Thursday, January 31, 2008
Sepucuk Surat dari Sahabat Dakwah FSLDK (We Miss U)

Hujan semakin deras mengguyur Depok. Jaket hijauku kurapatkan ke tubuh. Masjid Ukhuwwah UI cukup sepi, hanya beberapa orang ikhwan terlihat asyik menekuri mushaf Al-Quran di lantai bawah. Aku tidak mungkin balik ke Surabaya hari ini, karena besok masih ada bahan proposal yang harus aku cari di perpustakaan. Alhamdulillah, ada adik ikhwan teman seperjuangan FSLDKN XII yang akan menjemput.

Sekedar mengusir sepi, kuayun langkah ke arah mading. ‘Info FSLDK’, tulisan itu segera menyita perhatianku. FSLDK kembali mengadakan aksi serentak penolakan terhadap pelarangan jilbab di sekolah negeri oleh pemerintah Perancis. Targetnya Kedubes Perancis untuk Indonesia ‘di-PHK’. Wonderfull! Ghirahku menggelora. Aku ingat semua kenangan setahun lalu, suka duka FSLDKN XII.

“Afwan Mas, ana telat”. Suara seorang ikhwan mengagetkanku. Beriringan kami menuju mobil di depan gerbang mesjid. Di sepanjang jalan, Ahmad dengan sedih bercerita tentang kondisi tim FSLDK sekarang yang kurang semangat, kurang solid dan sederet kondisi lainnya. “Untuk mengkoordinir aksi jilbab Perancis itu saja sulit”, katanya.

Rona sedih mulai membayang di wajahku. Teringat betapa ikhwah-ikhwah sebelumnya yang penuh ghirah mengemban amanah ini. Aku ingat, waktu itu juga kami sempat mengalami ‘kelemahan ghirah’, sampai seorang ukhti mempersembahkan sebuah rangkaian kata mutiara yang tersusun indah, sebuah taushiyah. Seorang ukhti yang selalu mengusung amanah dakwah dengan penuh ghiroh jihad, walaupun kanker tengah menggerogoti tubuhnya. Semoga Allah merahmatimu di FirdausNya, ukhti fillah!

Untuk antum yang sedang mengemban amanah di Lembaga Dakwah Kampus –bersama Forum Silaturrahminya- serta antum yang mengemban amanah di wajihah mana pun, kubuka kembali copy surat taushiyah yang masih kusimpan indah sampai hari ini. Semoga untaian hikmahnya menyalakan kembali ghiroh juang kita, di wajihah mana pun kita.

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh

Subhanallah, nahmaduhu wa nastaghfiruhu, Ash-sholatu wassalamu ‘ala rasuluhu, Muhammad SAW.

Ana awali tulisan ini dengan merangkai basmalah dan istighfar, semoga Allah menjaga untaian kata ini dari berbagai fitnah, dan menjadikannya semata untuk perbaikan dakwah. Sebab, pada Allah lah semuanya bermuara. Nur-Nya lah yang akan mampu menunjuki kita pada perbaikan kualitas dalam mengemban amanah mewarisi misi para Nabi ini, Insya Allah.

Bersama bait-bait nada ‘La Tas-aluni’ dari klub nasyid Tarbiyah, ana menekan tuts-tuts keyboard, mengajak kita semua merenungi kembali dan bertanya kembali tentang kehidupan kita ini. “La tas-aluni ‘an hayati, fahia asrorul hayat …” (Jangan kalian tanya tentang hidupku. Ia adalah kehidupan yang penuh misteri... )

Kesempurnaan adalah sebuah hal yang mustahil kita raih, dalam kapasitas apa pun. Namun, cukup lah ke-Maha Sempurna-an Allah menjadi motivasi bagi kita untuk terus meningkatkan kualitas amal kita. Karena, kita bergantung kepada zat yang Maha Sempurna, akan kah kita ‘merasa nyaman’ dengan berbagai kekerdilan diri kita tanpa upaya perbaikan yang kontinyu?

Ikhwah,
FSLDK adalah sebuah amanah besar yang ada di pundak kita saat ini, dan di sekeliling kita, begitu banyak ikhwah yang setia menanti karya-karya besar kita untuk akselarasi dan sinergisasi gerak dakwah lewat wajihah Lembaga Dakwah Kampus ini. Perjalanan amanah ini menuntut profesionalisme kerja dari kita semua. Amanah yang nantinya akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Ikhwah,
Adalah layak untuk kita mengevaluasi perjalanan amanah kita sampai hari ini. Sudah optimalkah kita menjalankan amanah kita? Puluhan juta, bahkan ratusan juta dana yang kita habiskan tiap dwitahunan dalam washilah FSLDK, adakah itu sebanding dengan manfaat yang kita peroleh dalam penataan LDK se-Indonesia? Mari membuat daftar pertanyaan sebanyaknya!

Ikhwah,
Kalau jawabnya kita belum optimal, apa penyebabnya? Apakah pemahaman kita tentang washilah ini yang kurang, kemampuan kita kah yang terbatas, atau –naudzu billah- ruh dakwah kita kah yang mulai hambar? Kalau jawabnya tidak sebanding, apa yang harus kita lakukan? Manajemen kita kah yang harus diperbaiki, atau memang washilah ini kurang tepat guna?

Mari cari jawaban dari tiap pertanyaan itu!

Ikhwah,
Ana –dan ana yakin antum juga- punya sebuah ‘mimpi indah’. Mimpi yang membuat ana sedih, ketika di pagi hari ana dihadapkan pada kenyataan bahwa ana harus membuka jendela kamar. Kesedihan yang kemudian ana sadari semestinya menjadi bahan bakar ruh jihad dan nafas harokah islamiyyah. Antum tau, ketika itu aroma yang tertangkap oleh indera pembau adalah aroma kering … aroma kelelahan zaman menanti hadirnya sosok-sosok mujahid dakwah yang mengusung SEMANGAT BARU, menapaki jejak-jejak pemuda Ash-Habul Kahfi mencari ridho Ilahi.

‘Kegelisan zaman itu seakan berbisik lewat angin yang berhembus perlahan, bersama mentari yang mengintip malu di balik awan. Dia bergumam: kapan kah gerangan para warotsatul anbiya’ itu berteriak lantang untuk menebar semerbak harum syariat Islam di bumi ini?

SEMANGAT BARU JEJAK PEMUDA ASH-HABUL KAHFI MENCARI RIDHO ILAHI …………………….

Mimpi itu ikhwah, ana yakin bukan lah cerita negeri dongeng, atau lakon kartun yang utopi. Mimpi itu hanyalah sebuah harapan sederhana, yang berkisah tentang dakwah yang semerbak, bak bunga-bunga mekar di taman firdaus.

Bayangkan ……………..

Suatu hari antum terbangun di sepertiga akhir malam, sekitar jam 3 WIB. Setelah memanjatkan doa, antum bangkit dan beranjak ke kamar mandi. Air wudhu mengaliri anggota tubuhnya meninggalkan kesejukan yang lembut. Lalu pakaian sholat yang harum mulai antum rapikan di tubuh yang ringkih ini. Sesaat sebelum lafaz niat qiyamullail antum lantunkan, indera pendengar antum menangkap sayup-sayup suara tangis yang syahdu menyayat hati. Subhanallah, suara itu milik tetangga sebelah kanan rumah yang sedang qiyamul lail juga. Bukan suara tangis menahan malu karena aib yang tercoreng akibat pergaulan anak gadisnya, bukan pula korupsi yang dilakukan sang ayah atau sejenisnya. Antum pun tertegun sesaat, sembari menggeser posisi sajadah yang mulai ‘kumal’ di ujungnya, pertanda sering dipakai sujud.

Tarikan nafas perlahan berusaha menghadirkan segenap molekul tubuh, dalam ‘perjalanan cinta’ yang akan antum lakukan, menemui zat yang antum akui sebagai Ilah, zat yang padaNya, semua harap dan cinta bermuara. “Yaa ayyuhal-ladziina aamanuu, hal adullukum ‘alaa tijaarotin tunjiikum min ‘adzabin aliim? Tu’minuuna billaahi wa rosuulihii wa tujaahiduuna fi sabiilillah …” lamat-lamat lantunan kalam ilahi itu kembali menyita perhatian antum. Suara itu mengalun syahdu diiringi sesekali isak tangis, seirama dengan tiap kata yang terucap. Pemiliknya tak lain adalah pemuda tetangga sebelah kiri rumah antum.

Perniagaan yang menguntungkan … Rabb … indah nian ni’matMu pada kami yang hina ini. Takbiratul ihram pun antum lantunkan penuh kasyahdua., Kesyahduan yang membawa rindu membuncah, bertemu dengan Rabb sekalian alam.

Suara adzan di masjid mengakhiri untaian do’a panjang antum. Sebuah doa yang berisi pengaduan akan begitu banyak kelemahan dan kesalahan diri, dalam mengemban amanah menjadi khalifah Allah di bumi, amanah yang sebelumnya ditolak oleh seluruh langit dan bumi. Do’a itu berharap pula akan pertolongan Allah untuk para mujahidun di berbagai belahan bumi. Mereka … para pahlawan sejati yang telah menukar Ridha Allah dengan harta, tenaga, dan jiwa mereka.

Mereka … para petarung yang tak pernah surut walau selangkah, dan tak pernah henti walau sejenak. Mereka yang dengan lantang selalu meneriakkan: ALLAHU AKBAR!!! Dalam tiap ritme perjuangannya.

Hampir saja antum tidak mendapat tempat dalam barisan jamaah shalat shubuh, karena antum tiba terlambat, tepat saat muadzzin membaca iqomat. Seluruh jamaah berdiri dalam shaf yang rapi. Pakaian rapi melengkapi wajah-wajah teduh yang selalu terbasuh air wudhu itu. Allah … serasa shalat bersama jamaah para shahabat, degan Rasulullah SAW menjadi sang imam. Kerinduan akan jannahNya semakin membuncah.

Jam menunjukkan pukul tujuh ketika antum membaca doa keluar rumah, dan mengawali langkah dengan kaki kanan. Antum akan menuju kampus hari ini. Di halte, bus kampus berhenti ‘menjemput’ antum. Dengan riang antum menyapa pak sopir lewat salam : “assalamu’alaikum pak, shobahal khoir …”. Tentu antum tak perlu berkelit kesana kemari menghindari bersentuhan dengan non-mahrom, karena bus hanya terisi kaum sejenis dengan antum; Tak Ada Ikhtilath!

Sampai di kampus, antum menikmati kuliah dengan tenang, tanpa harus khawatir akan terkena zina mata, zina hati de-el-el, karena semuanya berjalan dalam sebuah sistem qurani. Setiap bahasan akan mampu meningkatkan ruhiyah antum. Satu lagi … semua fasilitas dapat antum nikmati GRATIS!, karena zakat, infak dan shadaqah kaum muslimin lebih dari cukup untuk membiayai semuanya. SUBHANALLAH ….!!!

Innamal Mu’minuuna ikhwah … Hari itu antum lalui dengan aktivitas yang membangun ‘kesalihan pribadi dan ummat’. Antum saksikan pula bagaimana Allah memenangkan hambaNya lewat ukhuuwwah yang terangkai indah. ISLAM ADALAH RAHMATAN LIL ‘ALAMIN.

Sekarang … buka lah mata antum, lihat lah kembali realita! Ternyata, kita belum dalam dunia indah tadi! Kita masih di sini! Di Sumatera, di Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua … yang masih menanti perjuangan para mujahid. Kita masih berjuang di sini! Di FKI Rabbani, Salam, Gamais, JN UKMI, JMMI, Pusdima, Sentra Kerohanian Islam, UKM Birohmah, dan lainnya. Berjuang lewat wajihah LDK tuk sebuah tujuan mulia: TEGAKNYA IZZAH ISLAM WAL MUSLIMUN!

Dan … perjalanan perjuangan itu ikhwah. Masih jauh … hampir tak bertemu ujung. Penuh aral nan melintang, penuh onak dan duri. Karena Langkah ini adalah langkah-langkah abadi,
Menapak tegak laju tanpa henti. Tak pernah rasa rugi menapak jalan ini, Syurga Allah menanti

Sekali lagi ikhwah, kita masih di sini! Di jalan dakwah ini! Kita di sini untuk berjuang! Setia mengusung cita: HIDUP MULIA ATAU SYAHID MENGGAPAI SYURGA!

Karena itu ikhwah … Mari berkarya, dengan yang terbaik yang kita punya tentunya. Jangan pernah malas dan jemu berkorban untuk perniagaan ini! Berjuanglah ikhwah! Dan teruslah berjuang! Sampai Allah, RasulNya dan orang-orang mukmin menjadi saksi akan perjuangan itu. AllahuAkbar!!!

ukhti uni
Eramuslim, 19/02/2004

posted by cerita dakwah kampus @ Permalink ¤21:57   9 comments
Friday, January 11, 2008
1429 Hijriyah
Selamat Tahun Baru Islam 1429 H.
Sejauh mana langkah yang sudah kita ayun di tahun-tahun yang berlalu?

Seringkali perubahan adalah sesuatu yang begitu sulit dilakukan.
Ayyuhal ikhwah... mari kita saling mengingatkan...
posted by Edwards @ Permalink ¤15:51   2 comments
Monday, October 22, 2007
Kisah Ramadhan
"Ramadhan di kampus gimana,Mba?"aku memulai percakapan.
Kulihat ia terdiam sebelum akhirnya memutuskan untuk menjawab pertanyaanku. "Ramadhan saya..."
***
Aku sudah melakukan antisipasi mengingat bahwa jadwal kuliahku tidak akan jadi lebih longgar walaupun sekarang bulan suci Ramadhan. Setiap waktu luang di sela-sela mata kuliah akan kuisi dengan tilawah,tahfidz. Toh, ritme tilawahku udah meningkat mulai Rajab kemarin.Tapi,tidak akan kuporsir terlalu banyak.Lagian aku tidak mau malah jadi menzhalimi diri sendiri, kalau aku memaksakan untuk melakukan hal yang 'dahsyat'.Aku sudah melihat jadwal perkuliahan, libur Ramadhan insyaAllah akan mulai seminggu sebelum Idul Fitri. Ya ,di minggu terakhir Ramadhan , yang di salah satu malamnya adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan, aku bertekad untuk beribadah semaksimal mungkin.

Toh saat itu aku sudah tidak dipusingkan oleh jadwal UTS dan tugas-tugas kuliah yang menumpuk.Minggu pertama berlalu...Ibadahku alhamdulillah masih terjaga, ya itu tadi, karena targetannya tidak terlalu tinggi. Daripada menargetkan tinggi-tinggi,malah stress kalau tidak kesampaian.Minggu kedua juga lewat, aku baru menyelesaikan satu UTS. Ibadahku mulai keteteran, shalat tarawih terlewat gara-gara kecapean. Duh, baru satu UTS. Serem juga kalo begini terus. Aku memutar otak , gimana ya, supaya keteledoranku tidak berlanjut.Minggu ketiga, saat Allah memberiku jatah untuk istirahat. Sekalian introspeksi.

Tapi tetap saja, aku malah disibukkan dengan titipan-titipan yang harus kubawakan untuk orang rumah. Insya Allah, besok aku harus lebih baik, tekadku kuat.Minggu keempat, di rumahKulihat jadwal i'tikaf yang diberikan masjid dekat rumahku. Masih terngiang suara temanku di telepon tadi, menanyakan kesedianku untuk i'tikaf bersamanya. Ah, andai aku bisa. Sudah dua hari ini perutku tidak bisa diajak kompromi, aku muntah-muntah. Badanku lemas sekali. Aku sempat memaksa ibuku agar mengizinkanku beri'tikaf malam ini, tapi beliau tidak setuju.

Benar saja, malamnya perutku kambuh lagi. Tak terbayangkan kalau aku sedang beri'tikaf malam ini. Bukannya menambah kedekatan diri dengan Allah, bisa-bisa aku malah merepotkan jamaah lain yang sedang khusyu beri'tikaf.Aku sempat berpikir. Apa salahku, Ya Rabb. Sampai-sampai Engkau tidak mengizinkanku meraih pahala berlipat ganda di bulan penuh barokah ini.Ramadhanku yang ingin ku maksimalkan di akhirnya serasa kosong saja.Tapi,aku yakin , selalu ada hikmah dari tiap kejadian yang kualami.
***

Kulihat wajahnya jadi sedikit murung, tapi seketika berubah cerah. "Saya jadi tersadarkan, De.Sekalipun persiapan kita sudah optimal dari bulan Rajab, kita tetap saja tidak bisa melawan ke Mahakuasaannya Allah.Kalau semua yang kita rencanakan ternyata nggak sama dengan rencana Allah, kita bisa apa? Banyak orang merasa sudah siap menyambut Ramadhan, salah satunya saya. Tapi, nyatanya... Allah sangat baik, jadi Ia menegur saya lewat penyakit, alhamdulillah,saya bersyukur karena sakitnya saya saat itu.

Makanya,De, jangan pernah menunda suatu hal saat kita bisa melakukan hal itu secepatnya. Sudah dulu ya, saya harus pergi."ujarnya sambil menyalamiku.Sosoknya mulai menjauh dari tempat dudukku. Tapi, kata-katanya masih dan akan selalu melekat dalam hatiku. Rajab baru saja usai, berarti Ramadhan kurang dari sebulan lagi. Allahumma ballighna fii Ramadhan, sampaikan aku pada Ramadhan kali ini Ya Rabb, karena seluruh upayaku tak akan ada artinya dibandingkan kekuasaan mutlak-Mu, Ya Qadiir.

(diubah cara penyampaiannya, dari seorang teman)
posted by cerita dakwah kampus @ Permalink ¤09:45   2 comments
Sunday, September 02, 2007
Dialog Kawan Seperjuangan, katanya
Apa arti Mencintai-Nya?

Dan mencintai manusia karena-Nya?

Dengan mudah kau nyatakan cinta

Jelaskan padaku apa artinya!


Uhibukifillah, apa maksudnya?

Dimana engkau dan dimana diriNya

Dalam mencintai dan dicintai

Pun dimana aku saat berujar cinta


Bukankah cinta itu..

Pengorbanan

Keikhlasan

Keberterimaan

Perjuangan

Kesetiaan

Kerinduan

Dan ketulusan ?


Tak ada sapu tangan saat kawan mengurai air mata

Tak ada ucapan selamat saat kawan berbahagia

Tak ada genggaman tangan saat kawan ketakutan

Tak ada perlindungan saat menerobos medan lawan

Tak ada nasehat saat dirundung awan ujian

Tak ada cermin untuk menampilkan bayangan


Ah, maafkan aku kawan

Ternyata diri ini masih belum paham

Arti mencintaiNya dan mencintaimu karenaNya

Karena nyatanya kau tak ada saat ku ada

Dan aku tak ada saat kau ada


-maafkan ukhti,,akhi,,

Labels:

posted by Dika Amelia Ifani @ Permalink ¤10:46   2 comments
Friday, July 20, 2007
Mereka Menunggu Kita….
” Sesungguhnya seorang da’i, dengan semata-mata menerima hidayah Allah dan lalu bergabung dalam barisan da’wah, telah memilih kepenatan dan menceraikan leha-leha, santai, serta main-main” (Muhammad Ahmad Ar-Rasyid).

Sebuah ironi, saat melihat ( baca:anak jalanan), bernyanyi dari pintu ke pintu angkot, tak kenal panas dan hujan. Bukankah seharusnya mereka saat itu duduk tenang dalam kelas atau bermain dengan ceria layaknya anak-anak sebaya mereka. Sementara hampir di seluruh mall besar yang ada di Jakarta dan Bandung tempat parkir yang bertingkat itu masih bisa dipenuhi mobil-mobil mewah. Anehnya lagi barang-barang yang dijual begitu mahalnya, bisa sampai jutaan untuk sebuah tas, food court-nya pun dipenuhi pengunjung, padahal harganya relatif tidak murah. Inikah wajah Indonesia??

Lalu apakah yang ada di fikiran kita bila melihat data berikut?
· Skor IPA dan Matematika Indonesia (2 SMP) berada pada urutan 34 dan 32 di antara 38 negara ( Hasil studi The Third International Mathematics and Science Study 1999)
· Lebih dari sejuta pemuda terkena narkoba (Prof.Dadang H, 1998)
· Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index) yaitu komposisi peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per kepala, di antara 174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke 112 pada tahun 2002
· Data yang dilaporkan The World Economic Forum, Swedia (2000), Indonesia memiliki daya saing rendah, yaitu urutan ke 37 dari 57 negara
· Anggaran pendidikan tahun 2002 hanya 10 triliun, sementara untuk penghapusan hutang 30 triliun
· Indonesia terpuruk sebagai negeri yang terkorup ke enam di dunia dari 133 negara yang disurvey oleh International Transparency berdasarkan Indeks Persepsi Korupsi ( dengan nilai indeks 1,9) jauh di bawah Malaysia (5,2). Bandingkan dengan negeri yang mayoritas penduduknya non muslim yang relatif bersih seperti Firlandia, Denmark, Singapura, Belanda, yang semuanya dengan indeks di atas 8,8!
· Berdasarkan penelitian Yayasan Kita dan Buah Hati, 80 persen anak usia 9-12 tahun di kawasan Jabodetabek sudah pernah mengakses materi pornografi melalui internet, dan berdasarkan data BKKBN pada enam kota di Jawa Barat tahun 2002 sebanyak 39,65 persen remaja usia 15-24 tahun sudah pernah berhubungan seks sebelum menikah.

Itulah cermin buruk kondisi negara kita, mungkin tidak hanya itu. Masalah sampah yang tidak ada habisnya (mirisnya lagi gunung sampah itu sempat berada di depan institut terbaik se-Indonesia), pengrusakan hutan, pemukiman kumuh, pro-kontra RUU anti pornografi dan pornoaksi ( bagaimana bisa sebagian kalangan menganggap itu menghalangi kebebasan berekspresi?), koruptor yang tidak terjerat hukum, pelecehan seksual yang bahkan dilakukan oleh anak di bawah umur, berbagai perbuatan kriminal yang selalu terjadi setiap hari (terbukti tayangan kriminal di TV tidak pernah kehabisan berita setiap harinya), konflik antar kampung, gizi buruk, dan sederet masalah lain yang menambah panjang daftar di atas. Pernahkah terfikir apa yang tersisa dari negara ini untuk anak cucu kita nanti?

Selain itu bencana di berbagai daerah (entah apa rahasia Allah di balik itu semua); Aceh yang belum sepenuhnya pulih pasca tsunami, gempa Yogya dan Jawa Tengah, lumpur panas di Surabaya (berdasarkan data di posko pengungsian Pasar Baru Porong, Sidoarjo, hingga 9 Juli tercatat jumlah pengungsi telah melewati 7.500 jiwa, dan sebagian besar terkena penyakit ISPA), tsunami di Pangandaran ( masih Jawa Barat, terhitung dekat dengan kita), dll menuntut kepedulian bangsa ini jika masih mempunyai hati untuk peduli atas nasib saudaranya..

Barang siapa tidak peduli terhadap urusan kaum muslimin maka ia tidak termasuk golongan mereka” (HR. Ath-Thabrani)

Lalu dimana posisi kita? yang notabene mengakui dirinya sebagai da’i, tentu kita bukan sekedar mencari masalah atau mempermasalahkan keadaan, tapi apa yang dapat kita lakukan saat da’wah dihadapkan pada kenyataan seperti itu? Kenyataan bahwa bangsa kita yang mayoritas umat Islam memiliki segudang masalah..bahkan semakin parah menjelang usia kemerdekaannya yang ke- 62 tahun, bulan Agustus ini

Bila menengok sejarah masa lampau sesungguhnya keterbelakangan dan keterpurukan bukanlah sifat umat Islam. Dahulu, umat ini menempati posisi terdepan di dunia hampir sepanjang sepuluh abad, lalu kini? Al Ghazali mengungkapkan bahwa kemunduran dan keterpurukan umat Islam antara lain disebabkan pemahaman yang salah terhadap Islam, bodohnya kaum muslimin terhadap dunia, dan kerusakan politik. Mungkin inilah yang perlu kita benahi..

Sesungguhnya pembangunan umat, penempaan bangsa-bangsa, mewujudkan cita-cita, dan membela prinsip, itu semua menuntut adanya kekuatan jiwa yang besar dari umat yang sedang memperjuangkannya, atau paling tidak dari kelompok yang menyerukan hal itu. Kekuatan jiwa itu mewujud dalam bentuk: motivasi yang kuat yang tidak terjangkiti keloyoan; kesetiaan yang tangguh yang tidak dihinggapi kepura-puraan dan pengkhianatan; pengorbanan agung yang tidak terganjal oleh ketamakan dan kekikiran; memahami, meyakini, dan menghormati prinsip yang memeliharanya dari kesalahan, penyimpangan, tawar menawar, dan keterpedayaan” (Hasan Al- Banna).

Sekarang tinggal tentukan mimpi kita akan kebangkitan umat ini, melalui medan yang mana kita akan berjuang?? Karena perjuangan tidak berhenti di kampus, saudaraku. Setelah menjadi Aktivis Da’wah Kampus kita akan menjadi Aktivis Da’wah Kantor, Kampung, Keluarga, dll. Umat menunggu kita. Mereka menunggu amal nyata dari kita, tidak sekedar medan kata-kata. Jangan sampai kita tertinggal oleh pergerakan zionis dan kompetitor-kompetitor yang memusuhi islam.

Jadi dua kata untuk menjawab tantangan da’wah ke depan: KOMPETENSI dan KONTRIBUSI. Di manapun kita berada setelah keluar dari kampus ini, baik sektor publik, privat, maupun third sector (Non Government Organization), mari azzamkan bahwa kita akan tetap berada di jalan ini, jalan yang menghantarkan kita pada kemuliaan, dan melakukan apapun yang bisa kita perjuangkan untuk perbaikan umat ini agar ilmu tidak hanya berakhir pada selembar transkrip nilai, ijazah, atau kebanggaan saat wisuda apalagi berlindung di balik nama besar.
Jika seandainya ahli ilmu menjaga ilmunya dan mengamalkannya sesuai dengan keahliannya, maka ia akan menguasai orang-orang pada zamannya” ( HR. Ibnu Majah).

Sekedar autokritik, Ada di mana kita, sedang apa kita ketika semua bencana terjadi?? Jangan-jangan saat itu kita sedang bersantai, sedang lalai, sibuk dengan diri sendiri, bahkan lupa untuk sekedar mendoakan. Padahal kita adalah Da’i..!!

So..”BERGERAKLAH, WAHAI TULANG-TULANG PERKASA..!!!!” (F3)
posted by cerita dakwah kampus @ Permalink ¤14:51   3 comments

about me
dakwah bukan hanya amanah dan kesempatan, melainkan juga sebuah anugerah. dan karenanya pula manusia berhak untuk menikmati indahnya...
Udah Lewat
Archives
Rosail

"Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh yang maâ??ruf dan mencegah yang munkar dan beriman kepada Allah ..."
(QS. Ali Imran [3] : 110)

"Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik ..."
(QS. An Nahl [16] : 125)

Links
Beranda

Berbagilah, karena cerita ini akan menjadi hikmah bagi saudara kita. jangan kau simpan itu, dan tidak membuat saudaramu merasakan nikmatnya kisahmu...

cerita.dk@gmail.com
subyek: cerita...


Blog ini makin hidup, jika kita menjalin pertisipasi bersama. Seperti halnya sebuah rumah teduh, dengan kicauan burung di berandanya

Komentar

Kontributor
Ingin Menjadi kontributor? Silahkan kirim mail kesanggupan dengan nama jelas.
Kesan

Free shoutbox @ ShoutMix

Now, online visitor(s)
Pengunjung


Cerita Dakwah Kampus

Feed on
Post-rss
Post-default
Comments-default
Designed-By

Visit Me Klik It
Credite
15n41n1