Friday, April 14, 2006
Hidup Adalah Pilihan

Hidup adalah pilihan… kalimat yang masih terngiang ditelinga walaupun seingat saya belum ada orang yang pernah mengatakan hal itu langsung kepada saya. Kata-kata itu saya lihat di salah satu bukom Gamais beberapa waktu setelah amanah yang sangat berat –selama hidup saya- itu ternyata berada di pundak saya. Selanjutnya, sang penulis mengatakan bahwa meskipun hidup adalah sebuah pilihan, namun dakwah adalah sebuah keniscayaan yang akan dimintakan pertanggungjawabannya nanti oleh Sang Maha Pengevaluasi.

Saya adalah seorang anak yang lahir dari keluarga yang memegang tinggi nilai agama walaupun belum sampai tahap pelaksanaan. Buktinya adalah sampai kini ibu, kakak, dan adikku belum berhijab sebagaimana akhwat-akhwat yang sering ada di Salman.

Alhamdulillah, saya dibesarkan dalam lingkungan yang dinamis sehingga jalan hidup saya pun jadi menarik, kalau tidak mau dikatakan buruk. Sebagian besar teman-teman main saya bahkan sudah tidak asing lagi dengan barang haram yang kini sedang marak dipergunakan oleh remaja yang ‘gaul’ atau ‘salah bergaul’. Mulai dari rokok, miras, ganja, pil nipam, pil BK, bahkan heroin sekalipun terkadang bisa menjadi kebutuhan hidup yang harus terpenuhi setiap harinya minimal sampai tingkatan ganja.

Pergaulan bebas antara laki-laki perempuan, perkelahian antar geng yang tidak pernah beralasan, pemalakan, mengamen, bermain band adalah hal-hal yang mewarnai dinamisnya teman-teman saya. Dan beberapa hal yang saya sebutkan di atas pun turut mendinamisasi jalan hidup saya hingga saat itu tiba.

Berawal dari diterimanya saya disalah satu SMU pra Unggulan di salah satu kota besar di Indonesia, perlahan saya mulai meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk yang kalau sekarang saya melihatnya akan dengan perasaan jijik (maaf). Kehidupan di SMU saya jalani dengan menjadi ‘manusia baru’ walaupun tidak betul-betul baru karena saya masih suka pulang malam –hanya untuk bermain- dan masih menjadi salah satu personil group band yang ‘tidak jadi tenar’ di kota tersebut. Orang tua pun cukup cemas melihat perubahan dalam diri saya karena memang aktivitas buruk yang saya lakukan sejak SMP tidak pernah diketahui oleh orang tua.

Kisah itupun terus berlanjut sampai suatu saat orang tua memberi ultimatum keras agar saya lebih mendisiplinkan diri agar lulus di Perguruan Tinggi Negeri. Waktu malam yang biasa saya habiskan di luar untuk bermain bersama teman-teman pun mulai berganti dengan waktu belajar. Sampai-sampai kalau saya sedang bermain, ibu saya biasanya akan menjemput pada jam-jam larut untuk memanggil dan menyuruh saya pulang.

Dan akhirnya, perjuangan saya untuk lulus PTN ditambah doa orang tua (tentunya atas izin Allah SWT) membuahkan hasil yang memuaskan karena pasca itu kehidupan saya berubah hampir 180 derajat (untung tidak 360 derajat). Saya pun diterima di Institut Teknologi Bandung.

Di kampus ini cerita pun berlanjut. Saya diperkenalkan dengan sebuah forum meningkatkan keimanan yang memang baru saya dapatkan di kampus. Mentoring, ya... itulah forum yang telah mengubah tingakh laku, perkataan, dan pemahaman saya tentang islam secara kaffah. Sebagaimana seorang ustadz mengatakan bahwa hidup itu baru terasa setelah ia merasakan islam secara benar.

Awalnya, saya adalah orang yang sangat tidak ingin ikut kaderisasi himpunan. Dan karena itu, saya berusaha untuk mengalihkan kegiatan saya untuk memperbaiki diri dengan mengikuti dua organisasi keislaman -di kampus dan di Salman- yaitu Majelis Ta’lim (Mata’) Salman dan Keluarga Mahasiswa Islam (Gamais) ITB. Maruk ya? Oh tentu tidak karena akhirnya saya memutuskan untuk konsentrasi di Gamais setelah meminta pertimbangan kakak mentor –saat itu adalah mentoring ISC- dalam memilih salah satu dari dua organisasi karena ternyata saya punya keterbatasan kemampuan (iya dong.. saya kan juga manusia kaya Rocker).

Lewat bimbingan mentor yang penyabar itu akhirnya saya bisa belajar banyak tentang dien ini yang dulu saya hanya tahu sedikit. Lewat beliau saya diarahkan untuk bisa beraktivitas di medan dakwah dan menjadi da’i dimanapun saya beraktivitas. Saya ingat ketika pertama kali akan menjadi mentor. Saat itu saya merasa tidak pantas karena saya bukanlah orang yang bersih.namun, beliau mengatakan bahwa sebenarnya dengan menjadi mentor itulah antum akan mempunyai percepatan dalam menjadi baik.

Sementara itu, kegiatan dakwah saya di Gamais dimulai dengan selesainya saya mengikuti pelantikan perintis. Ada nuansa berbeda terjadi pada saya terutama tentang arti sebuah ukhuwah islamiyah yang dulu saya mengenalnya dengan nama solidaritas. Perbedaan yang cukup penting adalah bahwa ukhuwah islamiyah ini tidak memperhatikan status sosial seseorang, tidak memperhatikan darimana ia berasal, kasih sayang yang tercipta lebih dikarenakan cintaNya kepada Allah SWT -bukan yang lain- sehingga cintanya tulus tanpa tendensi apapun yag berkaitan dengan dunia. Itulah yang dikatakan oleh Al-Qur’an

”Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara,...” (Al-Hujurat : 10)

Sejak saat pelantikan di Gamais, saya terus diajarkan tentang ’reality show of dakwah in Allah ways’. Sebuah cerita menarik tentang kehidupan nyata seorang aktivis dakwah. Kehidupan yang memang buka lagi milik pribadi aktivis, tapi memang kehidupan yang diperuntukkan untuk mengedepankan kepentingan umat ini di atas kepentingan pribadi. Kehidupan aktivis dakwah seperti yang pernah digambarkan oleh Imam Syahid Hasan Al-Banna,

Betapa inginnya kami agar umat ini mengetahui bahwa mereka lebih kami cintai daripada diri kami sendiri.

Kami berbangga ketika jiwa-jiwa kami gugur sebagai penebus bagi kehormatan mereka,

jika memang tebusan itu yang diperlukan.

Atau menjadi harga bagi tegaknya kejayaan, kemuliaan dan terwujudnya cita-cita mereka,

jika memang itu harga yang harus dibayar.

Tiada sesuatu yang membuat kami bersikap seperti ini selain rasa cinta yang telah mengharu biru hati kami,

menguasai perasaan kami, memeras habis air mata kami,

dan mencabut rasa ingin tidur dari pelupuk mata kami.

Betapa rasa berat di hati ketika kami menyaksikan bencana yang mencabik-cabik umat ini,

sementara kita hanya sanggup menyerah pada kehinaan dan pasrah oleh keputusasaan.

Sungguh, kami berbuat di jalan Allah untuk kemaslahatan seluruh manusia,

lebih banyak dari apa yang kami lakukan untuk kepentingan diri kami.

Kami adalah milik kalian, wahai saudara-saudara tercinta.

Sesaat pun kami tidak akan pernah menjadi musuh kalian.

Sungguh saudaraku, ini adalah ungkapan yang sangat hebat. Bagaimana tidak, gambaran seorang aktivis memang akan mempersembahkan apa yang ia miliki untuk dakwah ini. Bukan sebaliknya, berusaha untuk memanfaatkan dakwah demi mencapai tujuan pribadinya, naudzubillah tsumma naudzubillah. Layaknya seorang ’penumpang gelap’ dalam kereta dakwah ini yang tentunya bermaksud untuk menghancurkan gerakan dakwah yang mulia ini. Seperti seorang yang menjadikan kereta dakwah ini untuk mencari pasangan hidup, seorang yang menjadikan dakwah ini sebagai sarana mempopulerkan dirinya sehingga dapat menjadi catatan perjalanan hidupnya agar memudahkan dalam mencari kerja, atau tujuan-tujuan dunia lainnya. Ingat !!! Allahu Ghayatuna, Allah tujuan kami.

Ikhwan wal akhwat fillah rahimmakumullah. Perjalanan dakwah yang telah ana ikuti hingga saat ini telah mentarbiyah diri ana bahwa memang dakwah ini memang keniscayaan yang harus ditempuh dalam setiap perjalanan orang-orang muslim. Oleh karena itu, beruntunglah antum yang berhasil tetap berada dijalan ini dan bersama kafilah-kafilah didalam kereta dakwah.

Ikhwan wal akhwat fillah rahimmakumullah. Perjalanan ini pun mengajarkan pada ana pentingnya modal yang cukup, baik secara kualitas ataupun kuantitas. Seperti pentingnya bekal ketika hendak berpergian, seperti itulah pentingnya bekal bagi pejuang dakwah. Bekal itu meliputi keimanan kepada Allah swt, ukhuwah sebagai ikatan diantara para prajurit-Nya, dan amal jama’i sebagai sarana mempercepat pencapaian tujuan.

Ikhwan wal akhwat fillah rahimmakumullah. Ketahuilah bahwa kehidupan di dunia ini hanya sebentar, perbandingannya seperti air yang menetes dari jari tangan kita dan air yang berada di lautan. Kehidupan manusia di dunia ini hanya seperti seorang pengembara yang sedang berteduh di bawah pohon rindang. Lantas, apakah seorang pengembara itu akan berdiam terus di bawah pohon atau menerusan perjalannya hingga mencapai tujuan? Oleh karena itu,

“....’Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin,...’”(At-Taubah : 105)

jemmi gumilar

posted by cerita dakwah kampus @ Permalink ¤16:04  
0 Comments:
Post a Comment
<< Home
 
 

about me
dakwah bukan hanya amanah dan kesempatan, melainkan juga sebuah anugerah. dan karenanya pula manusia berhak untuk menikmati indahnya...
Udah Lewat
Archives
Rosail

"Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh yang maâ??ruf dan mencegah yang munkar dan beriman kepada Allah ..."
(QS. Ali Imran [3] : 110)

"Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik ..."
(QS. An Nahl [16] : 125)

Links
Beranda

Berbagilah, karena cerita ini akan menjadi hikmah bagi saudara kita. jangan kau simpan itu, dan tidak membuat saudaramu merasakan nikmatnya kisahmu...

cerita.dk@gmail.com
subyek: cerita...


Blog ini makin hidup, jika kita menjalin pertisipasi bersama. Seperti halnya sebuah rumah teduh, dengan kicauan burung di berandanya

Komentar

Kontributor
Ingin Menjadi kontributor? Silahkan kirim mail kesanggupan dengan nama jelas.
Kesan

Free shoutbox @ ShoutMix

Now, online visitor(s)
Pengunjung


Cerita Dakwah Kampus

Feed on
Post-rss
Post-default
Comments-default
Designed-By

Visit Me Klik It
Credite
15n41n1