Wednesday, February 28, 2007
Nahnu Kaum Amaliyun
Amal merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari iman. Imam Hasan Albashri menegaskan bahwa iman bukanlah angan-angan dan harapan hampa, akan tetapi ia adalah keyakinan yang mantap dalam hati dan dibuktikan dengan amal yang nyata. Bagi para aktivis da’wah amal Islami adalah bukti intima (komitmen) pada da’wah, jama’ah dan harokah. Tidak ada tempat di dalam jama’ah da’wah ini bagi orang-orang yang hanya ingin diakui sebagai anggota secara legal formal, apatah lagi bagi mereka yang sepi beraktivitas (baca: menganggur) bahkan hanya membebani jama’ah.

Kita seharusnya datang ke jama’ah ini untuk memberi dan bukan untuk meminta, sudah semestinya kita mengurangi beban dan bukan menjadi beban dan bahkan menjadi kewajiban kita memberikan seluruh potensi yang kita miliki untuk da’wah dan bukan mencari keuntungan dari da’wah. Ingatlah, sesungguhnya orientasi kita dalam jama’ah ini adalah orientasi amal dan hanya amallah yang dapat mengangkat derajat kita serta membuat Allah mengakui kita sebagai aktivis da’wah. Allah berfirman: “Dan berbuatlah kamu, maka Allah, Rasul dan orang-orang yang beriman akan melihat amal kalian, dan kalian akan dikembalikan kepada Allah yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. “ (At-taubah :105)

Ketahuilah, kewajiban dan tanggung jawab yang harus kita emban ternyata lebih banyak dari waktu yang tersedia dan lebih besar dari potensi yang kita miliki, oleh karenanya jangan sampai ada di antara kita yang hanya duduk, terpaku, dan berdiam diri di dalam gerakan dakwah ini karena gerakan dakwah ini bukanlah gerakan dakwah tanpa kerja (baca: pengangguran). Bila hal itu terjadi, maka ia akan membawa dampak negatif kepada jama’ah, sebagai contoh munculnya suasana dan iklim yang tidak sehat yaitu iklim ghibah dan namimah di antara para da’i yang dapat menghambat perjalanan harokah dan meruntuhkan bangunan jama’ah. Tidakkah kita menyadari bahwa Rasul melarang kita dari dua hal, yaitu membicarakan sesuatu yang tidak ada manfaatnya (qiila wa qoola = katanya…dan katanya…) dan menyia-nyiakan harta (idlo’atul maal ). Termasuk prinsip sembilan dari Ushul Isyrin yang menegaskan bahwa setiap masalah yang tidak berorientasi pada amal,maka membicarakannya adalah sesuatu yang memberatkan diri dan dilarang oleh syari’at.

Sekaranglah saatnya kita memperbanyak aktivitas dan meningkatkan produktivitas dan tidak ada waktu bagi kita untuk banyak berbicara terlebih berbicara tentang sesuatu yang tidak berguna mengingat masih banyak lahan da’wah yang belum tergarap. Betapa banyak lahan da’wah yang menjadi tanggung jawab kita di kalangan buruh, pekerja, pedagang, petani, nelayan, professional, ibu rumah tangga, remaja, anak jalanan, dll. Sungguh naïf jika ada di antara kita yang tidak memiliki aktivitas, kesibukan atau “pekerjaan” di dalam dakwah ini. Sungguh, Ustadz Hasan Al-Banna pada masa hidupnya pernah berkata bahwa kita harus bekerja lebih banyak untuk umat dari pada untuk diri kita sendiri.

Ladang da’wah begitu banyak terbuka luas di depan kita. Siapa yang akan memulai menggarapnya? Tentu saja dibutuhkan para da’i yang berinisiatif, kreatif dan produktif yang motivasinya karena Allah dan berorientasi kepada ridlo Allah. Lupakah kita bahwa Rasul pernah bersabda bahwa barang siapa yang berinisiatif mengerjakan amal kebaikan lalu diikuti oleh orang lain maka baginya pahala atas perbuatannya itu dan pahala dari orang-orang yang mengerjakan setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun… (HR. Bukhari ).

Indikasi bahwa kegiatan dan proses tarbiyah yang kita selenggarakan telah berjalan cukup baik (efektif) adalah jika para da’i dapat mengaktualisasikan dirinya sebagai syakhshiyyah Islamiyah dan da’iyah di tengah masyarakatnya. Kehadiran, partisipasi, peran, dan kontribusinya dapat dirasakan oleh orang banyak. Sebagaimana ditegaskan oleh Rasul ShalaLlahu ‘alaihi wassalam bahwa “orang yang paling baik adalah orang yang paling banyak kebaikannya di masyarakat. (HR. Tirmidzi). Rasulullah ShalaLlahu ‘alaihi wassalam menggambarkan bahwa profil seorang mukmin adalah seperti lebah, yaitu hanya mengambil yang baik dan memberi yang baik (HR. Ahmad). Bila ia hinggap di suatu tempat maka ia akan mengambil yang terbaik dari tempat itu yaitu madu tanpa merusak atau mematahkan ranting tempat ia berpijak. Bahkan lebah membantu bunga-bunga tersebut melakukan proses penyerbukan. Dan ketika ia meninggalkan tempat itu untuk mencari tempat yang lain, maka ia meninggalkan sesuatu yang terbaik pula yaitu madu serta meninggalkan kenangan manis kepada lingkungan yang pernah ia hinggapi. Dan begitu seterusnya. Ikhwah, jadilah seperti lebah yang selalu mencari unsur-unsur kebaikan dan memberikan buah kebaikan. Benih-benih kebaikan itu tak akan terjadi manakala kita tidak giat melakukan amal da'wi di masyarakat.

Sesungguhnya amal adalah buah dari ilmu dan keikhlasan. Ilmu yang kita peroleh di dalam halaqah, tatsqif dan ta’lim harus berdampak positif pada kehidupan sehari-hari di lingkungan tempat kita beraktivitas. Kita tidak boleh merasa puas dengan kegiatan tarbawi, tatsqifi, dan tanzhimi yang tidak ditranformasikan kepada masyarakat. Kita tidak boleh menganggap cukup dengan aktivitas tarbawi yang bersifat internal tanpa mengembangkannya dalam bentuk amal da'wi dan kegiatan sosial karena konsep tarbiyah yang kita anut adalah memadukan tarbiyah nukhbawiyah (pembinaan kader ke dalam) dan tarbiyah jamahiriyah (rekrut massa yang bersifat terbuka dan massif ).

Jadilah pekerja da’wah yang berperan aktif dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh stuktur dakwah. Janganlah kita menjadi penonton dalam persaingan dan pertarungan da’wah yang hanya bisa tertawa, bergembira, bersorak-sorai, bertepuk tangan dan bersiul menyaksikan pemain yang bertarung untuk merebut kemenangan di medan pertandingan atau kadang kala berkomentar negatif jika pemain melakukan kesalahan.

Kita tidak mengenal istilah pengamat da’wah dalam kamus da’wah kita karena yang ada hanyalah aktivis da’wah dan praktisi harakah. Oleh karena itu tidak boleh ada di antara kita yang menjadi pengamat da’wah tapi hendaklah menjadi aktivis dan praktisi harakah.

Amanah dakwah terbuka lebar di depan kita. Dari PMB, Mentoring, dan Ramadhan. Demi Allah, sesungguhnya mereka sedang menunggu-nunggu sentuhan dan belaian dakwah kita.

Ikhwah fillah…
I’malu ‘ala barakatillah.
-Faisal-
(disadur & diedit seperlunya dari taujih Ust Abdul Muiz MA )

posted by cerita dakwah kampus @ Permalink ¤09:31   0 comments
Tuesday, February 20, 2007
Bukan Sekedar Sarang Laba-laba
Pagi itu masih dingin, kota Medan yang masih sering diguyur oleh hujan membuat kantorku juga terasa dingin. Apalagi sisa-sisa hujan semalam masih terlihat dimana-mana, jalan yang basah, daun yang jatuh karena terkena terpaan dari hujan juga masih terlihat. Untung saja aku memakai jaket yang cukup nyaman, begitu pikirku. Segera saja aku masuk ke dalam ruangan kerjaku, kuhidupkan komputer, sembari kusampirkan jaket yang tadi kukenakan, dan ganti pakaian dengan baju lapangan.

Karena ruangan kantor masih sepi, aku segera stand by di depan komputer, untuk melihat berita dari internet, maklum tidak punya TV, membuatku harus sigap mencari berita di internet atau koran kantor yang gratisan. Sekalian kubuka email dan friendster sekaligus. Hmm ternyata ada satu pesan di friendster yang baru..oo dari Jono, temanku dari Universitas Jatinangor, kebetulan dulu pernah tingal dekatan waktu masih tinggal di Bandung. Sembari menunggu internet yang agak lambat membuka pesan tersebut, kucoba-coba ingat tentang kawanku yang satu ini, seingatku ikhwah ini sudah menikah, baru saja setahun yang lalu, dengan teman akhwatnya yang pernah menjadi sekretarisnya, malah ia dulu pentolan da’wah kampus yang terkena isu virus merah jambu, dan..astagfirullah, segera kuhapus suudhonku...teringat pesan, bahwa salah satu dari ukhuwah kita mampu selalu berhusnudhon..

“aslkm Totok, katanya kamu di medan ya ? aku juga nih, kebetulan dapet dinas penempatan di medan juga.ini nomorku 08123456789” Begitu pesannya di friendsterku. Senyumku mengembang, senang mendapat kabar dari teman lama. Kubuka kembali profil friendsternya, hmm...ada yang aneh...foto dari profilnya, biasanya dulu ia tidak pernah menampilkan foto istrinya, sekarang ada..walau memang foto mereka berdua. Kejanggalan itu terus berlanjut ketika kubuka foto mereka, tanpa sengaja aku melihat jilbab istrinya yang sudah agak ”pendek“, walau masih mengenakan gamis panjang, tapi..astaghfirullah...jangan suudhon dong akh, begitu maki ku pada diriku sendiri.

###

”Ayo Tok kamu main“ teriak Andi.”Pasangannku siapa ?“ sahutku.
”Sama aku aja, kita lawan Eko sama Bayu ?“ jawab Joko.
”Oke deh“.

Biasanya memang hari libur seperti hari ahad pagi ini, kami isi dengan olahraga tenis. Maklum sama-sama merantau, jadi merasa senasib sepenanggungan. Apalagi aku yang jauh dari anak dan istri, harus punya banyak aktifitas. Dan memang kami sudah punya motto, ”Membunuh sepi atau terbunuh sepi“ begitu biasanya kami bergurau karena merasa jauh dari keluarga, salah satu cara kami membunuh sepi yaa dengan olahraga tenis ini yang rutin setiap sabtu dan ahad pagi.

Belum lama kami bermain tiba-tiba handphoneku berbunyi, oo dari Jono, ”Aslkm tok“
”Waalaikum salam, gimana kabarnya Jon? Maap lho aku belum sempat ke rumahmu“”Baik alhamdulillah, nggak papa koq, lagi ngapain ?“”Lagi tennis nih, kenapa?“”Nanti siang abis dhuhur sibuk nggak ? aku sama istri mau ke tempatmu””Nggak lah, boleh..mangga atuh“ segera kuberikan alamatku padanya. Setelah puas ngobrol, ia menyudahi perbicangan dan kulanjutkan kembali pertandingan tenisku yang sempat terhenti.

###

“Susah nyarinya ?” tanyaku.
“Yah lumayanlah, abis jalannya banyak di blokir gara-gara banyak pernikahan” jawabnya.
“Oya tok, ini istriku, Ari” sambil mengenalkan istrinya, karena memang ketika pernikahan mereka aku tidak sempat hadir, karena sudah berada di luar pulau.
“Totok” jawabku singkat sambil menutupkan kedua telapak tanganku sedikit menghindar.
“Ayo masuk, afwan ya kecil kamarnya, maklum kembali bujangan” jawabku sekenanya.
“nggak papa koq, tapi enak nih, dingin, banyak angin” ujarnya.

Tak lama kemudian kami bertiga sudah terlibat pembicaraan seru. Mulai dari kawan-kawan di Bandung yang belum lulus, hingga ke masalah kerjaan masing-masing. Tapi terus terang konstrasiku sedikit terganggu, aku terkadang sibuk dengan pikiranku sendiri. Awalnya agak kaget juga melihat Ari istrinya Jono ini, kemarin di friendster masih pake gamis walau jilbab pendek, tapi sekarang malah celana jeans panjang dan jilbab yang lebih pendek lagi. Sepanjang perbicangan itu aku mencoba membayangkan apa saja yang sudah mereka lalui, hingga sekarang bertemu agak berbeda. Masih jelas dalam ingatanku, ketika mereka belum menikah, dan aku sempat bertemu istrinya, dengan tampilan tertutup jilbab rapi dan ghaddul basharnya. Sekarang...."

Dari perbicangan kami, aku mengetahui kalau mereka sudah tidak halaqah lagi...ternyata kegundahanku selama ini terjawab. Tapi aku tak mau terlihat oleh mereka terpengaruh dengan hal tersebut, kututupi dengan canda kecil kami.”Ya udah tok, kami pulang dulu ya..insya allah nanti main lagi“ ”Iya deh, hati-hati..tahu jalan pulangnyanya khan?“ jawabku” Iya, makasih ya“ ujarnya sambil memakai helm”Sama-sama...”, kemudian kami bersalaman, dan kuhantar sampai jalan besar.

###

Sepulangnya mereka hingga menjelang magrib sore ini, pikiranku masih dipenuhi pertemuan kami tadi siang. Terlalu banyak pertanyaan ku yang tidak bisa ku jawab oleh diriku sendiri.Ada apa dengan mereka? Kenapa mereka berubah? Apakah benar karena pernikahan mereka diawali dengan pacaran ?Padahal mereka khan dulunya aktifis? Dan mungkin sejuta pertanyaanya mirip seperti itu.

Tiba-tiba aku teringat pada halaqah ku minggu lalu, murobbi ku bercerita tentang salah satu kawannya yang futur. Ikhwan tersebut awalnya sudah lama mengaji, dan menikah dengan memiliki 2 orang anak yang sudah cukup besar. Tapi kemudian ikhwan tersebut tertarik dengan wanita yang belum berjilbab, dan kemudian menikah dengan wanita tersebut. Istri dan anaknya ditinggalkan begitu saja. Bahkan istrinya ikutan futur, ketika rumahnya disambangi oleh teman ngaji suaminya karena mencari suaminya yang sudah lama tidak mengaji, muncul seorang wanita dalam rumah tersebut tidak mengenakan jilbab, ketika ia tahu bahwa tamunya ialah teman pengajian suaminya, wanita tersebut masuk kembali ke dalam kamar, lalu muncul kembali dengan jilbab...astagfirullah..ternyata wanita tersebut istrinya, yang dulunya juga akhwat dengan jilbab yang rapi.

Sudah cukup banyak cerita seorang aktifis da’wah yang futur, mulai dari yang ringan hingga yang paling berat, mungkin hari ini kita mendengarkan cerita tersebut dan hanya bisa mengelus dada, tapi yang lebih penting, kita semua harus terus berdoa dan mendekatkan diri pada Allah, agar kita nantinya tidak menjadi bagian dari cerita tersebut“. Amin..

Kita tahu bahwa istiqomah tidak semudah yang diucapkan. Tapi lebih diuji pada saat pengejawantahannya. Ketika dulunya seorang aktifis sudah berkomitmen, maka ia harus menjadi pemenang, dengan mempertahankan komitmennya tersebut. Dan tidak sedikit yang futur dalam tarbiyah karena diawali dengan proses pernikahannya yang tidak islami, baik itu caranya maupun prosesnya itu sendiri.

Setidaknya benar apa yang diucapkan murobbiku, ”Salah satu ujian kestiqohan dalam da’wah adalah menikah, antum bisa melihat keikhlasan mereka juga dari proses pernikahan mereka, sudah banyak aktifis da’wah yang tangguh di lapangan demonstrasi, atau tangguh ketika segudang amanah menumpuk pada pundaknya, tapi dari sekian banyak tersebut aktifis yang tangguh tersebut, hanya sedikit yang teruji komitmennya terhadap da’wah ketika dikorelasikan dengan pernikahannya. Ia mengganggap, bahwa pernikahan adalah masalah pribadi, maka ia berhak untuk mencari sendiri, hatta pilihan itu teman sekatifitasnya yang sudah diawali dengan hubungan mesra tanpa status.

Padahal, pernikahan ialah proses membangun peradaban, dan termasuk dalam\n tahapan da’wah yang lebih luas menjadikan cahaya Islam tegak diatas segala-galanya. Karena ketika proses pernikahan kita syuro kan kedalam halaqah tarbiyah kita, setidaknya kita punya gambaran obyektif terhadap pernikahan kita nanti. Karena terlalu egois seorang ikhwan yang ingin menikah dengan akhwat pilihan hatinya sendiri saja, tanpa

mempertimbangkan prospek da’wah yang lebih besar. Hal ini bukan pada masalah berarti seorang ikhwan tidak boleh memilih sendiri, namun pada masalah syuro dalam halaqah yang seharusnya lebih diutamakan. Karena terkadang ia sudah takut dahulu dengan syuro tersebut, padahal kalau antum tahu, syuro tidak pernah berpikiran jelek sedikitpun pada antum, selalu ingin kebaikan untuk antum sebagai aktifis da’wah, dan memberikan yang terbaik untuk antum, tapi kita lebih sering berpandangan sinis terlebih dahulu, tapi antum tetap harus optimis, dari sekian jumlah ikhwah yang futur, tapi masih lebih banyak lagi yang tetap istiqomah, karena mereka saling mengingatkan dan menguatkan“. Cerita dari murobbiku itu terus terang menenangkan hatiku. Memang, penting untuk bersabar dalam jamaah dan da’wah. Melebihi simulasi ketika kita dulu rihlah dengan jalan jauh. Lebih jauh dari itu, dan lebih sulit dari itu.".

Dan murobbi ku menutup ceritanya dengan singkat Kita tahu bahwa istiqomah tidak semudah yang diucapkan. Tapi lebih diuji pada saat pengejawantahannya. Ketika dulunya seorang aktifis sudah berkomitmen, maka ia harus menjadi pemenang, dengan mempertahankan komitmennya tersebut. Dan tidak sedikit yang futur dalam tarbiyah karena diawali dengan proses pernikahannya yang tidak islami, baik itu caranya maupun prosesnya itu sendiri.

Setidaknya benar apa yang diucapkan murobbiku, ”Salah satu ujian kestiqohan dalam da’wah adalah menikah, antum bisa melihat keikhlasan mereka juga dari proses pernikahan mereka, sudah banyak aktifis da’wah yang tangguh di lapangan demonstrasi, atau tangguh ketika segudang amanah menumpuk pada pundaknya, tapi dari sekian banyak tersebut aktifis yang tangguh tersebut, hanya sedikit yang teruji komitmennya terhadap da’wah ketika dikorelasikan dengan pernikahannya. Ia mengganggap, bahwa pernikahan adalah masalah pribadi, maka ia berhak untuk mencari sendiri, hatta pilihan itu teman sekatifitasnya yang sudah diawali dengan hubungan mesra tanpa status. Padahal, pernikahan ialah proses membangun peradaban, dan termasuk dalam tahapan da’wah yang lebih luas menjadikan cahaya Islam tegak diatas segala-galanya. Karena ketika proses pernikahan kita syuro kan kedalam halaqah tarbiyah kita, setidaknya kita punya gambaran obyektif terhadap pernikahan kita nanti.

Karena terlalu egois seorang ikhwan yang ingin menikah dengan akhwat pilihan hatinya sendiri saja, tanpa mempertimbangkan prospek da’wah yang lebih besar. Hal ini bukan pada masalah berarti seorang ikhwan tidak boleh memilih sendiri, namun pada masalah syuro dalam halaqah yang seharusnya lebih diutamakan. Karena terkadang ia sudah takut dahulu dengan syuro tersebut, padahal kalau antum tahu, syuro tidak pernah berpikiran jelek sedikitpun pada antum, selalu ingin kebaikan untuk antum sebagai aktifis da’wah, dan memberikan yang terbaik untuk antum, tapi kita lebih sering berpandangan sinis terlebih dahulu, tapi antum tetap harus optimis, dari sekian jumlah ikhwah yang futur, tapi masih lebih banyak lagi yang tetap istiqomah, karena mereka saling mengingatkan dan menguatkan“.

Cerita dari murobbiku itu terus terang menenangkan hatiku. Memang, penting untuk bersabar dalam jamaah dan da’wah. Melebihi simulasi ketika kita dulu rihlah dengan jalan jauh. Lebih jauh dari itu, dan lebih sulit dari itu.
Dan sekali lagi aku bersyukur, ketika malam setelah temanku Jono singgah ke tempatku, istri dan anakku menelpon
”Assalamualaikum abi, ni dedek opang mau ngomong“ kata istriku membuka.
”Abi..abi..accalamualaikum, cicak..., kakak..., aceh...“
anakku terus mengoceh dengan ceritanya. Aku terharu sekaligus bersyukur, dalam usia pernikahan tahun ketiga ini kami terus berusaha berada dalam suasana tarbiyah. Karenanya mungkin berkah itu yang membuat aku dan istriku tetap istiqomah dalam da’wah. Untuk terus membangun keluarga kami yang islami, agar keluarga kami juga menjadi keluarga yang menjadi bagian dari peradaban Islam yang lebih besar.

Pokoknya malam itu aku betul-betul mendapat pelajaran yang berharga sehari. Ku coba lagi mengingat tentang kenangan da’wah ini, yang telah memberikan padaku sebuah ladang amal untuk ikut berkecimpung didalamnya, bahkan karena da’wah ini pula aku menikah, karenanya aku tak ingin mati di luar da’wah. Tak ingin menjadi seperti seekor laba-laba yang mengurai benang menjadi sarangnya, yang sepertinya kokoh menghadapi lawan, namun ternyata dengan mudah hancur karena terpaan angin. Ku putar lagi video ketika masih di da’wah kampus. Teringat aku akan nyanyian kami waktu itu

Mengarungi samudera kehidupan
Kita ibarat para pengembara
Hidup ini adalah perjuangan
Tiada masa untuk berpangku tangan
Setiap tetes peluh dan darah
Tak akan hilang di telan masa
Segores luka di jalan Allah
Kan menjadi saksi kehidupan
Allah Ghayatuna
Arrosul qudwatuna
Al quran dusturuna
Al jihad sabiluna
Al mautu fi sabilillah asma amanina

Allah adalah tujuan kami
Rasulullah teladan kami
Al quran pedoman hidup kami
Jihad adalah jalan juang kami
Mati di jalan Allah adalah cita-cita kami tertinggi


Amin, semoga kami tetap bisa tegar dalam da’wah hingga 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun, hingga mati..agar suatu hari nanti kita bisa berkumpul lagi di jannahNya kelak, kita bisa bercerita tentang kenangan sulitnya dan haru birunya da’wah kita saat ini..amin ya robbal alamin.. [Yusvi]
(based on true story at January 7th, 2007...
Sekali lagi, Bangkit, Lawan, Hancurkan Tirani..Allahu Akbar!)

posted by cerita dakwah kampus @ Permalink ¤09:15   0 comments
Thursday, February 15, 2007
Kisah Anak Manusia
Tiba-tiba sebuah pesan YM masuk. Dari “adik”. Sudah lama tidak berbincang, kalau dibandingkan dengan kedekatan geografis antara kami. Kali ini, dia mengajak untuk bertemu.

“Ada sesuatu yang penting mas. Butuh masukan dan dukungannya,” begitu pesannya.

“Ada apa nih?” balasku, walaupun aku sudah punya sebuah praduga.

Kami bertemu. Aku coba menatap, membaca mata dan wajahnya. Tepatkah gerangan dugaanku? Setelah malu-malu, meluncurlah pelan, sedikit demi sedikit kisah itu.

“Mas sudah tahu, entah dari mana. Kalau saya punya hubungan ”dekat” (jari tangannya membuat sebuah apostrop) dengan seorang perempuan?”

”Ya, sudah tahu.”

”Oiya? Darimana?” tanyanya mulai tertarik.

”Ikan tetap tercium walaupun ditutup koran.”

Setelah menarik nafas panjang dan tersenyum, akhirnya dia berkata.
”Saya memutuskan untuk menyelesaikannya. Cukup sampai disini. Semua tidak sesuai dengan yang direncanakan. Tentang menopang bersama dan lain-lainnya”

Alhamdulillah, Ya Allah. Dia berniat melakukannya. Hal yang sudah lama kunantikan. Ini adalah kabar terbaik setelah bulan Syawal ini. Bersanding sebelumnya di Ramadhan, mendapatkan seorang teman yang cerita panjang lebar, proses setengah agama –nya dengan seorang ”kakak”.

Kami masing-masing tersenyum cerah.
”Nah...butuh bantuan nih mas…!” katanya menegaskan.

”Apa lagi yang harus saya bantu? Kan udah bisa ambil keputusan sendiri. Atau ada yang mempengaruhi?”

”Ya..pengaruh mah ada. Dari tarbiyah, teman serumah, departemen, atau lainnya. Tapi kesadaran ya muncul sendiri. Bahkan ada teman yang bilang, ”jika dengan pacaran, Allah banyak menegur orang dengan kejatuhan-kejatuhan baru kemudian sadar. Mungkin untuk kamu, tak perlu ditegur dengan kejatuhan. Karena akan sadar sendiri.” ”

”nice quote. so...what else?”

”Saya masih belum nemu, gimana cara ngomong yang baik ke dia. Tentu harus ada cara yang baik” wajahnya menampakkan kebingungan.

”Hmmm, memang sebaiknya hati-hati. Jangan sampai untuk tujuan baik, kita melakukan dengan tidak baik”

”Maksudnya?”

”Ya...jangan buat sangat menyakitinya. Kepahaman itu harus di-share. Tapi kepahaman pun harus dibahasakan dengan baik”

”Sepertinya gimana, kalo langsung to the point. Tapi saya belum nemu, gimana bahasanya. Makanya nih, butuh bantuan”

Oh…masalah bahasa. Aku juga bukan ahli bahasa. Tapi senang, ada sebuah kepercayaan disana. Dan pastinya, kesempatan untuk berbagi.

”Pada dasarnya semua manusia punya hati. Nah, Mari berusaha untuk tidak menyakiti hati manusia. Apalagi ini hal yang sensitif. Bisa-bisa, setelah kamu bicara dengannya, 180 derajat ia akan menjauh. Komunikasi sebuah tindakan mahal. Dan…kebencian itu akan sangat besar. Siapa sih yang mau, cinta yang merasa dia bangun terus dikandaskan, justru oleh orang yang dicintainya.” Apalagi wanita, konon cenderung ingin sebuah kepastian dan kesegeraan.

“Ya…sepakat mas. Makanya itu. Jadi gimana? Masa mau langsung bilang, kita udahan sekarang. Jadi teman aja. Atau ada yang ngasih saran, untuk menjalaskan bahwa semua ditangan Allah. Kalau masih jodoh, insyaAllah akan bertemu lagi di masa depan.”

Wah.., sudah masuk cukup dalam diriku sekarang.

“Kalau menurut saya, orang yang ‘tersakiti’ itu tidak bisa berpikir wajar. Walaupun itu hal yang benar, tentang jodoh dan masa depan, tapi itu kelihatan klise. Benar, terlihat klise. Bisa bayangkan? Mungkin ia punya pikiran dan bilang ke kamu. “Kenapa kalau ingin putus sekarang,ngomong-ngomongin masa depan? Kalau mau putus, ya putus aja. Ga perlu bla bla. Emang ngapain dulu ngajak jalan bareng?” atau, “emang apa yang kita lakukan bukan sebuah usaha untuk menata masa depan?” sekali lagi, kita berhadapan dengan orang yang akan ‘tersakiti’. Nah..tapi gimana ya.. menyampaikan esensi tersebut dalam bahasa yang lebih baik?”

Kami terdiam berpikir sejenak. Aku sendiri sengaja, tak segera menyampaikan. Menunggu aliran nafas yang tepat.

“Ada juga saran mas. Untuk mengondisikan lewat teman atau sahabatnya. Ya..mungkin akan sakit pada saya. Tapi ntar lama-lama juga bakal dipahamkan sama sahabatnya. Tapi ini memang harus dilakukan.”

“Ya..itu harus. Tapi tetap, kamu bilang sendiri juga. Masa ga berani!“
“Gini aja, kita sampaikan esensi tentang ketidaktepatan hubungan dekat ini, jodoh dan masa depan dengan bahasa yang lain.”

“Gimana?” tanyanya penasaran.

“Begini. Kamu sampaikan bahwa tindakan berduaan dan bentuk hubungan selama ini sudah terlalu jauh. Sungguh sanagt berbeda dengan apa yang dirangkai dulu. Tentang menggapai impian bersama…bla…bla. Dan di pandangan orang lain, tentu hal itu tidaklah baik. Itu yang pertama”

“Yang kedua. Pada dasarnya manusia, entah dia sudah berapa tahun liqo, berapa banyak hafalan, betapa bersih dan sholehnya dia-tapi kamu ganti liqo dll dengan apa gitu-, pasti punya ‘kecenderungan’ atau rasa simpatik. Kalaupun tidak lama, setidaknya pernah. Saya percaya itu. Entah karena satu kegiatan, kepanitiaan, atau ketemu dimana. Dan dengan kecenderungan itu, manusia punya harap. Dan ketika akhirnya ‘hidup bersama’ dengan orang yang kita cenderung tadi, pun bukan dosa. Selama caranya dan harapan dipelihara dengan benar, yaitu dengan apa yang telah Islam ajarkan. Jadi, silahkan jujur juga padanya”

“Jujur gimana mas?” wajahnya makin penasaran.

“Bilang, ”kalau sekarang kita putus adalah sebuah keharusan. Sesuai dengan apa yang harus kita yakini, Islam. Dan karena semua punya kecenderungan, saat ini pun saya punya kecenderungan. Jika memang ini cinta sejati, dan Allah menjaganya, maka kita akan bertemu lagi. Tinggal berdo’a dan kita buktikan saja.” tapi awas, jangan buat seolah-olah kamu berjanji kepadanya. Jangan memberi harapan. Biarkan masing-masing memupuk harapannya. Sekali lagi, kalau ini sejati dan Allah menjaganya, masa depan insyaAllah dekat. Gimana?”

Sengaja, aku tidak menghunus pedang layaknya Abu Bakar memerangi kaum murtad, atau Khalid membongkar tentara romawi. Atau Umar, yang memberikan goresan lurus di atas tulang kering dengan pedangnya untuk mengingatkan Muawiyah. Islam adalah Islam, dan manusia adalah manusia. Islam sesuai fitrah manusia.

Ya Allah... Semoga cara ini jalan yang benar dan baik. Tidak sangat benar memang. Semoga baik.

”Ya, mas. bisa itu. Bisa. Ada lagi ga mas?”

“Ya…bisa kamu tambah-tambahin sendiri lah. kesana kemari nya..gimana lah. Kalau kamu di akhir pembicaraan bisa membuat semua berjalan baik, tak ada marah, tak ada air mata, tak ada pergi tiba-tiba, kamu telah melakukannya dengan baik. Thumb up!. Dan setelah itu, jangan lupa untuk masing-masing mendaki cita-cita, belajar, berdo’a, bermain, menikmati persahabatan, dan komunikasi selama wajar pun insyaAllah baik-baik saja.”

**
Dua minggu kemudian. Melalui YM.

”Gimana,” tanyaku kepadanya.

”Alhamdulillah, baik mas.” ekspresi senyum nya keluar. ”Saat hari itu, aku bilang dan semua berjalan baik sesuai rencana. Tidak ada air mata, tidak ada akhir yang gelap. Kita bisa berhubungan sebagai teman biasa.”

”Alhamdulillah.. bagus kalau gitu.”

”Tapi sehari setelahnya, ada sms yang tak termaafkan.”

”Oh...sms tak termaafkan? Maksut?”

”Ada sms tak dikenal siapa pengirimnya, dikirimkan kepada sahabatnya sehari sebelum hari itu. Dan sehari setelah hari itu, sahabatnya memberitahukan kepadanya”.

”Begini bunyi sms itu: ”Fulan memutuskan untuk berhenti pacaran. Tolong Anda (nama samaran perempuan tersebut) dikondisikan tentang pemahaman pacaran”.”

”Langsung, Anda mengirimkan pesan padaku mas. Begini : ”Aku tau maksud kalian baik.. tapi caranya aku tidak suka. Aku merasa dikhianati oleh kamu dan temanku, orang-orang yang kupercaya”.”

”Aku merasa. Akhir baik sehari sebelumnya menjadi usang. Buktinya, setelah sms itu dia tak pernah mau menjawab pesanku. Walaupun aku hanya meminta maaf.” dia selesai menjelaskan.

”Tapi, insyaAllah niat di pengirim sms itu baik. Hanya caranya yang tidak baik. Sabar saja ya.. kita lihat nanti. insyaAllah akan reda selang beberapa hari. Memang kalau tidak hati-hati, batas antara kebencian dan kasih sayang itu tipis. Sabar ya..” aku coba meredakan.

”Kira-kira, siapa yang mengirimklan sms itu ya mas?” tanyanya.

”Aku tak tahu persis. Coba kau tanyakan kepada beberapa orang yang pernah kau ceritakan tentang hal ini,” aku menjawab dengan sebuah rasa yang bercampur.

Dia memang pernah bercerita kepada dua orang temannya selain diriku, keduanya ’bocah’. Dan bahkan salah satunya seolah menjanjikan akan membantu melalui ’jaringannya’. Aku tak mau menuduh. Tapi, jaringan? Apakah semuanya dilakukan tanpa pemahaman akan kondisi manusia yang dihadapi?

Apa semua harus dengan pedang, belati atau tombak? Tidak kah kita melihat, betapa sering Rasulullah berbicara dengan sopan, kepada arab badui atau orang kafir yang banyak melakukan tindakan tidak sopan di depan Beliau. Sampai Umar pun berkali-kali meminta izin Rasul untuk memenggal kepala orang-orang tersebut, dan selalu dilarang. Atau Umar sendiri, yang karena tindakan membebaskan burung yang dikurung seorang anak kecil, dimimpikan berada di surga oleh sahabat mulia setelah beliau wafat, dalam perbincangan antara Utsman atau Ali. Tidak menyakiti manusia bahkan binatang, jika masih ada peluang kebaikan disana.

Tapi saat ini? Bukankah peluang kepahaman itu terbuka? Atau mungkin, karena mereka-mereka mungkin tak pernah merasakan ’tersakiti’. Sungguh, betapa itu tidak mengenakkan. Atau merasakan tidak nyamannya pernah ’menyakiti’ orang lain. Itu pun tak lebih enak dari ’tersakiti’. Hidupnya lurus. Sangat lurus. Dan dunia selalu baik-baik saja bagi mereka. Baik semuanya.

Aku tak tahu manusia seperti apa mereka
Tapi satu aku meminta,
Aku tak ingin seperti mereka

....

-Seperti yang dituturkan seorang teman-
posted by cerita dakwah kampus @ Permalink ¤09:10   1 comments
Tuesday, February 06, 2007
Pada Ashar Hari Kamis Di Akhir Pekan
Indhibath
Alangkah idealnya apabila kita mampu menempatkan diri secara proporsional untuk bergerak bersama-sama kekuatan jama’ah yang ada. Sehingga melahirkan harmoni perjuangan yang bisa mengoptimalkan semua potensi. Meskipun dalam keberjalanannya sebagai gerakan amal, membangun ritme perjuangan yang konstant tidaklah mudah. Ia akan dibenturkan pada keadaan yang sesungguhnya dimana banyak sekali pilihan-pilihan yang terbuka. Dan semuanya itu bebas untuk ditentukan.


Satu hal yang sangat wajar kita temukan pasang surut semangat berjuang para kader dakwah. Tentunya dalam batas-batas tertentu. Ada kalanya mereka bertumbangan dalam kelemahan yang sangat. Menghindar dari segala bentuk kewajiban dengan alasan yang cukup bisa diterima. Walaupun dalam momentum tertentu militansi mereka nyaris total. Namun kali lain seolah kekuatan itu menjelma hanya menjadi riak kecil keikhlasan saja. Yang akan hilang jika waktunya tiba, lenyap ditelan lautan.

Untuk itu kita perlu menciptakan konsistensi agenda dakwah yang termanifestasikan dalam program-program kerja. Sehingga ada keberlanjutan menjaga nafas panjang dakwah ini. Jangan sampai ketidakmauan dan ketidakmampuan kita dalam mengelola momentum dakwah akan memberikan dampak yang sangat luas bagi keberjalanan dakwah kedepannya.

Mengoptimalkan Wajihah
Manifestasi dari dakwah yang sesungguhnya adalah dalam bentuk amal yang nyata. Amal yang kemudian melahirkan pengaruh kebaikan ditengah-tengah masyarakat. Apakah mereka akan mendeklarasikan bergabung dalam barisan ini. Atau hanya menjadi simpatisan saja, minimal mereka tidak antipati terhadap gerakan yang diusung oleh kader-kader dakwah. Yang jelas keberadaan para kader di tataran operasional lapangan akan meneguhkan kembali tentang niat dan cita-cita perjuangan kita. Untuk melakukan transformasi masyarakat yang islami.

Ujung tombak dari manifestasi itu adalah wajihah-wajihah amal. Perwajahan dari dakwah yang diusung para kadernya. Dakwah itu tidak untuk diri sendiri saja, akan tetapi harus ditebarkan sehingga menerangi semesta ini. Wajihah amal akan menjelma menjadi satu representative dari kekuatan para kadernya. Dari kesungguhan tekadnya dan keseriusannya dalam memikul amanah. Wajihah amal akan menjadi basis transformasi di masyarakat maupun dikampus melalui program-program kerjanya. Dan akan menciptakan arus baru melalui peran-peran politiknya.

Disamping itu tidak ada yang menafikan bahwa kematangan diri para kader tidaklah cukup hanya pada rutinitas pekanan dan interaksi sesamanya saja. Tetapi harus konkrit dalam wilayah yang bersentuhan dengan orang banyak. Bergelut dengan dialektika umum dan menyelesaikan problematika social yang ada. Terkadang memang membutuhkan pemikiran yang khusus. Dan kesemua aspek ini dapat di bangun dalam kerangka kita mengoptimalkan wilayah amal social yang ada di kampus.

Apabila wajihah-wajihah yang ada di kampus telah sepi dari syi’ar Islam maka boleh jadi kecil pula sebenarnya kontribusi kita bagi dakwah ini. Jika wajihah ini telah ditinggal oleh para kadernya lantaran memilih kepentingan lain maka boleh jadi akan tergantikan oleh orang lain. Dan kita hanya menjadi penonton yang baik saja. Jika para kader telah mengesampingkan wajihah amal ini dengan alas an kesibukan dan tuntutan-tuntutan lain, boleh jadi sampai kapanpun kita belum siap mengemban amanah pemimpin ummat.

Jawabannya sangat tergantung pada komitmen dan integritas masing kita. Sesudahnya kepada Allah kita kembalikan segenap amal yang telah kita tunaikan.

Penutup
Pada ashar hari Kamis di akhir pekan, seorang kader dakwah seperti dituturkan Imam Hasan Al Banna keluar dari bengkel tempat ia bekerja. Malamnya ia sudah memberikan ceramah di sebuah pertemuan beberapa puluh kilometer dari tempatnya. Esok Jum’atnya ia berkhutbah dengan bagus ditempat lain yang jaraknya juga lumayan jauh. Asharnya ia memberikan pengarahan pada sebuah mukhayyam (camping) yang diikuti ratusan pemuda dari berbagai penjuru.


Malamnya lepas isya ia menyampaikan arahan dalam sebuah dauroh besar. Ratusan kilometer dalam tempo 30 jam ditempuhnya, suatu perjalanan yang melelahkan. Namun esoknya dengan wajah cerah cemerlang dan hati yang tenang, ia telah tiba ditempat kerjanya lebih cepat, tanpa ribut-ribut mengisahkan kerja besar yang baru diselesaikannya. Wallahu’alam bisshawab.


[Wiyono K]

posted by cerita dakwah kampus @ Permalink ¤09:31   0 comments
Thursday, February 01, 2007
Kita, Tempo Hari dan Saat Ini
Sahabat...
pernahkah sesekali kita kenang tempo hari
saat kita tak tahu arah diri
saat kita tak mengerti tujuan hakiki
saat kita tak menikmati rasa berbagi


Lalu...
saat itu hadir menyapa kita
sesosok makhluk yang kita sebut
kakak mentor
mengajari arti ketulusan
berbagi
mengajari arti kehidupan
sejati
mengajari sebuah cara
mengabdi

Tidak kah kita ingin berbagi rasa ini
dengan sosok-sosok lain
yang selalu kita beri identitas
saudaraku seakidah

Lalu...
mengapa betapa kelu lidah ini
untuk berkata

"Saudaraku..., ikutan mentoring yu..."

-DFholic-
posted by cerita dakwah kampus @ Permalink ¤13:48   0 comments

about me
dakwah bukan hanya amanah dan kesempatan, melainkan juga sebuah anugerah. dan karenanya pula manusia berhak untuk menikmati indahnya...
Udah Lewat
Archives
Rosail

"Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh yang maâ??ruf dan mencegah yang munkar dan beriman kepada Allah ..."
(QS. Ali Imran [3] : 110)

"Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik ..."
(QS. An Nahl [16] : 125)

Links
Beranda

Berbagilah, karena cerita ini akan menjadi hikmah bagi saudara kita. jangan kau simpan itu, dan tidak membuat saudaramu merasakan nikmatnya kisahmu...

cerita.dk@gmail.com
subyek: cerita...


Blog ini makin hidup, jika kita menjalin pertisipasi bersama. Seperti halnya sebuah rumah teduh, dengan kicauan burung di berandanya

Komentar

Kontributor
Ingin Menjadi kontributor? Silahkan kirim mail kesanggupan dengan nama jelas.
Kesan

Free shoutbox @ ShoutMix

Now, online visitor(s)
Pengunjung


Cerita Dakwah Kampus

Feed on
Post-rss
Post-default
Comments-default
Designed-By

Visit Me Klik It
Credite
15n41n1