa yang akan memulai menggarapnya? Tentu saja dibutuhkan para da’i yang berinisiatif, kreatif dan produktif yang motivasinya karena Allah dan berorientasi kepada ridlo Allah. Lupakah kita bahwa Rasul pernah bersabda bahwa barang siapa yang berinisiatif mengerjakan amal kebaikan lalu diikuti oleh orang lain maka baginya pahala atas perbuatannya itu dan pahala dari orang-orang yang mengerjakan setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun… (HR. Bukhari ).<br /><br />Indikasi bahwa kegiatan dan proses tarbiyah yang kita selenggarakan telah berjalan cukup baik (efektif) adalah jika para da’i dapat mengaktualisasikan dirinya sebagai syakhshiyyah Islamiyah dan da’iyah di tengah masyarakatnya. Kehadiran, partisipasi, peran, dan kontribusinya dapat dirasakan oleh orang banyak. Sebagaimana ditegaskan oleh Rasul ShalaLlahu ‘alaihi wassalam bahwa “orang yang paling baik adalah orang yang paling banyak kebaikannya di masyarakat. (HR. Tirmidzi). Rasulullah ShalaLlahu ‘alaihi wassalam menggambarkan bahwa profil seorang mukmin adalah seperti lebah, yaitu hanya mengambil yang baik dan memberi yang baik (HR. Ahmad). Bila ia hinggap di suatu tempat maka ia akan mengambil yang terbaik dari tempat itu yaitu madu tanpa merusak atau mematahkan ranting tempat ia berpijak. Bahkan lebah membantu bunga-bunga tersebut melakukan proses penyerbukan. Dan ketika ia meninggalkan tempat itu untuk mencari tempat yang lain, maka ia meninggalkan sesuatu yang terbaik pula yaitu madu serta meninggalkan kenangan manis kepada lingkungan yang pernah ia hinggapi. Dan begitu seterusnya. Ikhwah, jadilah seperti lebah yang selalu mencari unsur-unsur kebaikan dan memberikan buah kebaikan. Benih-benih kebaikan itu tak akan terjadi manakala kita tidak giat melakukan amal da'wi di masyarakat.<br /><br />Sesungguhnya amal adalah buah dari ilmu dan keikhlasan. Ilmu yang kita peroleh di dalam halaqah, tatsqif dan ta’lim harus berdampak positif pada kehidupan sehari-hari di lingkungan tempat kita beraktivitas. Kita tidak boleh merasa puas dengan kegiatan tarbawi, tatsqifi, dan tanzhimi yang tidak ditranformasikan kepada masyarakat. Kita tidak boleh menganggap cukup dengan aktivitas tarbawi yang bersifat internal tanpa mengembangkannya dalam bentuk amal da'wi dan kegiatan sosial karena konsep tarbiyah yang kita anut adalah memadukan tarbiyah nukhbawiyah (pembinaan kader ke dalam) dan tarbiyah jamahiriyah (rekrut massa yang bersifat terbuka dan massif ).<br /><br />Jadilah pekerja da’wah yang berperan aktif dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh stuktur dakwah. Janganlah kita menjadi penonton dalam persaingan dan pertarungan da’wah yang hanya bisa tertawa, bergembira, bersorak-sorai, bertepuk tangan dan bersiul menyaksikan pemain yang bertarung untuk merebut kemenangan di medan pertandingan atau kadang kala berkomentar negatif jika pemain melakukan kesalahan.<br /><br />Kita tidak mengenal istilah pengamat da’wah dalam kamus da’wah kita karena yang ada hanyalah aktivis da’wah dan praktisi harakah. Oleh karena itu tidak boleh ada di antara kita yang menjadi pengamat da’wah tapi hendaklah menjadi aktivis dan praktisi harakah.<br /><br />Amanah dakwah terbuka lebar di depan kita. Dari PMB, Mentoring, dan Ramadhan. Demi Allah, sesungguhnya mereka sedang menunggu-nunggu sentuhan dan belaian dakwah kita.<br /><br />Ikhwah fillah…<br /><em>I’malu ‘ala barakatillah.</em><br /></span></span></div><div align="justify"><span class="fullpost"><em><span style="font-family:lucida grande;">-Faisal-<br />(disadur &amp; diedit seperlunya dari taujih Ust Abdul Muiz MA )</span> </em><br /></div></span><span class="fullpost"></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25117012-117038399220293932?l=ceritadk.blogspot.com'/></div>cerita dakwah kampushttp://www.blogger.com/profile/10257354379333001642noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-25117012.post-85872156896139721672007-02-20T09:15:00.000+07:002007-02-19T17:11:28.036+07:00Bukan Sekedar Sarang Laba-laba<div align="justify"><span class="fullpost" style="font-family:lucida grande;">Pagi itu masih dingin, kota Medan yang masih sering diguyur oleh hujan membuat kantorku juga terasa dingin. Apalagi sisa-sisa hujan semalam masih terlihat dimana-mana, jalan yang basah, daun yang jatuh karena terkena terpaan dari hujan juga masih terlihat. Untung saja aku memakai jaket yang cukup nyaman, begitu pikirku. Segera saja aku masuk ke dalam ruangan kerjaku, kuhidupkan komputer, sembari kusampirkan jaket yang tadi kukenakan, dan ganti pakaian dengan baju lapangan.<br /><br />Karena ruangan kantor masih sepi, aku segera stand by di depan komputer, untuk melihat berita dari internet, maklum tidak punya TV, membuatku harus sigap mencari berita di internet atau koran kantor yang gratisan. Sekalian kubuka email dan friendster sekaligus. Hmm ternyata ada satu pesan di friendster yang baru..oo dari Jono, temanku dari Universitas Jatinangor, kebetulan dulu pernah tingal dekatan waktu masih tinggal di Bandung. Sembari menunggu internet yang agak lambat membuka pesan tersebut, kucoba-coba ingat tentang kawanku yang satu ini, seingatku ikhwah ini sudah menikah, baru saja setahun yang lalu, dengan teman akhwatnya yang pernah menjadi sekretarisnya, malah ia dulu pentolan da’wah kampus yang terkena isu virus merah jambu, dan..astagfirullah, segera kuhapus suudhonku...teringat pesan, bahwa salah satu dari ukhuwah kita mampu selalu berhusnudhon..<br /><br />“aslkm Totok, katanya kamu di medan ya ? aku juga nih, kebetulan dapet dinas penempatan di medan juga.ini nomorku 08123456789” Begitu pesannya di friendsterku. Senyumku mengembang, senang mendapat kabar dari teman lama. Kubuka kembali profil friendsternya, hmm...ada yang aneh...foto dari profilnya, biasanya dulu ia tidak pernah menampilkan foto istrinya, sekarang ada..walau memang foto mereka berdua. Kejanggalan itu terus berlanjut ketika kubuka foto mereka, tanpa sengaja aku melihat jilbab istrinya yang sudah agak ”pendek“, walau masih mengenakan gamis panjang, tapi..astaghfirullah...jangan suudhon dong akh, begitu maki ku pada diriku sendiri.<br /><br />###<br /><br />”Ayo Tok kamu main“ teriak Andi.”Pasangannku siapa ?“ sahutku.<br />”Sama aku aja, kita lawan Eko sama Bayu ?“ jawab Joko.<br />”Oke deh“.<br /><br />Biasanya memang hari libur seperti hari ahad pagi ini, kami isi dengan olahraga tenis. Maklum sama-sama merantau, jadi merasa senasib sepenanggungan. Apalagi aku yang jauh dari anak dan istri, harus punya banyak aktifitas. Dan memang kami sudah punya motto, ”Membunuh sepi atau terbunuh sepi“ begitu biasanya kami bergurau karena merasa jauh dari keluarga, salah satu cara kami membunuh sepi yaa dengan olahraga tenis ini yang rutin setiap sabtu dan ahad pagi.<br /><br />Belum lama kami bermain tiba-tiba handphoneku berbunyi, oo dari Jono, ”Aslkm tok“<br />”Waalaikum salam, gimana kabarnya Jon? Maap lho aku belum sempat ke rumahmu“”Baik alhamdulillah, nggak papa koq, lagi ngapain ?“”Lagi tennis nih, kenapa?“”Nanti siang abis dhuhur sibuk nggak ? aku sama istri mau ke tempatmu””Nggak lah, boleh..mangga atuh“ segera kuberikan alamatku padanya. Setelah puas ngobrol, ia menyudahi perbicangan dan kulanjutkan kembali pertandingan tenisku yang sempat terhenti.<br /><br />###<br /><br />“Susah nyarinya ?” tanyaku.<br />“Yah lumayanlah, abis jalannya banyak di blokir gara-gara banyak pernikahan” jawabnya.<br />“Oya tok, ini istriku, Ari” sambil mengenalkan istrinya, karena memang ketika pernikahan mereka aku tidak sempat hadir, karena sudah berada di luar pulau.<br />“Totok” jawabku singkat sambil menutupkan kedua telapak tanganku sedikit menghindar.<br />“Ayo masuk, afwan ya kecil kamarnya, maklum kembali bujangan” jawabku sekenanya.<br />“nggak papa koq, tapi enak nih, dingin, banyak angin” ujarnya.<br /><br />Tak lama kemudian kami bertiga sudah terlibat pembicaraan seru. Mulai dari kawan-kawan di Bandung yang belum lulus, hingga ke masalah kerjaan masing-masing. Tapi terus terang konstrasiku sedikit terganggu, aku terkadang sibuk dengan pikiranku sendiri. Awalnya agak kaget juga melihat Ari istrinya Jono ini, kemarin di friendster masih pake gamis walau jilbab pendek, tapi sekarang malah celana jeans panjang dan jilbab yang lebih pendek lagi. Sepanjang perbicangan itu aku mencoba membayangkan apa saja yang sudah mereka lalui, hingga sekarang bertemu agak berbeda. Masih jelas dalam ingatanku, ketika mereka belum menikah, dan aku sempat bertemu istrinya, dengan tampilan tertutup jilbab rapi dan ghaddul basharnya. Sekarang...."<br /><br />Dari perbicangan kami, aku mengetahui kalau mereka sudah tidak halaqah lagi...ternyata kegundahanku selama ini terjawab. Tapi aku tak mau terlihat oleh mereka terpengaruh dengan hal tersebut, kututupi dengan canda kecil kami.”Ya udah tok, kami pulang dulu ya..insya allah nanti main lagi“ ”Iya deh, hati-hati..tahu jalan pulangnyanya khan?“ jawabku” Iya, makasih ya“ ujarnya sambil memakai helm”Sama-sama...”, kemudian kami bersalaman, dan kuhantar sampai jalan besar.<br /><br />###<br /><br />Sepulangnya mereka hingga menjelang magrib sore ini, pikiranku masih dipenuhi pertemuan kami tadi siang. Terlalu banyak pertanyaan ku yang tidak bisa ku jawab oleh diriku sendiri.Ada apa dengan mereka? Kenapa mereka berubah? Apakah benar karena pernikahan mereka diawali dengan pacaran ?Padahal mereka khan dulunya aktifis? Dan mungkin sejuta pertanyaanya mirip seperti itu.<br /><br />Tiba-tiba aku teringat pada halaqah ku minggu lalu, murobbi ku bercerita tentang salah satu kawannya yang futur. Ikhwan tersebut awalnya sudah lama mengaji, dan menikah dengan memiliki 2 orang anak yang sudah cukup besar. Tapi kemudian ikhwan tersebut tertarik dengan wanita yang belum berjilbab, dan kemudian menikah dengan wanita tersebut. Istri dan anaknya ditinggalkan begitu saja. Bahkan istrinya ikutan futur, ketika rumahnya disambangi oleh teman ngaji suaminya karena mencari suaminya yang sudah lama tidak mengaji, muncul seorang wanita dalam rumah tersebut tidak mengenakan jilbab, ketika ia tahu bahwa tamunya ialah teman pengajian suaminya, wanita tersebut masuk kembali ke dalam kamar, lalu muncul kembali dengan jilbab...astagfirullah..ternyata wanita tersebut istrinya, yang dulunya juga akhwat dengan jilbab yang rapi.<br /><br />Sudah cukup banyak cerita seorang aktifis da’wah yang futur, mulai dari yang ringan hingga yang paling berat, mungkin hari ini kita mendengarkan cerita tersebut dan hanya bisa mengelus dada, tapi yang lebih penting, kita semua harus terus berdoa dan mendekatkan diri pada Allah, agar kita nantinya tidak menjadi bagian dari cerita tersebut“. Amin..<br /><br />Kita tahu bahwa istiqomah tidak semudah yang diucapkan. Tapi lebih diuji pada saat pengejawantahannya. Ketika dulunya seorang aktifis sudah berkomitmen, maka ia harus menjadi pemenang, dengan mempertahankan komitmennya tersebut. Dan tidak sedikit yang futur dalam tarbiyah karena diawali dengan proses pernikahannya yang tidak islami, baik itu caranya maupun prosesnya itu sendiri.<br /><br />Setidaknya benar apa yang diucapkan murobbiku, ”Salah satu ujian kestiqohan dalam da’wah adalah menikah, antum bisa melihat keikhlasan mereka juga dari proses pernikahan mereka, sudah banyak aktifis da’wah yang tangguh di lapangan demonstrasi, atau tangguh ketika segudang amanah menumpuk pada pundaknya, tapi dari sekian banyak tersebut aktifis yang tangguh tersebut, hanya sedikit yang teruji komitmennya terhadap da’wah ketika dikorelasikan dengan pernikahannya. Ia mengganggap, bahwa pernikahan adalah masalah pribadi, maka ia berhak untuk mencari sendiri, hatta pilihan itu teman sekatifitasnya yang sudah diawali dengan hubungan mesra tanpa status.<br /><br />Padahal, pernikahan ialah proses membangun peradaban, dan termasuk dalam\n tahapan da’wah yang lebih luas menjadikan cahaya Islam tegak diatas segala-galanya. Karena ketika proses pernikahan kita syuro kan kedalam halaqah tarbiyah kita, setidaknya kita punya gambaran obyektif terhadap pernikahan kita nanti. Karena terlalu egois seorang ikhwan yang ingin menikah dengan akhwat pilihan hatinya sendiri saja, tanpa<br /><br />mempertimbangkan prospek da’wah yang lebih besar. Hal ini bukan pada masalah berarti seorang ikhwan tidak boleh memilih sendiri, namun pada masalah syuro dalam halaqah yang seharusnya lebih diutamakan. Karena terkadang ia sudah takut dahulu dengan syuro tersebut, padahal kalau antum tahu, syuro tidak pernah berpikiran jelek sedikitpun pada antum, selalu ingin kebaikan untuk antum sebagai aktifis da’wah, dan memberikan yang terbaik untuk antum, tapi kita lebih sering berpandangan sinis terlebih dahulu, tapi antum tetap harus optimis, dari sekian jumlah ikhwah yang futur, tapi masih lebih banyak lagi yang tetap istiqomah, karena mereka saling mengingatkan dan menguatkan“. Cerita dari murobbiku itu terus terang menenangkan hatiku. Memang, penting untuk bersabar dalam jamaah dan da’wah. Melebihi simulasi ketika kita dulu rihlah dengan jalan jauh. Lebih jauh dari itu, dan lebih sulit dari itu.".<br /><br />Dan murobbi ku menutup ceritanya dengan singkat Kita tahu bahwa istiqomah tidak semudah yang diucapkan. Tapi lebih diuji pada saat pengejawantahannya. Ketika dulunya seorang aktifis sudah berkomitmen, maka ia harus menjadi pemenang, dengan mempertahankan komitmennya tersebut. Dan tidak sedikit yang futur dalam tarbiyah karena diawali dengan proses pernikahannya yang tidak islami, baik itu caranya maupun prosesnya itu sendiri.<br /><br />Setidaknya benar apa yang diucapkan murobbiku, ”Salah satu ujian kestiqohan dalam da’wah adalah menikah, antum bisa melihat keikhlasan mereka juga dari proses pernikahan mereka, sudah banyak aktifis da’wah yang tangguh di lapangan demonstrasi, atau tangguh ketika segudang amanah menumpuk pada pundaknya, tapi dari sekian banyak tersebut aktifis yang tangguh tersebut, hanya sedikit yang teruji komitmennya terhadap da’wah ketika dikorelasikan dengan pernikahannya. Ia mengganggap, bahwa pernikahan adalah masalah pribadi, maka ia berhak untuk mencari sendiri, hatta pilihan itu teman sekatifitasnya yang sudah diawali dengan hubungan mesra tanpa status. Padahal, pernikahan ialah proses membangun peradaban, dan termasuk dalam tahapan da’wah yang lebih luas menjadikan cahaya Islam tegak diatas segala-galanya. Karena ketika proses pernikahan kita syuro kan kedalam halaqah tarbiyah kita, setidaknya kita punya gambaran obyektif terhadap pernikahan kita nanti.<br /><br />Karena terlalu egois seorang ikhwan yang ingin menikah dengan akhwat pilihan hatinya sendiri saja, tanpa mempertimbangkan prospek da’wah yang lebih besar. Hal ini bukan pada masalah berarti seorang ikhwan tidak boleh memilih sendiri, namun pada masalah syuro dalam halaqah yang seharusnya lebih diutamakan. Karena terkadang ia sudah takut dahulu dengan syuro tersebut, padahal kalau antum tahu, syuro tidak pernah berpikiran jelek sedikitpun pada antum, selalu ingin kebaikan untuk antum sebagai aktifis da’wah, dan memberikan yang terbaik untuk antum, tapi kita lebih sering berpandangan sinis terlebih dahulu, tapi antum tetap harus optimis, dari sekian jumlah ikhwah yang futur, tapi masih lebih banyak lagi yang tetap istiqomah, karena mereka saling mengingatkan dan menguatkan“.<br /><br />Cerita dari murobbiku itu terus terang menenangkan hatiku. Memang, penting untuk bersabar dalam jamaah dan da’wah. Melebihi simulasi ketika kita dulu rihlah dengan jalan jauh. Lebih jauh dari itu, dan lebih sulit dari itu.<br />Dan sekali lagi aku bersyukur, ketika malam setelah temanku Jono singgah ke tempatku, istri dan anakku menelpon<br />”Assalamualaikum abi, ni dedek opang mau ngomong“ kata istriku membuka.<br />”Abi..abi..accalamualaikum, cicak..., kakak..., aceh...“<br />anakku terus mengoceh dengan ceritanya. Aku terharu sekaligus bersyukur, dalam usia pernikahan tahun ketiga ini kami terus berusaha berada dalam suasana tarbiyah. Karenanya mungkin berkah itu yang membuat aku dan istriku tetap istiqomah dalam da’wah. Untuk terus membangun keluarga kami yang islami, agar keluarga kami juga menjadi keluarga yang menjadi bagian dari peradaban Islam yang lebih besar.<br /><br />Pokoknya malam itu aku betul-betul mendapat pelajaran yang berharga sehari. Ku coba lagi mengingat tentang kenangan da’wah ini, yang telah memberikan padaku sebuah ladang amal untuk ikut berkecimpung didalamnya, bahkan karena da’wah ini pula aku menikah, karenanya aku tak ingin mati di luar da’wah. Tak ingin menjadi seperti seekor laba-laba yang mengurai benang menjadi sarangnya, yang sepertinya kokoh menghadapi lawan, namun ternyata dengan mudah hancur karena terpaan angin. Ku putar lagi video ketika masih di da’wah kampus. Teringat aku akan nyanyian kami waktu itu<br /><em><br />Mengarungi samudera kehidupan<br />Kita ibarat para pengembara<br />Hidup ini adalah perjuangan<br />Tiada masa untuk berpangku tangan<br />Setiap tetes peluh dan darah<br />Tak akan hilang di telan masa<br />Segores luka di jalan Allah<br />Kan menjadi saksi kehidupan<br />Allah Ghayatuna<br />Arrosul qudwatuna<br />Al quran dusturuna<br />Al jihad sabiluna<br />Al mautu fi sabilillah asma amanina<br /><br />Allah adalah tujuan kami<br />Rasulullah teladan kami<br />Al quran pedoman hidup kami<br />Jihad adalah jalan juang kami<br />Mati di jalan Allah adalah cita-cita kami tertinggi</em><br /><br />Amin, semoga kami tetap bisa tegar dalam da’wah hingga 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun, hingga mati..agar suatu hari nanti kita bisa berkumpul lagi di jannahNya kelak, kita bisa bercerita tentang kenangan sulitnya dan haru birunya da’wah kita saat ini..amin ya robbal alamin.. [Yusvi]</span></div><div align="justify"><span class="fullpost" style="font-family:lucida grande;"> </div></span><span class="fullpost" style="font-family:lucida grande;"><div align="right"><em>(based on true story at January 7th, 2007...<br />Sekali lagi, Bangkit, Lawan, Hancurkan Tirani..Allahu Akbar!)</em><br /></span><em><span style="font-family:lucida grande;"><span class="fullpost"></div></span></span></em><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25117012-8587215689613972167?l=ceritadk.blogspot.com'/></div>cerita dakwah kampushttp://www.blogger.com/profile/10257354379333001642noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-25117012.post-9607652507919102272007-02-15T09:10:00.000+07:002007-02-15T09:13:10.120+07:00Kisah Anak Manusia<div align="justify"><span class="fullpost"><span style="font-family:lucida grande;">Tiba-tiba sebuah pesan YM masuk. Dari “adik”. Sudah lama tidak berbincang, kalau dibandingkan dengan kedekatan geografis antara kami. Kali ini, dia mengajak untuk bertemu.<br /><br />“Ada sesuatu yang penting mas. Butuh masukan dan dukungannya,” begitu pesannya.<br /><br />“Ada apa nih?” balasku, walaupun aku sudah punya sebuah praduga.<br /><br />Kami bertemu. Aku coba menatap, membaca mata dan wajahnya. Tepatkah gerangan dugaanku? Setelah malu-malu, meluncurlah pelan, sedikit demi sedikit kisah itu.<br /><br />“Mas sudah tahu, entah dari mana. Kalau saya punya hubungan ”dekat” (jari tangannya membuat sebuah apostrop) dengan seorang perempuan?”<br /><br />”Ya, sudah tahu.”<br /><br />”Oiya? Darimana?” tanyanya mulai tertarik.<br /><br />”Ikan tetap tercium walaupun ditutup koran.”<br /><br />Setelah menarik nafas panjang dan tersenyum, akhirnya dia berkata.<br />”Saya memutuskan untuk menyelesaikannya. Cukup sampai disini. Semua tidak sesuai dengan yang direncanakan. Tentang menopang bersama dan lain-lainnya”<br /><br />Alhamdulillah, Ya Allah. Dia berniat melakukannya. Hal yang sudah lama kunantikan. Ini adalah kabar terbaik setelah bulan Syawal ini. Bersanding sebelumnya di Ramadhan, mendapatkan seorang teman yang cerita panjang lebar, proses setengah agama –nya dengan seorang ”kakak”.<br /><br />Kami masing-masing tersenyum cerah.<br />”Nah...butuh bantuan nih mas…!” katanya menegaskan.<br /><br />”Apa lagi yang harus saya bantu? Kan udah bisa ambil keputusan sendiri. Atau ada yang mempengaruhi?”<br /><br />”Ya..pengaruh mah ada. Dari tarbiyah, teman serumah, departemen, atau lainnya. Tapi kesadaran ya muncul sendiri. Bahkan ada teman yang bilang, ”jika dengan pacaran, Allah banyak menegur orang dengan kejatuhan-kejatuhan baru kemudian sadar. Mungkin untuk kamu, tak perlu ditegur dengan kejatuhan. Karena akan sadar sendiri.” ”<br /><br />”nice quote. so...what else?”<br /><br />”Saya masih belum nemu, gimana cara ngomong yang baik ke dia. Tentu harus ada cara yang baik” wajahnya menampakkan kebingungan.<br /><br />”Hmmm, memang sebaiknya hati-hati. Jangan sampai untuk tujuan baik, kita melakukan dengan tidak baik”<br /><br />”Maksudnya?”<br /><br />”Ya...jangan buat sangat menyakitinya. Kepahaman itu harus di-share. Tapi kepahaman pun harus dibahasakan dengan baik”<br /><br />”Sepertinya gimana, kalo langsung to the point. Tapi saya belum nemu, gimana bahasanya. Makanya nih, butuh bantuan”<br /><br />Oh…masalah bahasa. Aku juga bukan ahli bahasa. Tapi senang, ada sebuah kepercayaan disana. Dan pastinya, kesempatan untuk berbagi.<br /><br />”Pada dasarnya semua manusia punya hati. Nah, Mari berusaha untuk tidak menyakiti hati manusia. Apalagi ini hal yang sensitif. Bisa-bisa, setelah kamu bicara dengannya, 180 derajat ia akan menjauh. Komunikasi sebuah tindakan mahal. Dan…kebencian itu akan sangat besar. Siapa sih yang mau, cinta yang merasa dia bangun terus dikandaskan, justru oleh orang yang dicintainya.” Apalagi wanita, konon cenderung ingin sebuah kepastian dan kesegeraan.<br /><br />“Ya…sepakat mas. Makanya itu. Jadi gimana? Masa mau langsung bilang, kita udahan sekarang. Jadi teman aja. Atau ada yang ngasih saran, untuk menjalaskan bahwa semua ditangan Allah. Kalau masih jodoh, insyaAllah akan bertemu lagi di masa depan.”<br /><br />Wah.., sudah masuk cukup dalam diriku sekarang.<br /><br />“Kalau menurut saya, orang yang ‘tersakiti’ itu tidak bisa berpikir wajar. Walaupun itu hal yang benar, tentang jodoh dan masa depan, tapi itu kelihatan klise. Benar, terlihat klise. Bisa bayangkan? Mungkin ia punya pikiran dan bilang ke kamu. “Kenapa kalau ingin putus sekarang,ngomong-ngomongin masa depan? Kalau mau putus, ya putus aja. Ga perlu bla bla. Emang ngapain dulu ngajak jalan bareng?” atau, “emang apa yang kita lakukan bukan sebuah usaha untuk menata masa depan?” sekali lagi, kita berhadapan dengan orang yang akan ‘tersakiti’. Nah..tapi gimana ya.. menyampaikan esensi tersebut dalam bahasa yang lebih baik?”<br /><br />Kami terdiam berpikir sejenak. Aku sendiri sengaja, tak segera menyampaikan. Menunggu aliran nafas yang tepat.<br /><br />“Ada juga saran mas. Untuk mengondisikan lewat teman atau sahabatnya. Ya..mungkin akan sakit pada saya. Tapi ntar lama-lama juga bakal dipahamkan sama sahabatnya. Tapi ini memang harus dilakukan.”<br /><br />“Ya..itu harus. Tapi tetap, kamu bilang sendiri juga. Masa ga berani!“<br />“Gini aja, kita sampaikan esensi tentang ketidaktepatan hubungan dekat ini, jodoh dan masa depan dengan bahasa yang lain.”<br /><br />“Gimana?” tanyanya penasaran.<br /><br />“Begini. Kamu sampaikan bahwa tindakan berduaan dan bentuk hubungan selama ini sudah terlalu jauh. Sungguh sanagt berbeda dengan apa yang dirangkai dulu. Tentang menggapai impian bersama…bla…bla. Dan di pandangan orang lain, tentu hal itu tidaklah baik. Itu yang pertama”<br /><br />“Yang kedua. Pada dasarnya manusia, entah dia sudah berapa tahun liqo, berapa banyak hafalan, betapa bersih dan sholehnya dia-tapi kamu ganti liqo dll dengan apa gitu-, pasti punya ‘kecenderungan’ atau rasa simpatik. Kalaupun tidak lama, setidaknya pernah. Saya percaya itu. Entah karena satu kegiatan, kepanitiaan, atau ketemu dimana. Dan dengan kecenderungan itu, manusia punya harap. Dan ketika akhirnya ‘hidup bersama’ dengan orang yang kita cenderung tadi, pun bukan dosa. Selama caranya dan harapan dipelihara dengan benar, yaitu dengan apa yang telah Islam ajarkan. Jadi, silahkan jujur juga padanya”<br /><br />“Jujur gimana mas?” wajahnya makin penasaran.<br /><br />“Bilang, ”kalau sekarang kita putus adalah sebuah keharusan. Sesuai dengan apa yang harus kita yakini, Islam. Dan karena semua punya kecenderungan, saat ini pun saya punya kecenderungan. Jika memang ini cinta sejati, dan Allah menjaganya, maka kita akan bertemu lagi. Tinggal berdo’a dan kita buktikan saja.” tapi awas, jangan buat seolah-olah kamu berjanji kepadanya. Jangan memberi harapan. Biarkan masing-masing memupuk harapannya. Sekali lagi, kalau ini sejati dan Allah menjaganya, masa depan insyaAllah dekat. Gimana?”<br /><br />Sengaja, aku tidak menghunus pedang layaknya Abu Bakar memerangi kaum murtad, atau Khalid membongkar tentara romawi. Atau Umar, yang memberikan goresan lurus di atas tulang kering dengan pedangnya untuk mengingatkan Muawiyah. Islam adalah Islam, dan manusia adalah manusia. Islam sesuai fitrah manusia.<br /><br />Ya Allah... Semoga cara ini jalan yang benar dan baik. Tidak sangat benar memang. Semoga baik.<br /><br />”Ya, mas. bisa itu. Bisa. Ada lagi ga mas?”<br /><br />“Ya…bisa kamu tambah-tambahin sendiri lah. kesana kemari nya..gimana lah. Kalau kamu di akhir pembicaraan bisa membuat semua berjalan baik, tak ada marah, tak ada air mata, tak ada pergi tiba-tiba, kamu telah melakukannya dengan baik. Thumb up!. Dan setelah itu, jangan lupa untuk masing-masing mendaki cita-cita, belajar, berdo’a, bermain, menikmati persahabatan, dan komunikasi selama wajar pun insyaAllah baik-baik saja.”<br /><br />**<br />Dua minggu kemudian. Melalui YM.<br /><br />”Gimana,” tanyaku kepadanya.<br /><br />”Alhamdulillah, baik mas.” ekspresi senyum nya keluar. ”Saat hari itu, aku bilang dan semua berjalan baik sesuai rencana. Tidak ada air mata, tidak ada akhir yang gelap. Kita bisa berhubungan sebagai teman biasa.”<br /><br />”Alhamdulillah.. bagus kalau gitu.”<br /><br />”Tapi sehari setelahnya, ada sms yang tak termaafkan.”<br /><br />”Oh...sms tak termaafkan? Maksut?”<br /><br />”Ada sms tak dikenal siapa pengirimnya, dikirimkan kepada sahabatnya sehari sebelum hari itu. Dan sehari setelah hari itu, sahabatnya memberitahukan kepadanya”.<br /><br />”Begini bunyi sms itu: ”Fulan memutuskan untuk berhenti pacaran. Tolong Anda (nama samaran perempuan tersebut) dikondisikan tentang pemahaman pacaran”.”<br /><br />”Langsung, Anda mengirimkan pesan padaku mas. Begini : ”Aku tau maksud kalian baik.. tapi caranya aku tidak suka. Aku merasa dikhianati oleh kamu dan temanku, orang-orang yang kupercaya”.”<br /><br />”Aku merasa. Akhir baik sehari sebelumnya menjadi usang. Buktinya, setelah sms itu dia tak pernah mau menjawab pesanku. Walaupun aku hanya meminta maaf.” dia selesai menjelaskan.<br /><br />”Tapi, insyaAllah niat di pengirim sms itu baik. Hanya caranya yang tidak baik. Sabar saja ya.. kita lihat nanti. insyaAllah akan reda selang beberapa hari. Memang kalau tidak hati-hati, batas antara kebencian dan kasih sayang itu tipis. Sabar ya..” aku coba meredakan.<br /><br />”Kira-kira, siapa yang mengirimklan sms itu ya mas?” tanyanya.<br /><br />”Aku tak tahu persis. Coba kau tanyakan kepada beberapa orang yang pernah kau ceritakan tentang hal ini,” aku menjawab dengan sebuah rasa yang bercampur.<br /><br />Dia memang pernah bercerita kepada dua orang temannya selain diriku, keduanya ’bocah’. Dan bahkan salah satunya seolah menjanjikan akan membantu melalui ’jaringannya’. Aku tak mau menuduh. Tapi, jaringan? Apakah semuanya dilakukan tanpa pemahaman akan kondisi manusia yang dihadapi?<br /><br />Apa semua harus dengan pedang, belati atau tombak? Tidak kah kita melihat, betapa sering Rasulullah berbicara dengan sopan, kepada arab badui atau orang kafir yang banyak melakukan tindakan tidak sopan di depan Beliau. Sampai Umar pun berkali-kali meminta izin Rasul untuk memenggal kepala orang-orang tersebut, dan selalu dilarang. Atau Umar sendiri, yang karena tindakan membebaskan burung yang dikurung seorang anak kecil, dimimpikan berada di surga oleh sahabat mulia setelah beliau wafat, dalam perbincangan antara Utsman atau Ali. Tidak menyakiti manusia bahkan binatang, jika masih ada peluang kebaikan disana.<br /><br />Tapi saat ini? Bukankah peluang kepahaman itu terbuka? Atau mungkin, karena mereka-mereka mungkin tak pernah merasakan ’tersakiti’. Sungguh, betapa itu tidak mengenakkan. Atau merasakan tidak nyamannya pernah ’menyakiti’ orang lain. Itu pun tak lebih enak dari ’tersakiti’. Hidupnya lurus. Sangat lurus. Dan dunia selalu baik-baik saja bagi mereka. Baik semuanya.<br /><br /><em>Aku tak tahu manusia seperti apa mereka<br />Tapi satu aku meminta,<br />Aku tak ingin seperti mereka</em><br />....</span></span></div><span class="fullpost"><span style="font-family:lucida grande;"><div align="right"><br /><em>-Seperti yang dituturkan seorang teman-</em></span></div></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25117012-960765250791910227?l=ceritadk.blogspot.com'/></div>cerita dakwah kampushttp://www.blogger.com/profile/10257354379333001642noreply@blogger.com1tag:blogger.com,1999:blog-25117012.post-1170383655643898022007-02-06T09:31:00.000+07:002007-02-05T13:38:50.833+07:00Pada Ashar Hari Kamis Di Akhir Pekan<div align="justify"><span class="fullpost"><span style="font-family:lucida grande;"><strong>Indhibath</strong><br />Alangkah idealnya apabila kita mampu menempatkan diri secara proporsional untuk bergerak bersama-sama kekuatan jama’ah yang ada. Sehingga melahirkan harmoni perjuangan yang bisa mengoptimalkan semua potensi. Meskipun dalam keberjalanannya sebagai gerakan amal, membangun ritme perjuangan yang konstant tidaklah mudah. Ia akan dibenturkan pada keadaan yang sesungguhnya dimana banyak sekali pilihan-pilihan yang terbuka. Dan semuanya itu bebas untuk ditentukan. </span></span><br /><span class="fullpost"><br /><span style="font-family:lucida grande;">Satu hal yang sangat wajar kita temukan pasang surut semangat berjuang para kader dakwah. Tentunya dalam batas-batas tertentu. Ada kalanya mereka bertumbangan dalam kelemahan yang sangat. Menghindar dari segala bentuk kewajiban dengan alasan yang cukup bisa diterima. Walaupun dalam momentum tertentu militansi mereka nyaris total. Namun kali lain seolah kekuatan itu menjelma hanya menjadi riak kecil keikhlasan saja. Yang akan hilang jika waktunya tiba, lenyap ditelan lautan. </span><br /><br /><span style="font-family:lucida grande;">Untuk itu kita perlu menciptakan konsistensi agenda dakwah yang termanifestasikan dalam program-program kerja. Sehingga ada keberlanjutan menjaga nafas panjang dakwah ini. Jangan sampai ketidakmauan dan ketidakmampuan kita dalam mengelola momentum dakwah akan memberikan dampak yang sangat luas bagi keberjalanan dakwah kedepannya.<br /><br /><strong>Mengoptimalkan Wajihah</strong><br />Manifestasi dari dakwah yang sesungguhnya adalah dalam bentuk amal yang nyata. Amal yang kemudian melahirkan pengaruh kebaikan ditengah-tengah masyarakat. Apakah mereka akan mendeklarasikan bergabung dalam barisan ini. Atau hanya menjadi simpatisan saja, minimal mereka tidak antipati terhadap gerakan yang diusung oleh kader-kader dakwah. Yang jelas keberadaan para kader di tataran operasional lapangan akan meneguhkan kembali tentang niat dan cita-cita perjuangan kita. Untuk melakukan transformasi masyarakat yang islami.<br /></span><br /></span><span class="fullpost" style="font-family:lucida grande;">Ujung tombak dari manifestasi itu adalah wajihah-wajihah amal. Perwajahan dari dakwah yang diusung para kadernya. Dakwah itu tidak untuk diri sendiri saja, akan tetapi harus ditebarkan sehingga menerangi semesta ini. Wajihah amal akan menjelma menjadi satu representative dari kekuatan para kadernya. Dari kesungguhan tekadnya dan keseriusannya dalam memikul amanah. Wajihah amal akan menjadi basis transformasi di masyarakat maupun dikampus melalui program-program kerjanya. Dan akan menciptakan arus baru melalui peran-peran politiknya.</span><br /><span class="fullpost"><br /><span style="font-family:lucida grande;">Disamping itu tidak ada yang menafikan bahwa kematangan diri para kader tidaklah cukup hanya pada rutinitas pekanan dan interaksi sesamanya saja. Tetapi harus konkrit dalam wilayah yang bersentuhan dengan orang banyak. Bergelut dengan dialektika umum dan menyelesaikan problematika social yang ada. Terkadang memang membutuhkan pemikiran yang khusus. Dan kesemua aspek ini dapat di bangun dalam kerangka kita mengoptimalkan wilayah amal social yang ada di kampus.<br /></span><br /></span><span class="fullpost"></span><span class="fullpost"><span style="font-family:lucida grande;">Apabila wajihah-wajihah yang ada di kampus telah sepi dari syi’ar Islam maka boleh jadi kecil pula sebenarnya kontribusi kita bagi dakwah ini. Jika wajihah ini telah ditinggal oleh para kadernya lantaran memilih kepentingan lain maka boleh jadi akan tergantikan oleh orang lain. Dan kita hanya menjadi penonton yang baik saja. Jika para kader telah mengesampingkan wajihah amal ini dengan alas an kesibukan dan tuntutan-tuntutan lain, boleh jadi sampai kapanpun kita belum siap mengemban amanah pemimpin ummat.<br /></span><br /></span><span class="fullpost"></span><span class="fullpost" style="font-family:lucida grande;">Jawabannya sangat tergantung pada komitmen dan integritas masing kita. Sesudahnya kepada Allah kita kembalikan segenap amal yang telah kita tunaikan.<br /><br /><strong>Penutup</strong><br />Pada ashar hari Kamis di akhir pekan, seorang kader dakwah seperti dituturkan Imam Hasan Al Banna keluar dari bengkel tempat ia bekerja. Malamnya ia sudah memberikan ceramah di sebuah pertemuan beberapa puluh kilometer dari tempatnya. Esok Jum’atnya ia berkhutbah dengan bagus ditempat lain yang jaraknya juga lumayan jauh. Asharnya ia memberikan pengarahan pada sebuah mukhayyam (camping) yang diikuti ratusan pemuda dari berbagai penjuru. </span><br /><span class="fullpost"><br /><span style="font-family:lucida grande;">Malamnya lepas isya ia menyampaikan arahan dalam sebuah dauroh besar. Ratusan kilometer dalam tempo 30 jam ditempuhnya, suatu perjalanan yang melelahkan. Namun esoknya dengan wajah cerah cemerlang dan hati yang tenang, ia telah tiba ditempat kerjanya lebih cepat, tanpa ribut-ribut mengisahkan kerja besar yang baru diselesaikannya. Wallahu’alam bisshawab. </span></span><br /><span class="fullpost" style="font-family:lucida grande;"></span><br /><span class="fullpost"><span style="font-family:lucida grande;"><em>[Wiyono K]</em><br /></span><br /></div></span><span class="fullpost"></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25117012-117038365564389802?l=ceritadk.blogspot.com'/></div>cerita dakwah kampushttp://www.blogger.com/profile/10257354379333001642noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-25117012.post-1168584584154380082007-02-01T13:48:00.000+07:002007-01-30T11:49:29.196+07:00Kita, Tempo Hari dan Saat Ini<span style="font-family:lucida grande;"><span class="fullpost">Sahabat...<br />pernahkah sesekali kita kenang tempo hari<br />saat kita tak tahu arah diri<br />saat kita tak mengerti tujuan hakiki<br />saat kita tak menikmati rasa berbagi</span><br /></span><span class="fullpost"><br /><span style="font-family:lucida grande;">Lalu...<br />saat itu hadir menyapa kita<br />sesosok makhluk yang kita sebut<br />kakak mentor<br />mengajari arti ketulusan<br />berbagi<br />mengajari arti kehidupan<br />sejati<br />mengajari sebuah cara<br />mengabdi<br /><br />Tidak kah kita ingin berbagi rasa ini<br />dengan sosok-sosok lain<br />yang selalu kita beri identitas<br />saudaraku seakidah<br /><br />Lalu...<br />mengapa betapa kelu lidah ini<br />untuk berkata</span></span><span style="font-family:lucida grande;"><br /></span><span class="fullpost"><em>"Saudaraku..., ikutan mentoring yu..."</em> </span></span><br /><span class="fullpost"><br /><span style="font-family:lucida grande;">-DFholic-<br /></span></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25117012-116858458415438008?l=ceritadk.blogspot.com'/></div>cerita dakwah kampushttp://www.blogger.com/profile/10257354379333001642noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-25117012.post-1168583455801364402007-01-22T13:27:00.000+07:002007-01-22T09:59:59.340+07:00Menanyakan Surga di Sebuah Kota<span class="fullpost"><span style="font-family:lucida grande;">Suhu udara berkisar 32 derajat<br />Namun lembab pengap hujan menyerbu kota<br />Park Royal tawarkan tipe apartemen terbarunya<br />Yang papa lincah berjingkat dari satu bis ke bis yang lain<br />Kaca-kaca film mobil dengan kehitaman tingkat tinggi<br />menyamarkan aib dan dosa para metropolis<br /><br />Siang yang masih berlangsung<br />Mengukuhkan ketinggian manusia-manusia<br />Ketinggian dilekatkan pada jiwa-jiwa yang tiada bertelekung malu<br />diletakkan pada dasi, lembur, dan promosi jabatan<br />muaranya pada perhelatan-perhelatan megah seputar Mulia dan JHCC<br />Demikian algoritma berbunyi<br /><br />Senja diusung masih terlihat jingganya di pintu tol Kebon Jeruk<br />Tak ada angin yang menyambut<br />Deru ambisi belum juga reda<br />Pada desak kendara-riuh rendah orang sekeliling<br />Sudirman terus berjaga ditingkahi naik turun nilai rupiah<br />Hingga weekend dihela dalam denting gelas bersulang<br /><br />Coba tanyakan pada surga pada mereka<br />yang terasa naif di tengah pengasingan ini<br />Coba tanyakanlah<br />Adakah perenungan-perenungan terkemas dalam ruang kecil kepadatan kota<br />Sampai-sampai tak nyaring bunyinya<br /><br /><br /><em>(Kaedekaoru)</em></span><br /></span><span class="fullpost"></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25117012-116858345580136440?l=ceritadk.blogspot.com'/></div>cerita dakwah kampushttp://www.blogger.com/profile/10257354379333001642noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-25117012.post-1168583953626033612007-01-15T13:35:00.000+07:002007-01-15T13:12:39.570+07:00cinta teman<span class="fullpost" style="font-family:lucida grande;">Sebagian merasa hidup ini tidak akan pernah mencapai maknanya tanpa kehadiran seorangpun teman. Teman adalah orang-orang yang dicintainya dan yang mencintainya pula. </span><br /><span class="fullpost" style="font-family:lucida grande;"></span><br /><span class="fullpost" style="font-family:lucida grande;">Orang-orang yang dengan keluasan hati menerima dirinya apa adanya, tanpa bumbu dan banyak cela.</span><br /><span class="fullpost" style="font-family:lucida grande;"></span><br /><span class="fullpost" style="font-family:lucida grande;">Menyayangi teman, sama sekali bukan berarti menafikan kecintaan kepada yang lain</span><br /><span class="fullpost" style="font-family:lucida grande;">Kecintaan kepada keluarga, kepada diri sendiri, sebab tiap-tiap jendela cinta memiliki ruangan tersendiri di hati yang tidak akan mampu disamakan dengan cinta-cinta lain</span><br /><span class="fullpost" style="font-family:lucida grande;"></span><br /><span class="fullpost" style="font-family:lucida grande;">Yang kesemuanya tidak saling berhimpit tidak pula bersinggungan. Namun tiap-tiap kecintaan mengisi bilik-bilik hati yang berbeda-beda. Kesemua cinta hendaknya merupakan suatu refleksi cinta kepada Allah SWT. Suatu pendaran keemasan dari keimanan, desiran sejuk angin kerinduan, dan deburan tegar ombak keistiqomahan.</span><br /><span class="fullpost" style="font-family:lucida grande;"></span><br /><span class="fullpost" style="font-family:lucida grande;">Teman, bagiku kata itu adalah ungkapan kerinduan dan sejuta harapan. Harapan untuk dapat saling menegur dan meneguhkan. Membuang jauh-jauh kata perbedaan dan mencoba untuk mengawali segalanya dari kesamaan. Pada kata itu kutemukan hakikat hidup dan kehidupan, karena bersamanya aku menahan derita dan sengsara, gundah dan gulana, namun begitu manis terasa segala kerutan layar perjuangan karena Allah lah yang telah membuatnya.</span><br /><span class="fullpost" style="font-family:lucida grande;"></span><br /><span class="fullpost" style="font-family:lucida grande;">Teman, bertemankan jiwa-jiwa yang ber-izzah mulia dan ghiroh menggelora, dengan segidang ide dan idealisme yang Robbani. Meniti jembatan yang sama, dengan tekad yang serupa dan seragam kebesaran jiwa. Bukan untuk sekedar menghabiskan sisa minuman kehidupan dunia, tapi hidup untuk sebuah cita yang takkan pernah kandas sia-sia. Pantas saja jika Rosululloh mewasiatkan agar kita menjadikan mereka yang sholeh sebagai teman kepercayaan.</span><br /><span class="fullpost" style="font-family:lucida grande;"></span><br /><span class="fullpost" style="font-family:lucida grande;">Ah teman, harus kita terima bahwa berteman bukan berarti untuk selalu bersama secara harfiah</span><br /><span class="fullpost" style="font-family:lucida grande;"></span><br /><span class="fullpost" style="font-family:lucida grande;">Suatu saat pasti kita akan terpisah pula. Menempati lini-lini berbeda di setiap sudut kehidupan, agar setiap insane dapat tersentuh cahayaNya</span><br /><span class="fullpost" style="font-family:lucida grande;"></span><br /><span class="fullpost" style="font-family:lucida grande;">Teringat serangkaian syair milik Munsyid Saujana ini kusuntingkan untukmu :</span><br /><span class="fullpost" style="font-family:lucida grande;"><em>Sedingin embunan dedaun kehijauan, </em></span><br /><em><span class="fullpost" style="font-family:lucida grande;">sesegar ingatan kenangan kisah silam</span><br /><span class="fullpost" style="font-family:lucida grande;">Kita seiring bersatu dan berjuang, </span></em><br /><em><span class="fullpost" style="font-family:lucida grande;">meniti titian persahabatan</span><br /><span class="fullpost" style="font-family:lucida grande;">Kau hadir bawa cahaya, </span></em><br /><em><span class="fullpost" style="font-family:lucida grande;">terangi hatiku teman</span><br /><span class="fullpost" style="font-family:lucida grande;">Saling memerlukan dan mengharapkan</span><br /><span class="fullpost" style="font-family:lucida grande;">Tangis gembira saat bahagia, </span></em><br /><em><span class="fullpost" style="font-family:lucida grande;">moga kan kekal menuju Syurga</span><br /><span class="fullpost" style="font-family:lucida grande;">Kerana Tuhan kita ditemukan, </span></em><br /><em><span class="fullpost" style="font-family:lucida grande;">andai terpisah, itu ketentuan</span><br /><span class="fullpost" style="font-family:lucida grande;">Sengketa dan kesilapan itulah fitrahnya insan </span><br /><span class="fullpost" style="font-family:lucida grande;">Kata dan teguran itulah pedoman</span></em><br /><br /><div align="right"><span style="font-family:lucida grande;"><span class="fullpost"><em>saudara, </em></span></span></div><div align="right"><span style="font-family:lucida grande;"><span class="fullpost"><em>mencari cinta dan surga</em></div></span></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25117012-116858395362603361?l=ceritadk.blogspot.com'/></div>cerita dakwah kampushttp://www.blogger.com/profile/10257354379333001642noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-25117012.post-1168583575768630482007-01-10T13:32:00.000+07:002007-01-12T13:56:47.803+07:00umat ini sedang sakit<span class="fullpost"><span style="font-family:lucida grande;">Senja merah.<br />Di sebuah menara gading yang tinggi menjulang ke kaki langit,<br />Berdinding kaca. Futuristik. Aroma kesibukan tercium dari kejauhan. Perangkat-perangkat digital yang mengagumkan, memang dirancang untuk problem solving yang luar biasa.<br />"Aarrggh..!!"<br />sesosok tubuh menapak terhuyung - huyung. Biru. Nanar. Sakit.<br />"Tolong aku..", nafasnya tersengal. Sepatah-patah terhembus. Sesak.<br />Sekumpulan manusia berbaju putih menyambutnya dengan senyum lembut.<br />"Kemarilah..", ucap seorang manusia putih. Menghamparkan tangannya selebar bumi.<br />Ada taman harap di sorot matanya.<br />"Tolong aku.." tubuh itu terhempas mendekat. Mengatur denyut periode demi periode.<br />"Aku sakiiit..", adunya pilu.<br />"Namaku.. aarggh.., Umat. Kalian pasti mengenalku", Umat mendekap dadanya yang makin perih.<br />"Baginda kalian sangat mencintaiku, hingga sakaratul maut pun ia menyebut namaku dalam risaunya. Aku datang, untuk menagih pada kalian cinta yang sama seperti milik Baginda. Aku datang untuk sembuh.."<br />" Anda datang ke tempat yang tepat, Umat.<br />Kami akan menangani Anda. Perkenalkan, ini adalah laboratorium da'wah", salah satu manusia putih mantap berucap. Bangga ia perlihatkan ruangan biru yang remang oleh cahaya sinar-Z.<br />Umat dibaringkan di sebuah kasur putih. Merelakan dirinya dikelilingi manusia-manusia cerdas yang akan mendiagnosanya.<br />Ia menanti pasrah. Mempertahankan harap kesembuhan.<br />"Hmm..", manusia pertama angkat bicara.<br />"Aku rasa ia butuh puyer bintang-bintang, kawan. Dari hasil pengamatanku, lambungnya akan lebih mudah menerima puyer bintang-bintang dibanding pil Kita, pil Kami, atau pil Kada"<br />"Tidak, manusia pertama!", sergah manusia putih yang lain<br />"Yang lebih penting untuk kita pikirkan adalah berapa kali sehari ia harus mengkonsumsi obat. Tak peduli jenis obatnya, baik puyer ataupun pil, jika frekuensinya cukup sering, niscaya ia akan sembuh"<br />Umat membisu, mengamati jalannya diskusi seru.<br />Ia memang buta pengobatan dan prosedur kedokteran.<br />Tapi ada hal yang aneh, mengapa tak satu pun dari mereka yang mengeluarkan stetoskop atau sphygmomanometer untuk mengecek denyut jantung dan tekanan darahnya? Entahlah..<br />"Begini, para manusia yang terhormat", manusia tiga akhirnya turut sumbang suara.<br />"Saya mencoba memberikan alternatif pemikiran, semakin luas permukaan sebuah obat, maka semakin banyak kuman yang terlibas permukaan obat dan akan mati, sehingga semakin cepat Umat sembuh."<br />"Otak kreatif saya terfikir tentang sebuah jenis obat kreatif yang mampu menyembuhkan penyakit sekreatif apapun. Yaitu..."<br />"Obat bola pingpong!!", manusia tiga tersenyum bangga.<br />"Pertama, kita ukur diameter rongga mulut, kerongkongan hingga usus halus Umat, kita ambil nilai rata-ratanya. Lalu, kita cetak obat sebesar diameter tersebut, dan kita gulirkan dari rongga mulut hingga mencapai muara terakhir pencernaaan. Maka semua kuman PASTI MATI!", pemaparan deskriptif, ilmiah, yakin dan bersemangat yang disampaikan manusia tiga disambut applaus spontan rekan-rekannya.<br />"Ide brillian!"<br />"Cerdas!"<br />"Tadi sebenarnya saya juga sudah kepikiran sih.."<br />Berbagai komentar dukungan dari manusia putih lain membahana. Semua terkagum kagum, kecuali...<br />Umat!<br />Ia terngaga, jengah sekaligus keheranan.<br />"Woiii.. Apa-apaan sih kalian?<br />Apa yang kalian ributkan? Menyentuhku pun kalian belum!<br />Menanyakan apa penyakitku pun kalian beluuuum!", Umat membentak penuh gejolak.<br />Hipokrit. Absurd.<br />"Memangnya kalian sudah tahu AKU SAKIT APA??<br />Kalian akan membuat KOMPOSISI OBAT SEPERTI APA??<br />Ku tak peduli.<br />Puyer bintang-bintang, bulan-bulan, atau matahari sekalipun.<br />Pil kek, sirop kek, tablet kek, kapsul kek.<br />Sekali, dua kali, bahkan 1000 kali pun sehari jika perlu, KUJALANI.<br />Besar, kecil.<br />Ku tak peduli!!<br />Yang penting : AKU SEMBUH", Umat tersengal dalam luapan penyadaran.<br />Lelah.<br />Manusia-manusia berbaju putih terdiam. Saling memandang dalam hening.<br />Menerawang kebiruan ruangan.<br />Berpikir, apa yang terlewat oleh kita?<br />--<br />Hehe..Ngerti ga maksudnya??:)<br />Mudah-mudahan ga terlalu melangit tinggi.<br />Just to open up our mind.<br />Agar kita mampu berpikir esensi, bukan sekedar meributkan hal-hal praktis yang bukan menjadi inti permasalahan, tapi melelahkan.<br /></span></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25117012-116858357576863048?l=ceritadk.blogspot.com'/></div>cerita dakwah kampushttp://www.blogger.com/profile/10257354379333001642noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-25117012.post-1166677863562435772006-12-22T04:05:00.000+07:002007-01-30T11:50:30.826+07:00Untuk Ibuku...<span style="font-family:lucida grande;"><span class="fullpost">Bu, </span><br /><span class="fullpost">Bagaimana rasanya saat ku bergumul di rahimmu </span><br /><span class="fullpost">Apa aku begitu membuatmu sakit? </span><br /><span class="fullpost"></span><br /><span class="fullpost">Malam pernah bercerita padaku, </span><br /><span class="fullpost">Peluh tak pernah lepas dari ragamu </span><br /><span class="fullpost">Kantuk tak pernah diijinkan hadir dalam malammu </span><br /><span class="fullpost">Kau mengerang ketika ku menendang </span><br /><span class="fullpost">Dan aku terlelap sedang kau tak hentinya menguap </span><br /><span class="fullpost"></span><br /><span class="fullpost">Kini, saatku beranjak berkepala dua </span><br /><span class="fullpost">Aku sadar tak banyak yang telah kuperbuat </span><span class="fullpost">tuk kembalikan malam-malammu </span><br /><span class="fullpost">Tak banyak pula yang bisa kuhadiahkan </span><span class="fullpost">tuk sembuhkan </span><br /><span class="fullpost">sobekan pada rahimmu </span><br /><span class="fullpost">aku hanya bisa berkata </span><br /><span class="fullpost">aku sayang ibu.. </span><br /><span class="fullpost"></span><br /><span class="fullpost">Bu, </span><br /><span class="fullpost">jika ku jadi ibu nanti </span><br /><span class="fullpost">tolong temani malam-malamku ya? </span><br /><span class="fullpost">Dan jahit sobekan pada rahimku </span><br /><span class="fullpost">dengan segenap kasih sayangmu </span><br /><span class="fullpost">Aku takut bu.. </span><br /><span class="fullpost">--- </span><br /></span><span style="font-family:lucida grande;"><span class="fullpost"><span style="font-size:78%;"><em>(Anita-kumpulan puisi PBT ITB 2006)<br /></em></span><br /><em>untuk ibuku, semua ibu dan calon ibu,</em></span><br /><span class="fullpost"><em>selamat hari ibu...</em></span><br /><em></em></span><span class="fullpost"><br /></span><span class="fullpost"></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25117012-116667786356243577?l=ceritadk.blogspot.com'/></div>cerita dakwah kampushttp://www.blogger.com/profile/10257354379333001642noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-25117012.post-1163752567249002202006-11-17T15:30:00.001+07:002006-11-17T15:36:07.260+07:00Pesan Terakhir<span style="font-family: georgia;"> Sahabat,</span><br /><span style="font-family: georgia;"> Andainya kematian kau tangisi</span><br /><span style="font-family: georgia;"> Pusara kau siram dengan air matamu</span><br /><span style="font-family: georgia;"> Maka diatas tulang belulangku yang sudah luluh</span><br /><span style="font-family: georgia;"> Nyalakan obor untuk ummat ini</span><br /><span style="font-family: georgia;"> Dan lanjutkan gerak merebut kemenangan</span><br /> <br /><span style="font-family: georgia;"> Sahabat,</span><br /><span style="font-family: georgia;"> Kematianku hanyalah suatu perjalanan</span><br /><span style="font-family: georgia;"> Memenuhi panggilan kekasih yang merindu</span><br /><span style="font-family: georgia;"> Teman-teman indah di syurga Tuhan</span><br /><span style="font-family: georgia;"> Terhampar menanti</span><br /><span style="font-family: georgia;"> Burung-burungnya berpesta menanti ku</span><br /><span style="font-family: georgia;"> Dan berbahagialah hidupku disana</span><br /> <br /><span style="font-family: georgia;"> Sahabat,</span><br /><span style="font-family: georgia;"> Cahaya kegelapan pastikan lebur</span><br /><span style="font-family: georgia;"> Fajarkan menyingsing</span><br /><span style="font-family: georgia;"> Dan alam ini kan disinari cahaya lagi</span><br /><span style="font-family: georgia;"> Relakanlah rohku terbang menjelang rindunya</span><br /><span style="font-family: georgia;"> Jangan gentar berkelana ke alam abadi</span><br /><span style="font-family: georgia;"> Disana cahaya fajar memancar.</span><br /> <br /><span style="font-family: georgia;">-Sayyid Qutb</span><span style="font-family: georgia;">, 1966-<br /></span><div style="text-align: right;"><span style="font-family: georgia;"></span><span style="font-family: georgia; font-style: italic;">Egi Bagja</span><br /><span style="font-family: georgia; font-style: italic;"></span></div><span style="font-family: georgia; font-style: italic;"><br /></span><div class="blogger-post-footer"><img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25117012-116375256724900220?l=ceritadk.blogspot.com'/></div>cerita dakwah kampushttp://www.blogger.com/profile/10257354379333001642noreply@blogger.com0